Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mohon Keturunan dan Kesuburan di Pura Celak Kontong

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 19 Juni 2020 | 19:25 WIB
Tempat Mohon Keturunan dan Kesuburan
Tempat Mohon Keturunan dan Kesuburan


PALINGGIH Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih yang terdapat di Pura Dalem Tamblingan, Munduk, Buleleng, oleh masyarakat Catur Desa, kerap disebut Lingga Yoni. Sebutan diberikan karena Lingga Yoni merupakan simbol Phallus dan Vulva. Sedangkan Celak Kontong Lugeng Luwih juga merupakan padanan dari kata Phallus dan Vulva.



Menurut Jero Mangku Kastawa, berdasarkan ukuran, Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih ini dibagi menjadi dua. Yaitu Bagian Celak Kontong (Phallus atau Lingga) berbentuk silinder yang berukuran panjang 24 cm dengan diameter 15 cm. Sedangkan bagian  yang disebut Lugeng Luwih (Vulva-Yoni) merupakan batuan monolit yang memiliki dimensi kedalaman 30 cm, tinggi 90 cm, panjang 150 cm.


Kendati disebut Lingga Yoni, namun Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih disebutnya memang berbeda dengan Lingga Yoni pada umumnya. Sebab, Lingga Yoni di Pura Dalem Tamblingan ini, merupakan batu asli tanpa campur tangan manusia. Letaknya pun sudah menyatu dengan tanah dan sulit dipindahkan.


Secara bentuk, Lingga Yoni ini menyerupai sebuah lumpang batu dengan alu yang telah menancap pada lumpangnya. Namun, jika dilihat dari ukuran lumpang dan alu-nya, sangat tidak mungkin dimanfaatkan sebagai sarana menumbuk bahan makanan.


Sehingga, Lingga Yoni ini dimasukkan sebagai salah satu peninggalan prasejarah dari zaman Megalitik (batu besar). Jika mengacu pada jenis Lingga yang dimuat dalam Siwa Purana, maka Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih di Pura Dalem Tamblingan masuk ke dalam Swayambhuwalingga yaitu jenis Lingga yang ada dengan sendirinya, yang asal usulnya di bumi tidak diketahui. Sehingga masyarakat menganggap Lingga ini yang paling suci dan utama.


“Linggih Lingga Yoni ini sebagai simbol kesuburan, simbol pertiwi-akasa. Jadi, kalau sudah lama menikah, bersuami-istri, tapi belum memiliki keturunan, bisa nunas di Pura Dalem Tamblingan, khususnya di Celak Kontong Lugeng Luwih. Banyak yang sudah membuktikan,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) yang tangkil bertepatan dengan Tumpek Wayang, Sabtu (13/6) pagi,


Dikatakan Mangku Kastawa, banten yang dihaturkan di Pura Dalem Tamblingan disesuaikan dengan kemampuan pamedek. Bisa membawa pajati maupun persembahan lain. “Pajati bisa. Bawa haturan suku pat seperti babi guling, ayam bisa. Tetapi pengecualian daging sapi, itu tidak boleh,” bebernya.


Pemujaan Lingga Yoni di Pura Dalem Tamblingan, sebut Mangku Kastawa, biasanya kerap dilakukan bila hujan tidak kunjung turun pada musimnya. Teknisnya, krama subak terlebih dulu berkumpul untuk paum (berdiskusi) membahas persoalan kekeringan.


Setelah itu, krama subak kemudian menghadap pemimpin Catur Desa saat ini yang merupakan keturunan Raja, yakni I Gusti Agung Ngurah Pradnyan atau Gusti Manca Warna untuk menyampaikan keinginan memohon hujan di Pura Dalem Tamblingan. Setelah itu, krama subak wajib mempersembahkan banten atau sesajen di Pura Dalem Tamblingan.


Banten yang digunakan seperti sesayut aparangkat, sesayut ngeleb, sesayut tumpukan atumpuk, dupa taksi canang daksina apasang, penyeneng penyarikan atumpuk, penyeneng penyarikan tayan taenan, gula kelapa ategen, peras berbentuk purusa pradana.


“Dudonannya adalah dengan mengambil air Danau Tamblingan 11 kali, kemudian air disiramkan pada Lingga yoni. Setelah itu, pemimpin adat menggoyang-goyangkan bagian Lingga yang menyembul ke luar. Masyarakat di Catur Desa Adat Tamblingan sangat percaya, bila Lingga digerakkan dari Yoni tempatnya tertancap, maka akan menimbulkan hujan,” pungkasnya. 


 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya