Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade Tokoh Pendiri Desa Banjar

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 4 Juli 2020 | 14:27 WIB
Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade Tokoh Pendiri Desa Banjar
Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade Tokoh Pendiri Desa Banjar

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sejarah berdirinya Desa Banjar di Buleleng tak terlepas dari tokoh Raja Rsi Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade, yang jadi pendiri Geriya Gede Banjar. Tempat ini sangat diperhitungkan di masa penjajahan Belanda karena spirit perjuangan Ida Made Rai yang disebut 'Sura Magadha' 152 tahun silam

Ida Bagus Wika Krishna, yang merupakan generasi kelima pemimpin Perang Banjar, Ida Made Rai, membeberkan sejarah berdirinya Desa Banjar.Ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Geriya Gede Banjar, kemarin, pria yang akrab disapa Gus Wika ini,  menuturkan, berdirinya Desa Banjar tidak dapat dipisahkan dari sosok Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade. " Lewat beliaulah hutan ilalang dirabas menjadi pemukiman yang kini dikenal sebagai Desa Banjar," terangnya.

Mantan Pembimas Hindu DIY Yogyakarta ini menceritakan, berdasarkan penuturan para pendahulunya, sejarah terbentuknya Desa Banjar sebagai Ibu Kota Buleleng Barat atau Nagari Banjar, tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kerajaan Buleleng oleh Ki Gusti Ngurah Panji Sakti atau yang lebih populer dengan sebutan Ki Barak Panji Sakti. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti merupakan keturunan dari Dalem Sagening, dari seorang ibu yang bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari Desa Gobleg. 

Berdirinya Kerajaan Buleleng yang diperkirakan sekitar tahun 1604 Masehi inilah, memiliki korelasi dengan Danghyang Wiragasandhi. Dimana salah satu putranya, yakni Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade menjadi cikal bakal berdirinya Desa Banjar. 

Pasca berdirinya Kerajaan Buleleng yang dipimpin Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, Kerajaan Kelungkung sebagai sesuhunan Bali-Lombok dipimpin Raja I Dewa Pemayun atau yang lebih populer dalam masyarakat Bali dengan sebutan Dalem Bekung. 

Pada masa pemerintahan I Dewa Pemayun, didampingi seorang purohita yang bernama Danghyang Wiraga Sandhi. Beliau merupakan putra tertua dari Danghyang Nirartha.

Dalam beberapa catatan sejarah dan babad, pemerintahan I Dewa Pemayun rupanya tidak berjalan dengan baik. Bahkan, cenderung tidak sejalan dengan pemikiran Danghyang Wiraga Sandhi sebagai penasihat spiritualnya. “I Dewa Pemayun dengan Dang Hyang Wiraga Sandi tidak memiliki kecocokan dalam konteks pemikiran,” ujar Gus Wika.

Perselisihan tersebut berujung Danghyang Wiraga Sandhi memutuskan untuk kembali ke Jawa. Dalam perjalanannya pulang ke Jawa, Danghyang Wiragasandhi, sebut Gus Wika, hanya diiringi empat putranya. Yakni Ida Pedanda Sakti Bukian, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade, Ida Pedanda Sakti Kamenuh, dan Ida Pedanda Sakti Bukit. Sedangkan istri dan putra bungsu Danghyang Wiragasandhi, yaitu Ida Pedanda Sakti Ketandan ditinggalkan di Gelgel.

Dalam perjalanan menuju Jawa, rombongan Danghyang Wiragasandhi melewati Desa Gobleg, Buleleng. Di desa itu, Danghyang Wiragasandhi secara tidak sengaja bertemu dengan Ki Pasek Gobleg, yang tak lain sahabatnya. 

Karena memiliki kedekatan, rombongan Dang Hyang Wiragasandhi kemudian dibujuk Ki Pasek agar mengurungkan niatnya pulang ke Jawa. Rombongan diminta menetap di Taru Pinghe yang sekarang menjadi Desa Kayu Putih.

Sebab, Dang Hyang Wiragasandhi diminta untuk berkenan diangkat sebagai pandita suci dan pimpinan adat. Atas permintaan Ki Pasek Gobleg, akhirnya Danghyang Wiragasandhi berkenan untuk menetap di Taru Pinghe dan bersedia sebagai Bhagawanta Kerajaan Buleleng.

Singkat cerita, putra pertama Dang Hyang Wiragasandhi bernama Ida Pedanda Sakti Bukian diminta Raja Mengwi sebagai Bagawanta. Sedangkan, putra keduanya, yakni Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade selanjutnya diminta membuka lahan baru sebagai pusat pemerintahan.

Lahan yang dibabatnya adalah hutan yang penuh ditumbuhi ilalang. Sehingga secara etimologis, banjar itu berasal dari kata 'Baa' yang berarti api dan 'Anyar', berarti percikan api yang menyala-nyala dari pohon ilalang yang kering.

Hal paling pertama dibuat adalah Prapat Agung (Catuspata) untuk menentukan titik kesucian (madhyaning ikang bhuwana) dan pusat pertemuan kelima arah sebagai titik pangubengan Panca Dewata, dan akhirnya mendirikan pasraman di sana, yang kemudian disebut Geriya Gede Banjar. “Griya Gede sebagai titik nolnya. Yang pertama dibangun adalah Prapat Agung sebagai orientasi arah,” imbuh Gus Wika.

Lambat laun, Nagari Banjar kian terkenal. Sosok Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade yang memiliki tingkat spiritual tinggi menyedot perhatian banyak sulinggih dari tanah Jawa untuk datang ke Banjar. “Beliau mengalami kisah gaib, sehingga banyak pendeta dari Jawa datang ke Banjar dan menguji kekuatan, kesaktian beliau. Sehingga setelah dikenal, ramailah yang bermukim di Banjar,” jelasnya.

Oleh Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti, wilayah Nagari Banjar ini menjadi Ibu Kota Buleleng Barat, yang mewilayahi sejumlah daerah. Mulai dari Temukus hingga Teluk Terima. Semenjak itulah Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade ngagem (mengemban) dua swadharma. Yakni istilah lokalnya Ngeraja Rsi. “Artinya seorang pendeta, tetapi juga sebagai penguasa wilayah. Kalau dalam teks lontar dan sejarah disebut dengan Manca Siwa Agung. Beliau menjalankan dua swadharma itu. Beliaulah yang membangun Desa Banjar,” bebernya.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade kemudian dibuatkan Arca Raja Rsi, yang disimpan di Palinggih Pajenengan, Merajan Geriya Gede Banjar, yang terletak di Dusun Melanting, Desa/Kecamatan Banjar.

“Di Merajan Geriya Gede Banjar ada Palinggih Pajenengan yang di dalamnya terdapat tiga Padma. Dalam konteks Ista Dewata disebut Tri Purusa, yakni Siwa, Sada Siwa, dan Paramasiwa. Tapi, secara langsung juga digunakan untuk menstanakan roh-roh suci dari peranda yang sudah lebar (meninggal). Di sinilah Arca Raja Rsi distanakan,” pungkasnya. 

 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya