Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Dalem Panunggekan ; Ada Gegumuk Misterius dan Pohon Obat (2)

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 15 Juli 2020 | 21:13 WIB
Pura Dalem Panunggekan ; Ada Gegumuk  Misterius dan Pohon Obat (2)
Pura Dalem Panunggekan ; Ada Gegumuk Misterius dan Pohon Obat (2)

BANGLI, BALI EXPRESS - Selain terdapat relief, keberadaan Pura Dalem Panunggekan juga menyimpan beberapa cerita unik lain. Seperti dipercaya tempat nunas taksu, mohon tamba (obat) hingga keberadaan gegumuk (gundukan tanah) di nista mandala yang dipercaya menyimpan kekuatan magis.



Piodalan di Pura Dalem Panunggekan, Banjar Adat Blungbang, Desa Adat Kawan, Bangli, bertepatan dengan Anggarkasih Tambir. Piodalan tiap enam bulan itu, tidak hanya dipadati krama Blungbang. Namun banyak pula warga dari luar. Bahkan, banyak warga di luar pangempon nangkil tidak saat piodalan saja. Seperti kajeng kliwon maupun rainan lainnya.


Hal itu tidak terlepas dari kepercayaan bahwa Pura Dalem Panunggekan merupakan tempat nunas taksu (mohon aura magis). Sejumlah sanggar seni mohon supaya sanggarnya bisa berkembang. Pun demikian dengan seniman, banyak nunas taksu di pura setempat. “Itu dari dahulu. Sampai sekarang tetap diyakini. Kami tidak pernah promosi. Ada yang mau jadi dalang, pemain drama gong, nunas taksu di Pura Dalem Panunggekan,” tutur Klian Banjar Blungbang, I Putu Rupadana  kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya beberapwa waktu lalu.  Tak sedikit pula, seniman tari yang telah sukses di bidang seni bayar kaul di sana, baik dalam bentuk banten maupun sarana upacara. “Ada yang ngaturang perlengkapan di pura,” sambungnya.


Selain dipercaya tempat nunas taksu, keberadaan pura tersebut erat kaitannya dengan pengobatam. Terdapat pohon kepah dan kepuh di nista mandala. Dua pohon inilah tempat orang nunas tamba. Tak dipastikan sejak kapan dua pohon tersebut tumbuh di sana dan dipercaya tempat nunas tamba. Sama halnya dengan mereka nunas taksu,  orang-orang yang mohon obat banyak dari luar pangempon. “Entah tahu dari yang sudah sembuh, sugesti atau dapat pawisik, kami tidak tahu. Tiba-tiba datang nunas tamba,” terang Rupadana.


Senada diungkapkan Jro Mangku Dalem Panunggekan,82, pihaknya tidak tahu pasti, tiba-tiba ada pamedek datang nunas tamba. Ia juga hampir tidak pernah menelisik sakit yang diderita orang bersangkutan. “Kalau bilang mau nunas tamba, iya saya sampaikan ada pamedek nunas tamba,” jelas Jro Mangku ditemui di pura setempat belum lama ini.


Jro Mangku yang sudah ngayah di pura setempat sejak usia 11 tahun itu, menyebutkan, pohon kepah dan kepuh sudah menjadi tempat nunas obat secara turun temurun sejak zaman dahulu. “Ini pohon langka. Tumbuh berdampingan kepah dan kepuh. Biasanya kalau kepah, kepah saja. Kepuh kepuh saja. Di sini kepah dan kepuh,” jelasnya.


Di samping itu, terdapat sebuah gundukan besar di selatan pohon kepah dan kepuh. Masyarakat setempat menyebutnya gegumuk ageng. Belum bisa dipastikan apa isi dalam gegumuk tersebut. Pun demikian dengan usianya. Sebatas diketahui bahwa areal gegumuk dahulunya adalah setra (kuburan).


Belakangan, lahan itu tidak dimanfaatkan lagi sebagai setra (makam). Setra yang dimanfaatkan berada di sisi timur gegumuk, seberang jalan. Gegumuk tersebut dipercaya menyimpan kekuatan magis. Salah satunya mampu ‘menyedot’ batu permata bertuah. Kepercayaan itu secara turun temurun berdasarkan cerita tetua di sana dan pengalaman sejumlah orang. Termasuk  Jro Mangku sendiri pernah mengalami kehilangan permata mirah banyu.


Diceritakannya, hal tersebut terjadi saat ada upacara di sana. Sebagai pamangku, Jro Mangku beberapa kali melintas di areal gegumuk. Tanpa ia sadari ternyata cincinya tanpa mirah. “Iya, hilang, saya dapat pawisik sudah hilang di sini (gegumuk),” ungkapnya. Hingga saat ini, tidak ada tahu persis apa yang terkandung dalam gegemuk itu sehingga bisa ‘menyedot’ permata.


Masih berdasarkan cerita tetuanya, Jro Mangku menuturkan bahwa pada zaman penjajahan Belanda, gegumuk sempat mau dibongkar oleh pemerintah Belanda. Ditukar dengan sejumlah uang. Pemerintah Belanda berencana membongkar dengan kedalaman yang sama dengan ketinggiannya. Namun tidak mendapat izin dari pangempon Pura Dalem Panunggekan. “Mungkin saja Belanda waktu itu sudah tahu apa ada dalam gegumuk ini,” tandas Jro Mangku.


 


 

Editor : I Komang Gede Doktrinaya