Keris Pengenteg Jagat yang dipasupati bertepatan Hari Tumpek Landep oleh Pasraman Pasir Ukir memiliki khasiat beragam. Mulai dari untuk memohon kesembuhan, rejeki hingga jabatan.
I PUTU MARDIKA, Buleleng
KETIGA keris keramat sebagai simbol Trimurti itu memiliki ukuran yang bervariasi. Mulai dari yang kecil dengan luk 3 memiliki panjang sekitar 25 centimeter dan lebar lima centimeter. Sedangkan Keris kedua yang lebih besar memiliki jumlah luk 5 dengan panjang sekitar 40 centimeter dan lebar 5 centimeter. Sedangkan yang paling spesial adalah keris ketiga dengan ukuran paling besar dan panjang sekitar 1 meter dan lebar 20 centimeter.
Dijelaskan Jro Tapakan Kadek Satria, kekuatan tiga keris itu disebabkan lantaran dibuat dari kayu gaharu atau majegau. Ia menyebut, pohon majegau adalah pohon yang disucikan bagi masyarakat bali aga. Dulu, sebelum masyarakat setempat mengenal dupa, kegiatan ritual keagamaan kerap menggunakan kayu majegau sebagai pasepan.
“Sehingga ada istilah menyan majagau pasepan. Dan sampai saat ini kepentingan ritual. Asap majegau yang dibakar memberikan vibrasi positif dalam pendakian spiritual,” ujar Jro Satria kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Tak hanya meyakini dari sisi niskala, Jro Satria bahkan menanyakan langsung khasiat asap dari kayu majegau kepada ahli kimia. Dari penjelasan ilmiah yang ia terima, asap tersebut memiliki kandungan antioksidan tinggi yang bisa membunuh bakteri, virus yang orang Bali kerap menyebutnya dengan sasab merana.
“Secara niskala, menyan majagau yang dibakar adalah pertemuan antara Tri Murti. Brahma adalah api, wisnu adalah kayu dan iswara adalah asapnya. Asap inilah yang memberikan efek positif, kesehatan, rejeki, karir meningkat,” imbuhnya.
Jro Satria menambahkan, orang yang pernah nangkil ke Pasraman Pasir Ukir disebutnya memang tujuannya untuk berobat. Sudah banyak orang disebutnya sembuh melalui pasepan kayu majegau yang disertai sepit semprong.
“Yang lumpuh bisa berjalan. Inilah keyakinan. Saya hanyalah sebagai tapakan beliau dan tidak memiliki kemampuan menyembuhkan. Tetapi jika beliau berkenan, maka pasti diberikan kesembuhan, rejeki maupun karir yang meningkat,” jelasnya.
Dijelaskan Jro Satria keris luk 21 itu juga diisi ukiran berupa barong dan kerep polos lambang Purusa dan Pradana (laki-perempuan). Selain itu keris juga dilengkapi ukiran karakter Tualen. Menurut kepercayaan Bali Aga karakter Tualen itu diberi nama Dewa Bagus Manik Dalang.
Jro Satria menyebut, Tualen diindentikkan sebagai penyudamala, penyapsap atau membersihkan penyakit, penyerut yang berarti membersihkan, penyudra atau menyucikan dan penyangling berarti menyucikan agar menjadi lebih suci.
Setelah dipasupati, tiga keris perlambangan Brahma yang memiliki luk 3, wisnu dengan luk 5 dan Siwa dengan luk 21 diyakini memiliki fungsi yang berbeda. Keris luk 3 dipakai untuk pengobatan berbagai macam penyakit. Sedangkan keris luk 5 sebagai lambang kesuburan dipakai untuk menyelesaikan masalah krama yang sedang kesusahan menata karir dan rejeki. Kemudian Keris luk 21, merupakan kekuatan pamungkas yang akan dikeluarkan jika dalam pengobatan atau penanganan tidak mempan menggunakan dua keris yang lebih kecil.
Luk 21 itu sebut Jro Satria memiliki makna filososis yang sangat dalam. Luk 21 melambangkan sapta patala, sapta loka dan sapta cakra. Jadi luk 21 itu artinya penyatuan antara alam bawah, tengah dan atas. Sehingga lengkap menjadi anugerah bagi semua orang.
“Saya berharap setelah dipasupati kedepanya bisa memberikan peneduh dan kebermanfaatan pada masyarakat. Saya hanya sebagai tapakan, belaulah yang memberikan kesembuhan dan anugerah,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra