Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Desa Kenderan Berawal dari Istana Dewa Indra

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 13 Agustus 2020 | 16:41 WIB
Kisah Desa Kenderan Berawal dari Istana Dewa Indra
Kisah Desa Kenderan Berawal dari Istana Dewa Indra

GIANYAR, BALI EXPRESS –Setiap desa memiliki sejarah masing-masing. Seperti juga Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar  yang  nama desanya diambil dari asal usul Istana Dewa Indra yang kerap disebut Keindraan. 


Meski belum adanya lontar yang bisa dijadikan patokan untuk menguatkan muasal nama itu, namun  warga meyakini nama itu sebagai latar belakang berdirinya Desa Kenderan saat ini.


Perbekel Kenderan, I Dewa Gede Jaya Kesuma, menjelaskan, secara umum masyarakat setempat memang mengidentifikasikan nama Desa Kenderan dengan Keindraan,  yaitu Istana Dewa Indra dalam dunia pewayangan. Sehingga lambang desa tersebut ditempatkan gambar Dewa Indra sebagai atribut pokok. 


“Kepercayaan masyarakat ini sudah berurat berakar, sehingga letak geografis desa, kesuburan dan keindahan desa diamajinasikan sama dengan Keraton Dewa Indra di Indraloka,” paparnya, pekan lalu.


Dikatakannya, terdapat dua lokasi yang perlu mendapat perhatian untuk mengawali  proses sejarah Desa Kenderan. Lokasi tersebut adalah Patirtaan Telagawaja dan Desa Manuaba. Sebab, nama Manuaba sering dikaitkan dengan nama-nama desa sekitarnya yang juga memakai nama manuk atau burung sebagai nama desa.


“Misalnya Manukaya (Tegallalang) yang artinya burung besar. Nama Manuaba diperkirakan terdiri atas kata Manuk dan Aba. Manukhaba menjadi manuhabha yang artinya burung indah dan berwibawa,” sambungnya.


Jaya Kesuma menyampaikan, yang perlu diketengahkan praduga beberapa orang arkeologi tentang Manuaba sejak dahulu sebagai pemukiman.


Di Desa Manuaba ditemukan serpihan alat pencetak Nekara perunggu. Rekontruksi imaginatif terhadap penemuan itu, lanjutnya, memberi petunjuk bahwa alat cetak tersebut ada hubungannya dengan  Nekara perunggu yang ada di Pura Penataran Sasih di Pejeng. 


Dari ukurannya mendekati setara, sehingga arkeologi memperkirakan Nekara perunggu di Pejeng dan di Desa Manuaba adalah salah satu alat cetak yang sezaman.


Sedangkan Patirtaan Telagawaja disebut memberikan petunjuk bahwa tempat tersebut merupakan sebuah pertapaan. “Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya ceruk-ceruk untuk bersemedi. Ceruk untuk beristirahat, pancuran mandi dan pancuran air suci. Pada bibir ceruk yang paling besar terdapat relief yang berbentuk huruf. Bentuk huruf ini diperkirakan sezaman dengan huruf yang paling besar yang terdapat pada bibir Goa Garba di Desa Pejeng,” terang pria asli Kenderan tersebut.


Sehingga bukti-bukti tersebut, lanjutnya, memberikan petunjuk bahwa Telagawaja yang terletak di tepian barat Desa Kenderan sejak abad XI merupakan aktivitas  keagamaan yang dapat dipastikan berpengaruh pada masyarakat setempat zaman itu. 


Diceritakan juga pada abad XVII kepemerintahan Dalem Di Made yang berstana di Gelgel, telah datang ke Manuaba seorang pendeta bernama Pedanda Sakti Buruan.


“Beliau dikenal dalam cerita rakyat sebagai seorang pendeta yang mengutamakan kehidupan religius, mengabdi pada kesejahteraan masyarakat. Hal itu nampak jelas dengan peninggalan beliau  di Desa Manuaba berupa sebuah pura dan sebuah bendungan,” paparnya.


Dikatakannya, memang sulit untuk mengetahui dengan jelas apa dasar dan tujuan kedatangan Sang Pendeta ke Desa Manuaba. Ada satu kemungkinan bahwa kekunaan Desa Manuaba dan kegiatan religius di Telagawaja, telah menarik Sang Pendeta untuk ikut bermukim di Desa Manuaba.


Sebab, salah satu kegiatan beliau yang dapat diwarisi sampai saat ini adalah bidang pertanian. Seperti bendungan, sistem pengairan, sistem pemilihan bibit dan penanaman, dan sistem kepercayaan yang berhubungan dengan pertanian.


“Dalam bidang peribadatan, beliau membangun sebuah pura yang kemudian diberi nama Pura Geria Sakti. Nama ini mengingatkan pada kesaktian Sang Pendeta dan kemampuannya dalam banyak bidang keahlian yang diabdikannya kepada masyarakat,” sambungnya lagi.


Integrasi dengan  masyarakat pun berlangsung dengan sangat mendalam, sehingga berbentuk suatu ikatan yang sangat mendasar. Beberapa bukti antara lain nampak dalam gejala sosial yang memperlihatkan bagaimana proses integrasi terjalin dengan baik.


Dikatakan beliau memakai nama Desa Manuaba sebagai atribut yang harus dipakai oleh keturunannya. Maka terbentuklah klan Manuaba dalam lapisan masyarakat Brahamana di Bali.


Sementara bukti yang kedua adalah sebuah pura tempat Sang Pendeta setiap hari melakukan puja kepada Tuhan. Pura itu sekarang dianggap pura milik masyarakat, dan terkenal dengan Pura Geria Sakti Manuaba. Beberapa keistimewaan yang terdapat pada sistem kepercayaan dan upakara di pura tersebut, menunjukkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap Sang Pendeta.


“Untuk di Desa Kenderan sendiri  luasnya sekitar  718 hektare, dan terbagi atas 10 banjar yang ada. Mulai dari Banjar Dukuh, Pinjul, Kepitu, Kenderan, Gunaksa,Tengah, Triwangsa, Tangkas, Pande, dan Banjar Delod Blungbang,” tandasnya.



 



Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#gianyar