GIANYAR, BALI EXPRESS – Pegunungan Kitamani, Kabupaten Bangli, khususnya Batur, sejak dahulu dinobatkan sebagai salah satu pusat orientasi hidup manusia Bali.
Salah satunya adalah hubungan Batur dengan Ubud yang telah ada sejak zaman dahulu hingga kini. Hal itu diungkapkan Jero Penyarikan Duuran Batur saat acara rembug sastra di Ubud, Gianyar, pekan kemarin.
Dikatakan Jero Penyarikan Duuran, Ubud dan Batur dapat dilihat dari perspektif teks dan kesejarahan. “Secara fisik, Kaldera Batur merupakan penampang kawasan yang menjadi salah satu sumber resapan air penting bagi Bali. Bahkan, danau yang terletak di dasar Kaldera Batur ini merupakan danau terbesar di Bali, dimana aliran airnya dipercaya menyebar dan menyusui sebagian kawasan Pulau Dewata,” jelas alumnus Prodi Sastra Kuno Unud tersebut.
Keindahan penampang fisik Kintamani mendukung pencapaian pengalaman-pengalaman batin yang halus. Di masa silam, tempat inilah yang mengemuka dalam salah satu piagam Bali Kuno sebagai sebuah universitas rohani bernama Bukit Cintamani.
Raja di masa silam mengukuhkannya menjadi wilayah yang didedikasikan sebagai asrama para biksu penjaga tiang dharma. Pada abad modern, kawasan ini menjelma menjadi destinasi wisata andalan Bangli.
Kawasan Kintamani telah dimasukkan dalam peta jalur wisata utama Bali oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak 1914. Kala itu, rute wisata utama Bali bahkan belum melalui Ubud.
Namun, ketika seabad kemudian, perkembangan pariwisata Ubud jauh melesat lebih progresif. Kondisi ini terkait dengan persoalan manajemen. Meskipun hidup ala kadarnya selama beberapa tahun ke belakang, roh wisata Kintamani sejatinya belumlah padam.
“Ini terbukti selama pandemi Covid-19 menyebar sejak awal 2020. Ketika ritme pariwisata Bali melesu, pariwisata Kintamani justru tampak tetap menggeliat," paparnya.
Suguhan keindahan alamnya mampu menjadi 'obat penenang' atas keresahan orang-orang yang dibayangi keganasan virus Korona. "Pada titik ini, pemahaman wisata bukan semata-mata pencarian kesenangan, tetapi sebagai pencarian ketenangan jiwa,” sambungnya.
Lantas, apa hubungannya dengan Ubud? Dijelaskannya bahwa dari Batur ke Ubud sempat adanya badai abu vulkanik dan aliran air. Keterikatan Batur dan Ubud pertama-tama dapat dijejak melalui keterikatan ekologisnya.
Dari sudut pandang Ilmu Geologi, jalinan Batur-Ubud (Bali Tengah) telah tersambung sejak puluhan ribu tahun lalu melalui endapan vulkanik Gunung Batur Purba ke arah Selatan.
“Keterikatan kedua kawasan ini pun dapat dibaca melalui endapan-endapan material vulkanik yang membangun kawasan Ubud dan sekitarnya, serta jejaring aliran air yang mengalir dari Batur menuju daerah Bali Tengah,” ungkapnya.
Sedangkan di sisi lain, Pura dan Puri setelah relasi ekologi, relasi Batur-Ubud dapat dilihat melalui aspek keterjalinan pawongan.
Ubud sebagai salah satu kerajaan yang sempat berkuasa di Bali Tengah. Penguasa daerah dalam istilah yang arkais disebut Sang Mawa Bumi. Capaian penguasaan atas sebagian 10 tanah Bali itu kemudian melahirkan tanggung jawab pada Batur sebagai salah satu titik orientasi spiritual manusia Bali.
“Puri Ubud memiliki peran yang besar dalam pembangunan Pura Ulun Danu Batur pada masa pasca relokasi 1928. Konon, tokoh Puri Ubudlah yang menjadi salah satu sosok yang menentukan pemilihan dan pembangunan pura saat ini. Di dalam formulasi peradaban Bali, Pura dan Puri tidak dapat dipisahkan," jelasnya.
Dikatakannya, keberadaan Pura berangkat dari pemuliaan atas elemen-elemen ekologi yang dipandang memberi manfaat kepada kehidupan manusia. "Elemen-elemen ekologi inilah yang selanjutnya diwujudkan dalam berbagai simbolisasi para dewa,” tegasnya.
Hal itu didasari dengan adanya sebuah teks Usana Bali dan berbagai teks variannya menyatakan hal tersebut secara jelas. Di dalam uraiannya tentang dewa-dewa yang berstana dan menjaga Bali, selalu dikaitkan dengan keberadaan gunung atau aspek-aspek ekologi.
Penyimbolan tersebut jelas berangkat dari fungsi dan manfaat gunung dan unsur ekologi lainnya dalam kehidupan sehari-hari, sebagai sumber penghidupan yang harus dijaga kelestariannya.
Selanjutnya, gunung diterjemahkan dengan lebih filosofis sebagai sebuah lingga. Akhirnya, entitas Pura yang awalnya digambarkan begitu nyata lahir sebagai sesuatu yang abstrak, niskala, tak kasat mata. Sementara itu, Puri merupakan ruang pemerintahan. Dari dalam purilah kehidupan manusia diputar menurut jalur yang patut.
“Puri menjadi pusat dari putaran peradaban karena berbagai kebijakan muncul dari Puri. Di era kemerdekaan, sebagian besar peran Puri tergantikan oleh pemerintah. Namun, bukan berarti pamornya hilang karena saat ini Puri lebih terarah sebagai lembaga yang menjaga keberlangsungan budaya Bali,” imbuh Jero Penyarikan Duuran Batur.
Sementara tokoh muda Ubud sekaligus Pangempon Pura Gunung Lebah, Tjokorda Gde Dharmaputra Sukawati, menuturkan, melihat air, negara dan tradisi dalam bingkai romantisme Batur dengan Ubud.
Ia menyampaikan Ubud sebagai sebuah desa telah berkembang cepat menuju sebuah Kawasan Elite Pariwisata Nasional dengan segudang prestasi kelas dunia yang diraihnya.
“Kesuburan areal pertanian di Ubud tentu tidak bisa dipisahkan dari keberadaan air yang berlimpah serta 'pasuecan Ida sane maduwe toya ( anugerah dari yang berkuasa terhadap air). Ada pula pandangan para tetua Desa di Ubud yang mengistilahkan Ubud sebagai anak emas Batur. Kalimat tersebut sangat membekas dalam sanubari masyarakat Ubud kebanyakan dari dahulu," paparnya.
Jika berbicara mengenai Batur, lanjutnya, tentu yang ada dalam pikir kita adalah Danau, Gunung, dan Pura Ulun Danu Batur.
Dijelaskan juga, Ubud sebagi sebuah kawasan pedesaan yang agraris secara historis, tentu dibuktikan dengan banyaknya keberadaan Pura Panyiwian sebagai simbol pemujaan sawah dan tegalan.
Penyebutan Pura dengan nama Pura Ulun Suwi, Pura Empelan, Pura Subak, Pura Masceti, Pura Sakenan, dan Pura Alas Arum, banyak sekali tersebar di wilayah kepunggawaan Ubud di zamannya.
Pada zamannya dahulu, pusat kerajaan berperan aktif dalam pembangunan dan perawatan dam (dam utama), saluran irigasi serta upacara-upacara terkait dengan irigasi di beberapa Pura.
Keterlibatan penguasa dalam pengelolaan sumber daya air dipandang sebagai sebuah perhatian utama terhadap keberadaan air yang menentukan keberlangsungan kehidupan masyarakat dan kerajaan itu sendiri.
“Jika kita melihat pada bingaki Ubud sebagai sebuah wilayah kepunggawaan di zamannya, maka terlihat jelas perhatian yang besar terhadap keberadaan aci-aci di Pura Pemujaan yang bersentuhan dengan subak, seperti Pura Gunung Lebah, Pura Sakenan (di Desa Adat Ubud), Pura Ulun Danu (di Penestanan), Pura Masceti (di Sayan), dan Pura Tirtha (di Negari),” terangnya.
Mengenali Ubud, lanjut Tjokorda Gde Dharmaputra Sukawati, sesungguhnya secara tidak langsung berjelajah mendalami Batur sebagai sebuah daerah yang kental akan hak pemilikan tanah, sumber air dan tradisi yang selalu menjiwai napas masyarakat pertanian di Bali, termasuk di Ubud.
"Segala bentuk limpahan hasil bumi dipercayai bersumber dari anugerah Ida Bhatari Batur. Melalui pendekatan ilmiah terlihat jelas bahwa peta aliran sungai Yeh Oos dan Ayung yang mengairi sebagian besar kawasan pertanian Ubud, bersumber dari Kawasan Danau Batur," terangnya.
Pura Gunung Lebah yang diulas dalam Teks Bhuwana Tatwa Maharsi Markandya pun menyebutkan bahwa desain pemujaan Gunung Lebah yang dibangun adalah untuk memuja kebesaran Ida Bhatari Batur sebagai Dewi Kemakmuran.
Keberadaan Pura Gunung Lebah sebagai hulu dari perkumpulan subak yang menerima manfaat dari aliran Tukad Yeh Oos, diikat dalam ikatan tradisi dan aturan yang diatur oleh sebuah Negara.
“Walau tak sepenuhnya sama seperti era lalu dikarenakan memasuki zaman Republik, namun harmonisasi dalam bingkai Pura, Puri, Para, Pari, dan Purana di Ubud, telah mampu menyiratkan adanya nilai-nilai romantisme antara Ubud dengan Batur hingga saat ini,” tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya