SINGARAJA,BALI EXPRESS-Berbagai cerita mewarnai perjalanan Kota Singaraja sejak didirikan Anglurah Ki Barak Panji Sakti hingga saat ini. Demikian juga dengan sejumlah peninggalan yang tentunya menjadi keunikan tersendiri. Seperti halnya Al-quran yang berada di Masjid Agung Jami Singaraja, yang merupakan hasil karya keturunan generasi ke-6 Raja Buleleng.
Tidak berbeda jauh dengan penampilan sejumlah Al-quran hasil tulisan tangan lainnya. Kitab suci umat Islam yang kini masih tersimpan rapi di Masjid Agung Jami Singaraja ini, merupakan kebanggan bagi warga muslim di Singaraja. Al-quran yang ditulis pada tahun 1820 itu, merupakan tulisan tangan keturunan generasi ke-6 Panji Sakti bernama Gusti Ngurah Jelantik Celagi.
Dewan Pembina Yayasan Masjid Agung Jami Singaraja, Haji A. Mochlis Sanusi menuturkan, keberadaan kitab suci Al-quran tersebut tidak lepas dari perjalanan sejarah Kerajaan Buleleng awal abad ke-18.
Diceritakan, ketika itu sedang terjadi perebutan kekuasaan antara Raja Karangasem dengan Raja Buleleng. Perebutan yang kemudian berimbas dengan tercerai-berainya keluarga Raja Buleleng. Salah satunya Gusti Ngurah Jelantik Celagi. Keturunan generasi ke-6 Panji Sakti tersebut memilih mengungsi ke Masjid Keramat di Kampung Kajanan saat ini.
“Menurut yang saya dengar, Al-quran ini memang cerita lanjut dan diakui keturunan puri. Ketika itu, ada seorang keturunan raja yang pada saat raja-raja Karangasem menyerang Puri Buleleng, dia mengungsi ke Masjid Keramat di Kampung Kajanan, karena dia memiliki sahabat (pemeluk) Islam disini,” ucapnya.
Selain itu, pada tulisan babad Buleleng yang ada di Gedong Kirtya disebutkan, ditampung oleh imam Masjid Keramat di Banjar Bali. Nah, sosok imam Masjid Keramat itu pun ada yang menyebut dengan Haji Ali, dan ada yang juga yang menyebut dengan Haji Yusuf.
“Setelah itu, dia (Gusti Ngurah Jelantik Celagi) akhirnya dipanggil ke puri. Namun dia tidak mau kembali. Dia meminta izin dengan baik-baik kepada saudaranya yang bernama Gusti Ngurah Jelantik Polong, agar diizinkan untuk tinggal di Kajanan. Bahkan, dia akhirnya memeluk agama Islam. Juga disebutkan, sampai ia diberangkatkan haji agar menjadi Islam yang baik,” jelasnya.
Terkait dengan keberadaan Al-quran bertulis tangan oleh keturunan Raja Buleleng, lanjutnya, berdasarkan penelitian pembuatan Al-quran tersebut, ketika seorang santri selesai mempelajari sebuah ajaran Islam, maka diwajibkan menulis sebuah kitab suci yang disusun dengan 30 jus dan berisikan 114 surah.
“Nah memang tidak banyak yang bisa kami gali. Yang bisa kami gali hanya sekitar tulis menulis Qur-an, yang sesungguhnya karena pada saat itu percetakan dari mesin memang sangat jarang. Maka sebagai tradisi disini, setiap orang yang selesai nyantri atau belajar agama, diwajibkan untuk menulis Qur-an,” paparnya.
“Mungkin untuk dirinya, untuk keluarganya. Kalau sekarang mungkin seperti sebuah skripsi. Makanya di Kajanan ini atau di tempat lainnya banyak tulisan tangan. Dan, ini istimewanya, karena ditulis seorang keturunan raja," terangnya.
Dijelaskannya, peralihan agama dari Hindu ke Islam disebut mualaf. "Islam-nya juga bukan karena berperang. Apalagi beliau adalah seorang keturunan raja generasi ke-6 dari keluarga Panji Sakti,” tuturnya.
Selain itu, Al-quran yang tersimpan di Masjid Agung Jami memiliki keunikan dari setiap lembar. Sebab, tidak hanya ditulis dengan huruf Arab, juga berisikan ukiran khas Bali seperti Patra Timun yang dibuat dengan goresan tangan pada sampulnya berbahan kulit lembu.
Kelebihan dari tulisan ini tentu ada. Sebab umumnya orang-orang Bali diberikan Tuhan kelebihan di bidang seni. "Bedanya ini ditulis oleh keluarga raja, tapi mungkin bukan keluarga raja saja yang bisa ngukir begini, mungkin semua orang Hindu itu bisa ngukir yang punya kemahiran untuk itu. Karena ukiran seperti ini direalisasi dalam tulisan Al-quran. Bisa dikatakan adanya akulturasi budaya dan memunculkan kesan indah dan menambah minat baca,” papar Gusti Nanang Nurhidayat, seksi Ubudiyah Masjid Agung Jami Singaraja, didampingi Humas Masjid Agung Jami Singaraja Muhhamad Agil.
Diakuinya, Al-quran yang masih tertata apik disimpan di kotak kaca, memang jarang dikeluarkan. Biasanya hanya dibaca pada peringatan hari-hari besar agama Islam.
“Dalam momen-momen tertentu, Maulid dan sebagainya. Ini juga memenuhi saran dari keluarga raja, jangan sampai Al-quran ini hanya disimpan," terangnya pekan kemarin.
Dijelaskan Haji A. Mochlis, cara merawat Al-quran yang sudah berumur sekitar dua abad itu, l tidak memerlukan hal khusus, hanya menjalankan anjuran orang terdahulu, dengan cara mengisi merica di kotak kaca tempat menyimpan Al-quran. “Karena banyak tamu yang ingin melihat Al-quran ini, makanya kami menyimpannya di box kaca,” ujarnya.
Menurut Haji A. Mochlis keberadaan Al-quran unik tersebut pernah dilirik juga oleh mantan ibu negara Alm Ibu Tien Soeharto, dan meminta Al-quran tersebut untuk dikoleksi di Museum Al-quran di TMII.
“Sekitar tahun 80-an kami pernah didatangi oleh guru besar dari PTIKE Jakarta, yang menurut beliau menyampaikan salam dari Ibu Tien yang berencana membangun Museum Al-quran di TMII. Ini mau diminta dan disimpan disana. Namun, kami dengan orang-orang tua sepakat untuk memberikan salinannya saja. Karena kami khawatir jika ini sampai hilang, dan jika ada yang bertanya tentang ini, agar ada buktinya,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya