SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pura Gunung Sekar di Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Giri Emas, Buleleng, berada di pinggir jalan raya. Namun, untuk menuju ke pura ini harus melalui jalan tanjakan sekitar satu kilometer. Apa bedanya tempat suci ini dengan yang lainnya?
Pura Gunung Sekar memiliki enam palinggih, yakni Palinggih Ratu Bhatara Mutering Jagat (Niang Pasupati), Ratu Bagus Panji, Ratu Bagus Kertakawat, Ratu Bagus Masiem, Ratu Dewa Ayu Manik Meketel, dan yang terakhir Ratu Bagus Gede. Keenam itulah yang malinggih atau berstana di Pura Gunung Sekar.
Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan pura dibangun. Menurut cerita, pura sudah ada sebelum masa kerajaan. Menurut kepercayaan warga setempat, Pura Gunung Sekar dikenal 'bares' atau sangat pemurah. Segala 'keinginan' yang dimohon secara tulus dan ihklas diyakini akan dikabulkan. Hal itu diungkapkan Bendesa Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Jro Mangku Wayan Gunawan.
“Apapun keinginannya, bisa nunas. Selama memohon dengan cara yang benar dan tulus ihklas, niscaya akan diberikan. Cepat atau lambat akan dikabulkan. Masyarakat kami percaya bahwa beliau yang malinggih di sana sangat bares,” tuturnya, kemarin.
Diantara palinggih, terdapat tiga pohon besar yang menjulang tinggi. Tiga batang pohon tersebut menyatu, sehingga tampak seperti satu batang. Pohon-pohon tersebut adalah pohon Intaran, Kenuli, dan Celagi (Asem).
Menurut keyakinan masyarakat setempat, ketiga pohon itu dapat digunakan sebagai tamba (obat). “Tiga pohon itu adalah obat bagi siapa saja yang ingin sembuh dari sakitnya. Sakit apapun. Sudah banyak yang nangkil (datang) untuk memohon obat di tiga pohon ini. Dan, mereka lapor sama saya, bahwa mereka sembuh. Saya turut senang mendengar,” ucapnya.
Namun, semuanya kembali lagi kepada kepercayaan masing-masing. "Saya pun percaya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, sepanjang kita percaya,” sambungnya.
Untuk meminta obat atau tamba pada ketiga pohon itu, tidak memerlukan persyaratan panjang. Cukup satu buah canang dengan dupa serta ketulusan untuk memohon obat.
“Tidak usah mahal-mahal atau megah-megah. Sederhana saja, canang satu dan dupa. Kalau isi sesari silakan, kalau mau isi rarapan juga, silakan. Yang penting mohonnya sungguh-sungguh dan digunakan untuk kebaikan. Pasti Ida memberikan atau mengabulkan dengan sungguh-sungguh pula,” tegasnya.
Jro Mangku Gunawan menceritakan, sering terjadi suatu keanehan di Pura Gunung Sekar. Tepatnya diantara tiga pohon tersebut. Patung macan dan babi yang ada diantara pohon tersebut samar-samar terlihat nyata, hidup dan bergerak. Hal itu kerap dialami masyarakat yang memohon tamba ke Pura Gunung Sekar, termasuk dirinya sendiri pun pernah mangalami.
“Sering disini terjadi seperti itu. Kalau dibilang tidur ya bukan. Wong saya terbangun kok, jelas itu bukan mimpi. Patung-patung itu terlihat nyata dan hidup. Padahal kalau dilihat oleh orang biasa, itu ya patung,” tuturnya.
Selain itu, bentuk bangunan Pura Gunung Sekar juga masih mempertahankan gaya Buleleng. Menariknya, seluruh bangunan di Pura Gunung Sekar tersebut menggunakan batu paras. Tidak saja pada bagian utama, namun juga ke bagian pawaregan (dapur) pura, termasuk tungkunya harus menggunakan paras.
"Bangunannya semuanya pakai paras. Termasuk jalikan yang ada di pawaregan pakai paras juga. Tidak boleh tidak,” tutur Jro Mangku Wayan Gunawan.
Keunikan lainnya juga berlangsung saat piodalan. Di Pura Gunung Sekar tidak boleh menarikan Tari Rejang. Baik itu Rejang Dewa maupun rejang kreasi lainnya.
Menurut cerita terdahulu, ketika piodalan dan mempersembahkan Tari Rejang, satu penari Rejang paling belakang tersebut hilang entah kemana. Setelah ditelusuri dengan jalan niskala dan dipancing dengan menggunakan sekam padi, penari tersebut ditemukan berada di Goa Raksasa.
Hingga kini tidak ada yang tau pasti mengapa keanehan tersebut bisa terjadi. Termasuk keberadaan Goa Raksasa itu. “Goanya itu juga kami tidak tau, apakah benar itu goa untuk orang besar (raksasa) atau digunakan untuk bersembunyi saat penjajahan. Di goa itu juga ada lukisan dan tulisan-tulisan aneh dan tidak bisa diterjemahkan. Tapi ditulisnya seperti menggunakan kuku, bukan alat tulis lainnya,” ceritanya.
Piodalan di pura Gunung Sekar ini jatuh setiap Tumpek Landep. Setiap piodalan biasanya akan dilaksanakan Ngusaba Bukakak, sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang dihasilkan.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya