Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gambelan Gumbyung, Perpaduan Jegog dan Bumbung Karya Made Trip

I Komang Gede Doktrinaya • Minggu, 20 Desember 2020 | 16:08 WIB
Gambelan Gumbyung, Perpaduan Jegog dan Bumbung Karya Made Trip
Gambelan Gumbyung, Perpaduan Jegog dan Bumbung Karya Made Trip

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Gumbyung merupakan seni tabuh klasik yang mulai dikembangkan kembali di Buleleng. Gumbyung adalah alat musik tradisonal yang terbuat dari bambu yang berasal dari Desa Munduk. Serupa tapi tak sama dengan Jegog khas Kabupaten Jembrana. 


Dua alat musik tradisonal yang terbuat dari bambu ini, cukup menarik perhatian. Penempatannya cukup berbeda dengan alat musik tradisonal Bali lainnya. Alat musik ini berdiri kokoh di belakang alat musik lainnya. Ciri khas dari Gumbyung adalah seni tabuh klasik yang lahir di Desa Munduk pada era tahun 1940-an. Namun kini Gumbyung mulai dikembangkan kembali di Buleleng.


Berdasarkan cerita dari penciptanya, Made Trip, gambelan Gumbyung ini adalah gabungan dari gambelan Jegog dan Bumbung. Dahulu, saat alat musik Gumbyung ini belum ia ciptakan, ayahnya pernah berada di penyingkiran (semacam tempat pengasingan). 


Di suatu tempat pengasinga, ia lalu mengembangkan tarian Joged. Namun, di tempat itu tidak ada gadis yang bisa dijadikan penari, hingga diambillah dua orang laki-laki untuk menari Joged. 


“Dahulu pernah bapak saya nabuh Joged di pengasingan. Karena sebelumnya bapak saya adalah seorang perintis Joged. Lalu ikut berjuang, saat itu jadi kernet Bus Trip namanya. Saat di penyingkiran Joged-nya muani-muani (laki-laki). Agar tidak hilang jejak bapak saya, jadi saya ciptakan itu untuk mengenang jejak bapak saya itu,” tuturnya, pekan kemarin.


Made Trip menyebutkan, jika pada Jegog nadanya ada delapan, maka pada Gumbyung nadanya ada 10. Ia pun menuturkan, rencananya untuk mengembangkan alat musik ini menjadi 12 nada. 


“Saya masih akan mengembangkan lagi. Bedanya kalau Jegog itu diawali nada 'nding' tapi akhirnya 'ndeng'. Kalau Gumbyung jadinya 'ndong' dan berakhir di “?'ndeng'. Saya gabungkan dua kesenian ini. Saya tidak sabotase, saya sudah ngomong sama Gama, seniman di Jembrana,” kata dia.


Ditanya apakah gambelan ini cocok untuk mengiringi Joged, Made Trip dengan tegas mengatakan tidak. Sebab, laras pada Gumbyung ini masih belum jelas. Meski begitu, Made Trip, seniman senior dari Desa Munduk ini pun pernah menampilkan Gumbyung pada ajang Buleleng Festival 2016 silam. 


Memang sepintas alunan nada yang dihasilkan Gumbyung hampir sama dengan Jegog, seni tabuh khas Jembrana. Gumbyung ini masih tak jelas menggunakan nada pelog atau selendro yang biasa digunakan pada alat musik tradisional Bali pada umumnya. 


Akan tetapi, saat dimainkan Gumbyung mampu menghasilkan nada yang harmonis. “Memang mirip secara tampilan, tapi nadanya tidak seperti musik lain yang pakai pelog dan selendro. Kalau ini ya enak, harmonis kedengarannya. Tapi tidak cocok untuk mengiringi Joged,” ujarnya.


Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Buleleng Wayan Sujana mengatakan, Gumbyung ini diperkirakan telah lahir sejak tahun 1940-an, kini mulai dikembangkan dan dilestarikan. Pengembangan Gumbyung mulai dilakukan kembali sejak delapan tahun yang lalu. 


“Sekarang dilestarikan dan ditampilkan di festival-festival berikut dengan senimannya, yakni Made Trip. Karena beliau maestro dari Munduk dan Gumbyung ini diciptakan olehnya juga. Di samping itu, lahirnya alat musik Gumbyung ini berdasarkan cerita yang dialami sang Ayah dari Made Trip sendiri. Jadi ada nilai historinya disana,” ungkap Sujana.


Gumbyung merupakan salah satu seni tabuh klasik yang harus dilestarikan. Penggalian dan pengembangan kesenian warisan nenek moyang merupakan salah satu cara untuk tetap mempertahankan kelestarian seni tradisoanal, yang dapat memeperkaya khasanah budaya Nusantara.

Editor : I Komang Gede Doktrinaya