Menjadi seorang undagi atau arsitek Bali tentunya tidak mudah. Sama halnya seperti menjadi arsitek bangunan modern, seluruh ukuran bangunan ataupun bagian-bagian bangunan harus tepat. Para tetua atau undagi dulu menyebutkan, pada dasarnya yang dimaksud bangunan Bali, yakni setiap bangunan yang berdasarkan tatwa (filsafat) agama Hindu. Dengan pengelompokan bangunan Bali, meliputi bangunan suci /keagamaan dan bangunan adat.
BANGUNAN Bali itu memiliki beberapa ketentuan, seperti tempat atau denahnya berlandaskan pada Lontar Asta Bumi. Lalu bangunan atau konstruksinya berdasarkan Lontar Asta Dewa dan Asta Kosala/Kosali. Bahan-bahan atau ramuannya seperti kayu, ijuk, alang-alang, batu alam, bata. Berdasarkan pula pada lontar-lontar tersebut. Lontar yang khusus mengulas tentang klasifikasi kayu yang hendak digunakan untuk umah maupun bangunan-bangunan suci seperti Lontar Janantaka.
“Kalau lontar undagi yang secara umum dikenal adalah Lontar Aji Wiswakarma. Itu adalah lontar panduan khusus untuk undagi atau arsitek Bali. Disana tertera panduannya. Bagaimana menggunakan sikut Bali agar tepat, agar nantinya tidak merugikan undagi dan seseorang yang menggunakan bangunan itu sendiri. Selain itu, juga terkait dengan lontar-lontar lain yang mengatur tentang undagi,” ujar Ida Bagus Ari Wijaya, Penyuluh Bahasa Bali yang kini bertugas di Gianyar.
Kandungan ciri-ciri bangunan Bali disebutkan meliputi pengider-ideran (catur loka atau asta dala), tri mandala atau tri loka, adanya upacara sangaskara atau penyucian serta mengandung simbol-simbol sesuai dengan ajaran agama Hindu. Seperti padma, naga, Sanghyang Acintya. Sementara bentuk dan nama bangunan Bali senantiasa berdasarkan ketentuan-ketentuan Lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali, dan lontar Wiswakarma yang mengulas tentang keprofesian undagi.
Tata laksana dan penyucian bangunan Bali meliputi ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh dan ngurip-urip. Selaras dengan ketentuan yang ada dalam Lontar Asta Dewa, Asta Kosala-Kosali, dan Lontar Wiswakarma, yang mengulas tentang keprofesian undagi. Tata laksana dan penyucian bangunan Bali meliputi ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh dan ngurip-urip. “Selaras dengan ketentuan yang ada dalam Lontar Asta Dewa, Asta Kosala/Kosali dan lontar-lontar lainnya, ketertiban fungsi dan penggunaannya dinyatakan, bahwa semua wujud bangunan Bali hendaknya mengikuti ketentuan-ketentuan yang disebutkan tadi, selain fungsi dan penggunaannya ditetapkan pada proporsi yang baik dan benar. Intinya tidak boleh meleset,” tambahnya.
Arsitektur Bali sejatinya telah dibekali banyak lontar yang berkaitan dengan arsitektur. Ada Lontar Asta Patah yang terkait dengan ukuran dan jarak tiang bangunan. Wiswakarma perihal tata cara menebang kayu, Padmabhumi yang menyangkut sejarah lokasi pura-pura di Bali berlandaskan pengider-ideran pada bhuana agung. Janantaka tentang klasifikasi kayu yang hendak digunakan untuk bangunan-bangunan suci maupun umah. Kemudian ada lontar tentang Sikuting Umah, berhubungan dengan pengukuran bangunan perumahan. Lainnya, ada Bhuana Kretih, terkait upacara-upacara dalam proses mendirikan bangunan sejak awal hingga selesai. Ada pula Dewa Tatwa yang mengulas jenis-jenis sesajen atau pedagingan untuk masing-masing palinggih dan jenis-jenis upacara pamelaspas. “Intinya, semua itu boleh dikata sebagai “tutur-tutur” yang mengingatkan kembali, agar orang-orang senantiasa mensyukuri, menghormati dan memberi keseimbangan pada alam, tidak mengeksploitasi. Selain tetap eling dan bakti pada Hyang Pencipta serta kasih sayang pada sesama makhluk ciptaan-Nya,” lanjutnya.
Selain itu, ada pula Lontar Dharma Laksana yang juga ditujukan untuk undagi. Lontar Dharma Laksana berkaitan dengan pembuatan bade, wadah dan kelengkapan lainnya dalam upacara Ngaben, pembuatan tombak sebagai tutur Bhagawan Wiswakarma. Dalam lontar itu ada aturan dasar yang mesti dipakai seorang undagi bade. Artinya, dalam pembuatan itu tidak boleh hanya mengutamakan seni, tetapi harus sesuai dengan aturan. Misalnya, seseorang minta bade palih taman, mestinya seseorang tukang mesti tahu apa itu palih taman. Jangan sampai karena kekurangtahuan justru yang dibuat palih gunung atau palih tanjak.
Ditambahkan, yang disebut palih itu sebetulnya palinggih atau tempat suci dalam bade, selain palih taman ada istilah palih sari, palih batur dan gunug gopel. Jika empat macam palih itu disatukan disebut palih macira atau petira (agung).
Berdasarkan konsep Gugu Laksana, pembuatan bade diawali dengan pencarian papah, bagian dari daun pohon kelapa. Papah itu nantinya akan dipakai untuk mengukur, baru kemudian membuat gegulak yang memiliki pengertian sederhana “percayalah apa yang kita buat.” Tahap selanjutnya undagi mengukur jenazah yang terbagi menjadi tiga bagian yakni kepala, badan dan kaki. “Jika sekarang mengukur jenazah bisa menggunakan meteran, tetapi beberapa undagi masih banyak menggunakan cara lama seperti sikut depa, satu cengkang atau guli.”
Jika seseorang menggunakan ukuran lama, itu sangat erat dengan keyakinan. Oleh karena itu, pengukuran dengan cara tersebut harus disertai banten ituk-ituk yakni canang tempelan, beras, jinah solas keteng (uang kepeng 11 buah), benang dan banten pejati. Ituk-ituk itu memiliki makna sebagai pemberitahuan bahwa seseorang undagi akan melaksanakan kerja.
Editor : I Putu Suyatra