DENPASAR, BALI EXPRESS-Di tengah padatnya pemukiman di Kota Denpasar, masih ada pura dengan suasana pedesaan, seperti yang terlihat di Pura Beji di Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara.
Pura ini sangat asri dengan pohon Beringin dan Kuwang yang rindang, riuhnya suara burung menambah nyamannya suasana. Lantas, apa istimewanya pura yang dikelilingi kolam bertembok bata merah dengan gaya klasik ini?
JIika tangkil (datang sembahyang) ke pura ini, sebelumnya pamedek (umat yang datang) akan bertemu Pura Taman yang terletak di sebelah timur. Pura Taman merupakan stana Ida Ratu Ngurah Panji Landung. Usai menghaturkan canang, barulah menuju ke Pura Beji yang terletak di sebelah barat.
Ketika masuk ke areal pura, pamedek disambut dengan candi bentar megah berbahan bata merah. Pandangan kemudian dimanjakan dengan kolam yang mengitari palinggih.
“Sebetulnya belum ada sumber sejarah yang betul-betul detail membahas keberadaan pura ini. Hanya berdasarkan cerita turun-temurun dari lingsir-lingsir,” ungkap Jro Mangku I Made Dwipayana Satria kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (15/3) lalu.
Pura ini juga unik, lantaran akulturasi Bali Kuno dan Majapahit. Sehingga arsitekturnya menyerupai Majapahit, namun di dalamnya terdapat sumur suci yang konon peninggalan Mahapatih Kebo Iwa.
Menurut cerita, lanjutnya, awalnya palinggih-palinggih di pura tersebut hanya berupa turus lumbung. Kemudian dibangunkan palinggih permanen sekitar tahun 1960. Di dalamnya ada tiga palinggih, yakni Ratu Ngurah Pamayun Sakti, Widyadara-widyadari, dan Ratu Niang Sakti. Sedangkan di bagian bawahnya ada Bulakan alias sumur yang konon merupakan jejak kaki Mahapatih Kebo Iwa. “Sumur ini istimewa. Meski bentuknya kecil, namun airnya tak pernah surut,” ujarnya.
Di atas palinggih menjulang tinggi pohon Beringin di sebelah utara dan pohon Kuwang di sebelah selatan. Sumur tersebut terletak persis di depan pohon Kuwang.
“Meski pohon Kuwang ini besar dan akarnya banyak, tak ada yang masuk ke dalam sumur. Ini cukup unik,” katanya.
Piodalan pura yang masih bagian dari Pura Maospahit tersebut, memiliki tegak piodalan saat rahina Tumpek Landep. Tak ada aci khusus yang dihaturkan.
Terkait pantangan upakara, setahu Jro Mangku Dwipayana juga tak ada. Namun demikian, banten biasanya menggunakan ulam suci berupa bebek. “Saat piodalan di Pura Maospahit, di sini juga dihaturkan banten. Demikian pula saat rahina Purnama dan Tilem, biasanya dihaturkan banten dengan salah satu sarananya berupa tipat dampulan, kemudian pisang emas, dan telur, khususnya di palinggih Ratu Ngurah Pamayun Sakti,” jelasnya.
Terkait keberadaan kolam yang mengitari pura, menurutnya dibuat sekitar tahun 1997 silam. Arsitekturnya meniru gaya kolam di era Majapahit. “Desainnya mirip dengan Candi Tikus,” katanya.
Disinggung terkait sisi lain dari pura dengan nuansa magis ini, lulusan IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) tersebut tak berkelit. Pura tersebut konon dijaga oleh berbagai sosok makhluk halus seperti Wong Samar.
Sebelum membahas Wong Samar, dikatakan pula Ida Ratu Ngurah Panji Landung terkadang malancaran menjelang hari suci tertentu. Kehadiran beliau seperti ada sosok yang berjalan dengan tongkat. “Seperti suara orang berjalan membawa tongkat yang terantuk dengan tanah sehingga bersuara, dan tanah terasa bergetar. Itu tyang (saya) pernah mendengar,” ungkapnya.
Bahkan, konon ada pula yang pernah sekilas melihat sosok Ida Bhatara. “Sosoknya tinggi besar, namun tubuhnya dipenuhi rambut. Beliau malancaran saat mapag rahinan (menjelang hari suci),” ucap Jro Mangku yang juga seorang pregina dan pengukir topeng ini.
Nah, terkait wong samar yang merupakan rencang (pasukan) Ida Bharata, lanjutnya, biasanya diketahui lewat aroma masakan atau suara ramai seperti orang yang sedang mengobrol. Aroma masakan biasanya tercium menjelang piodalan dibarengi suara-suara seperti orang mebat (memasak).
Pernah suatu ketika, Jro Mangku Dwipayana saat piodalan sekitar jam 11 malam, tengah ngalebar banten di pura. “Di bawah pohon Kuwang ini seperti ada suara beberapa orang yang sedang bercengkerama. Tapi ketika tyang perhatikan, tak ada siapapun,” katanya.
Pangempon Pura Beji adalah keluarga besar pamangku Pura Maospahit. Namun saat ini, tak ada pamangku khusus di pura, sehingga para pamangku Pura Maospahit yang biasanya memimpin ritual. “Dahulu ada, tapi putung atau tak memiliki keturunan,” ujarnya.
Dikatakannya, selain sebagai beji, Pura Beji juga tempat malukat. Ada juga yang matatamban atau berobat. Biasanya ada orang yang mendapat petunjuk kemudian datang ke pura untuk malukat. “Mereka ada yang mendapat petunjuk niskala kemudian malukat kesini,” tandasnya.
Jika senang bermeditasi di tengah hiruk-pikuk Kota Denpasar, maka tempat ini bisa jadi salah satu pilihan. Namun, hendaknya seizin pamangku setempat.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya