Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Satukan Sekte di Bali, Bentuk Desa Pakraman

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 16 April 2021 | 23:14 WIB
Satukan Sekte di Bali, Bentuk Desa Pakraman
Satukan Sekte di Bali, Bentuk Desa Pakraman

AMLAPURA, BALI EXPRESS-Jika mendengar nama Mpu Kuturan tentu bayangan kita dibawa kepada tokoh suci yang membangun peradaban Bali pada zaman dahulu. Sebagai tokoh besar pada zamannya, banyak naskah lontar yang menyebut nama Mpu Kuturan.


Nama Mpu Kuturan diabadikan dalam sejumlah lontar. Seperti dalam Lontar Indik Parahyangan (perihal membangun bangunan suci), Lontar Dharma Pamaculan (perihal pedoman bercocok tanam, irigasi, membangun bendungan dan ritual, serta kalender pertanian terkait)  


Ada juga di Lontar Kusuma Dewa (pedoman pemujaan dan etika kependetaan/kepamangkuan), Lontar Taru Pramana (perihal tumbuhan obat atau resep-resep herbal), Lontar Keputusan Kuturan (ajaran-ajaran Mpu Kuturan lainnya yang terkait kearifan lokal dan ajaran kebatinan).


Nama beliau juga disebut dalam berabagi teks prasasti. Seperti Prasasti Dadya Pajenengan, Prasasti Pasek Bandesa, Prasasti Bwahan, Prasasti Pengotan Saka 1103/1181 Masehi, Prasasti Selat, Saka 1103/1181. Kemudian Prasasti Selumbung, Saka 1250/1328, Prasasti Batuan, Saka 944/1022 Masehi, Prasasti Serai Saka 915/993 Masehi, dan  Prasasti Langgahan Saka 1259/1337 Masehi.


Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa, mengatakan, merujuk Lontar Usana Bali, Mpu Kuturan adalah seorang pendeta atau rohaniawan berasal dari tanah Jawa. Sedangkan dari referensi lain menyebutkan, keberadaan Mpu Kuturan bersaudara kandung dengan Mpu Genijaya, Mpu Ghana, Mpu Semeru, dan Mpu Bharadah.


“Mereka hidup pada zaman pemerintahan Airlangga tahun 1019. Karena seorang rsi (pertapa) berusaha hidup melepaskan keterikatan duniawi dan hidup dari hasil pajak kerajaan,” ujar Suka yang juga meneliti tentang jejak Mpu Kuturan dalam berbagai teks.


Dikatakan Suka, sebelum mengenal sistem Tri Kahyangan kehidupan masyarakat Bali mengenal enam sekte besar yang hidup dan berkembang, yakni Sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala.


Sekte Sambu misalnya bercirikan pada penyembahan arca, ketika mati mereka diupacarai dengan daun pepetan ketan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat harus ditanam seketika. 


Kemudian Sekte Brahma, menyembah Ida Sang Hyang Surya/Ida Sang Hyang Agni. Penganut sekte ini menggunakan air delima sebagai pembersih mayat. Mayat penganut sekte ini dibakar.


Sekte Indra menggunakan gunung dan bulan sebagai stana dewa. Penganut sekte ini menggunakan air beras untuk membersihkan mayat. Mayat penganut sekte ini ditanam di jurang yang berisi goa. 


Sekte Wisnu, biasanya memiliki tradisi upacara meminta hujan. Mayat penganut sekte ini biasanya dibersihkan dengan air yang berisi bunga-bungaan. Abu jenazah penganut sekte ini dihanyutkan ke sungai atau samudra.


Sekte Bayu, penganutnya memandang angin dan binatang sebagai ciri-ciri kehadiran dewa pujaannya. Mereka biasanya menggunakan air hujan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat penganut sekte ini ditaruh begitu saja di sebuah tempat hingga hancur oleh angin. Penganutnya hingga kini masih terdapat di desa Trunyan-Kintamani.


Sekte Kala, penganut sekte ini sangat banyak di Bali. Pemujaan terhadap Ratu Gede Macaling dan sejenisnya merupakan peningggalan sekte ini. Mereka biasanya menggunakan daun bidara dalam upacara kematiannya.


“Dahulu, sebagian masyarakat Bali ada yang menganut Budhisme ketika itu. Sehingga sebenarnya secara umum, terdapat tiga kepercayaan besar berkembang pada masa itu. Yaitu Hindu, Budha dan kepercayaan lokal,” imbuhnya.


Banyaknya sekte di Bali rupanya membuat kehidupan sosial agama menjadi tak harmonis. Atas kondisi itu, Raja Airlangga pada tahun Saka 910 (988 M) kemudian mengutus Senapati Kuturan untuk mengatasi kekacauan yang terjadi di Bali. 


Beliau kemudian bertemu dengan Raja Udayana, Warmadewa dan Ratu Gunapriya Dharmapatni. Mpu Kuturan dalam catatan perjalanannya kemudian mengundang semua pimpinan sekte. 


Pertemuan dilakukan di Bata Anyar atau Samuan Tiga. Pertemuan ini mencapai kata sepakat dengan keputusan Tri Sadaka dan Kahyangan Tiga.


Keputusan pertama, paham dijadikan dasar di Bali, yang berarti di dalamnya telah mencakup seluruh paham sekte yang berkembang di Bali saat itu. 


Kedua, dalam setiap desa pakraman (desa adat) supaya dibangun Kahyangan Tiga, yaitu Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem.


Ketiga, dalam setiap rumah tangga supaya didirikan Rong Tiga sebagai tempat memuja Tri Murti. Brahma di mang kanan, Wisnu di mang kiri dan di tengah adalah Siwa sebagai Maha Gum atau Bhatara Gum. 


Rong Tiga itu selain sebagai tempat memuja Tri Murti, juga difungsikan untuk memuja roh leluhur. Ruang kanan untuk memuja leluhur laki-laki (purusa), mang kiri untuk memuja leluhur wanita (pradana). Sedangkan mang di tengah-tengah untuk memuja leluhur yang sudah menyatu dengan Bhatara Gum.


Wilayah Bali lambat laun kemudian kembali tentram. Masing-masing sekte saling menjaga toleransi antara satu dengan lainya. Ini berkat kesuksesan Mpu Kuturan sebagai pimpinan dalam pertemuan tersebut, yang menghasilkan keputusan yang mampu mengakomodir semua sekte.


“Salah satu yang dikenal hingga saat ini adalah pemujaan Tri Sadaka dalam hal ini adalah Warna Brahmana Siwa-Budha-Waisnawa, bukan Pedanda dari soroh, wangsa, keturunan pemuja Siwa, Budha ataupun Waisnawa. Melainkan setiap orang yang menjadi sulinggih adalah seorang Sadaka,” jelas pria yang juga dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini. 


Berdasarkan hasil pasamuan di Samuan Tiga itulah terbentuk sebuah tatanan kehidupan masyarakat Bali yang baru, yang hingga kini dikenal dengan nama Desa Pakraman di Bali. Dimana tempat Pasamuan Agung yang terletak di Desa Bedahulu, Gianyar. Kemudian dikenal dengan sebutan Samuan Tiga yang bermakna pertemuan segi tiga. Di tempat ini kini telah berdiri sebuah pura yang disebut Pura Samuan Tiga atau Pura Samuan Telu.


Suka Ardhiyasa mengatakan, dari nama itu telah memberikan kesan, bahwa disinilah paham Trimurti mulai diperkenalkan dan ditegakkan, serta paham Siwa-Budha yang disatukan.


“Sejak saat itu, kehidupan masyarakat di Bali menjadi lebih tertib, aman, rukun, dan damai. Mereka saling hormat-menghormati sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal aika Tan Hana Dharma Mangrwa,” kata Suka.


Dalam penataan desa dan kahyangan, Mpu Kuturan mengamalkan ajaran Tri Murti, yaitu Brahama, Wisnu, Siwa, yang dimanifestasikan dalam wujud Kahyangan Tiga, yaitu Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem. 


Setiap desa mempunyai Kahyangan Tiga yang merupakan tempat pemujaan bagi seluruh krama (warga) desa.


Dalam Lontar Raja Purana menyebutkan, usaha Mpu Kuturan untuk membangun tempat-tempat suci beserta upacaranya. Bahkan, dalam Babad Gajah Mada juga menyebutkan, jika Mpu Kuturan moksa di Silayukti.  


Untuk menghormati jasa Mpu Kuturan, maka dibuatlah palinggih khusus untuk beliau berbentuk Manjangan Saluwang, karena kedatangan Mpu Kuturan ke Bali konon menunggangi seekor menjangan. Namu,  dibalik ungkapan tersebut, Menjangan Saluwang dapat diartikan sebagai balai yang panjang dan luas.


“Sehingga kata Manjangan Saluwang diartikan sebagai lambang dari balai yang panjang dan luas, dimana tempat itu digunakan sebagai tempat pertemuan para dewa,” pungkasnya. 



SILAYUKTI : Di kawasan Pura Silayukti, Kabupaten Karangasem, jadi tempat peristirahatan terakhir Mpu Kuturan. Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali Nyoman Suka Ardhiyasa


 


Jejak Mpu Kuturan Bangun Peradaban Bali (2)



Perluas Kawasan Suci Besakih, Prakarsai Upacara Ngenteg Linggih


 


AMLAPURA, BALI EXPRESS -Mpu Kuturan tak hanya menyatukan sekte-sekte dan merintis desa pakraman di Bali. Berdasarkan Lontar Usana Bali, Mpu Kuturan adalah seorang pendeta atau rohaniawan berasal dari tanah Jawa yang diutus khusus datang ke Bali ini, juga berjasa dalam memperlus dan memperbesar kawasan suci Besakih dengan menciptakan Palinggih Meru dan Gedong. 


Mpu Kuturan juga mendirikan sejumlah pura di Bali. Seperti Pura Silayukti, Pura Samuan Tiga, Pura Sakenan, Pura Watu Klotok, Pura Uluwatu, hingga adanya Palinggih Menjangan Saluwang di setiap Sanggah Kawitan di Bali.


Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa, yang juga peneliti rekam jejak Mpu Kuturan dari berbagai sumber lontar, mengatakan, Mpu Kuturan merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam melakukan perluasan kawasan suci Pura Besakih. Beliau memperluas Pura Besakih dengan menambah susunan beberapa palinggih dan menambahkannya dengan beberapa palinggih baru. 


Susunan pura didasarkan atas adanya kelompok pura pertama di bawah Pura Penataran Agung, disebut sasoring ambal-ambal. Sedangkan pura di atas Pura Penataran Agung disebut saduhuring ambal-ambal. 


Pura yang paling di bawah atau di depan adalah Pura Pasimpangan. Pura yang paling tinggi letaknya adalah Pura Tirtha. Pura Peninjoan adalah tempat yang dipergunakan Mpu Kuturan untuk meninjau komplek Pura Besakih pada waktu diadakan perluasan. 


Jika dilihat dari etimologi, kata Peninjoan berarti tempat untuk meninjau atau mengamati. Pura ini terletak sekitar 1000 meter sebelah Barat Pura Penataran Agung. 


Adapun pura yang ditinjau tersebut adalah 18 pura. Yakni Pura Penataran Agung, Pura Batu Madeg, Pura Kiduling Kreteg, Pura Gelap, Pura Pengubengan, Pura Tirtha, Pura Peninjoan, Pura Hyang Aluh, Pura Basukian. 


Selanjutnya Pura Banua, Pura Mra'jan Kanginan, Pura Merajan Selonding, Pura Gua, Pura Ulun Kulkul, Pura Bangun Sakti, Pura Manik Mas, Pura Dalem Puri, dan Pura Pasimpangan


“Beliau (Mpu Kuturan) juga yang mengajarkan pembuatan kahyangan secara spiritual, termasuk pembuatan jenis-jenis padagingan untuk tempat suci,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


Guna menjaga ketentraman masyarakat Bali, Mpu Kuturan mendirikan dan menyempurnakan Pura Kahyangan Jagat yang berjumlah delapan buah, yakni Pura Besakih, Lempuyang, Andakasa, Goa Lawah, Batukaru, Beratan, Batur, dan Uluwatu. 


Selain itu, Mpu Kuturan pula yang memprakarsai upacara Ngenteg Linggih atau yang sering disebut Ngalinggihang (menstanakan) Dewa Pitara (roh suci leluhur) di sanggah atau pamrajan pada Rong Tiga (kemulan). 


Palinggih Rong Tiga juga berlaku untuk tempat suci memuliakan Tuhan yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Kahyangan Tiga keluarga dalam fungsi Beliau sebagai penguasa dari penciptaan, pemelihaaran, dan pengembali ke unsur Panca Maha Butha, yang tersimbolisasi dari Dewa Brahma, Sri Wisnu, dan Dewa Siwa.


Konsep bangunan Meru juga diprakarsai Mpu Kuturan yang disebut perlambang dari Gunung Mahameru, tempat kediaman para dewa. Di Bali meru tidak hanya bertumpang tiga, melainkan dari tumpang satu sampai tumpang 11. Dimana, tumpang meru selalu ganjil, kecuali tumpang 2. Jadi ada tumpang 1, 2, 3, 5, 7, 9 dan 11. 


Kenyataan membuktikan di Bali menurut fungsinya meru dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu sebagai Dewa Prathista atau Palinggih Dewa dan meru selaku Atma Pratistha atau sebagai Palinggih Roh Suci. 


Perbedaan dari kedua jenis meru ini terletak pada sikutnya (ukurannya) seperti ditentukan pada Lontar Asta Kosala-Kosali.


Meru beratap sembilan aksara suci simbol Nawa Dewata (Sanga Dewata). Meru beratap tujuh lambang tujuh aksara suci, simbol Sapta Dewata. Kemudian, Meru beratap lima merupakan lambang lima aksara suci, simbol Panca Dewata. 


Meru beratap tiga lambang tiga aksara suci, simbol dari Tri Purusa. Meru beratap dua, lambang dua aksara suci, simbol Rwa Bhineda atau Purusa Pradana. Sedangkan meru beratap satu merupakan lambang dari panunggalan seluruh aksara menjadi Om, simbol Sang Hyang Tunggal.


Selain itu, Mpu Kuturan juga mendirikan tempat suci di Padang Bai, Karangasem yang bernama Pura Silayukti. Dimana 'Sila' berarti tingkah laku dan 'Yukti' berarti benar. Jika diartikan yaitu tingkah laku yang benar, karena di pura inilah Mpu Kuturan mulai memimpin dan mengajarkan tingkah laku yang benar kepada masyarakat Bali.


Pura Silayukti didirikan pada abad 11 untuk menghormati kebesaran jasa-jasa Mpu Kuturan di Bali, baik selaku pejabat tinggi pemerintahan pada masa Raja Marakata dan Raja Anakwungsu, maupun selaku pimpinan agama Hindu di Bali pada zaman Bali Kuna.


Dalam lontar Babad Bendesa Mas disebutkan, Mpu Kuturan berwisma di Silayukti dan beliau tinggal di sana sampai wafat. Tahun berapa beliau wafat, tidak diketahui dengan pasti. Setelah Mpu Kuturan wafat sekitar abad 11, di tempat wisma beliau, didirikan pura sebagai tempat pemujaannya. 


“Palinggih yang dibuat hanya bebaturan saja. Palinggih sederhana itu sampai tahun 1931 saja. Sejak tahun 1931, Pura Silayukti diperbesar dan jumlah palinggih ditambah. Bebaturan itu kemudian diganti dengan meru tumpang tiga,” jelas dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini. 


Mpu Kuturan juga membangun Pura Samuan Tiga. Di pura ini terdapat peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali, khususnya yang berkaitan dengan tatanan kehidupan religious masyarakat Bali. 


Samuan Tiga secara etimologi terdiri dari 2 (dua) kata, yaitu Samuan yang bermakna Sangkep atau pertemuan, dan Tiga menunjuk pada bilangan tiga. 


Dengan demikian, Samuan Tiga berarti pertemuan segitiga atau pertemuan yang dihadiri oleh tiga unsur kekuatan (kelompok). 


Pertemuan yang dimaksud adalah bertemunya tiga kelompok besar aliran kepercayaan guna menyatukan visi tentang sistem kepercayaan di Bali.


Pertemuan tersebut dihadiri tiga kelompok besar, yakni Agama Budha Mahayana diwaikili Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua atau pimpinan sidang. Agama Ciwa diwakili oleh tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka Agama Ciwa dari Jawa.


Semenjak itu, setiap penganut Ciwa Budha, diharuskan mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) sebagai tempat memuliakan dan memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa atau manifestasi-Nya. Yakni Pura Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem.


Selain itu, Mpu Kuturan juga berjasa dalam membangun Pura Sakenan bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada zaman pemerintahan Raja Cri Macula Maculi. Mengenai asal mula dibangunnya pura atau Kahyangan Sakenan ini juga disebutkan dalam Lontar Usana Bali.


Kemudian ketika Danghyang Nirartha mengadakan perjalanan keliling Pulau Bali mengunjungi tempat-tempat suci. Hingga beliau sampai pula di Pulau Serangan, dan pada bagian barat pantai Pulau Serangan ini, beliau membangun bangunan pura.    


Dikatakan Suka, pura besar lainnya yang dibangun Mpu Kuturan seperti Pura Watu Klotok yang didirikan bertujuan untuk pemujaan Hyang Widhi sebagai tempat memohon agar air danau selalu terlindungi, tidak mengalami kekeringan. 


“Jika danau penuh, maka air akan mengalir melalui sungai-sungai. Dari sungai-sungai itulah sawah dan ladang mendapatkan air. Intinya kesuburan sawah-ladang akan terpelihara. Pura Watu Klotok menjadi sangat penting, karena dalam Lontar Purana Besakih menyebutkan, Pantai Watu Klotok sebagai tempat pesucian Ida Bhatara Besakih,” jelasnya.


Dalam Lontar Usana Bali, Mpu Kuturan juga membangun Pura Luhur Uluwatu. Kata Uluwatu sendiri secara etimologi berasal dari kata 'Ulu' yang berarti kepala atau ujung, dan kata 'Watu' yang berarti batu. Jadi Uluwatu memang benar adanya, karena pura tersebut terletak di ujung tebing selatan Pulau Bali.


Atas jasanya, Mpu Kuturan juga dibuatkan palinggih di setiap Sanggah Kawitan di Bali dalam bentuk Palinggih Menjangan Saluwang. Menjangan Saluwang yang bentuknya panjang ini terdiri dari tiga ruang (rong) yang cukup besar. Rong pertama dan kedua hampir sama lebarnya kira-kira 75 cm. 


Dalam rong yang besar yang di tengah, berisi kepala menjangan lengkap dengan tanduknya. Bentuk Menjangan Saluwang rupanya memang dimaksudkan untuk menunjukkan adanya tiga kelompok besar masyarakat zaman dahulu. 


Konon Mpu Kuturan ke Bali menunggangi seekor menjangan. Namun dibalik ungkapan tersebut, Menjangan Saluwang dapat diartikan sebagai balai yang panjang dan luas. Manjangan berarti panjang, 'Salu' berarti balai, dan 'Wan' berarti luas. Sehingga kata Manjangan Saluwang diartikan sebagai lambang dari balai yang panjang dan luas, dimana tempat itu digunakan sebagai tempat pertemuan para dewa


Dikatakan Suka, Palinggih Menjangan Saluwang atau Sakaluang dipandang sebagai penyatuan pikiran, pendapat, pandangan atau keinginan keluarga. “Jadi sebagai lambang persatuan dan kesatuan, serta kerukunan rumah tangga atau keluarga,” pungkasnya. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya