Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Ngelumbah, Ngaben Versi Masyarakat Sembiran

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 18 Mei 2021 | 16:48 WIB
Upacara Ngelumbah, Ngaben Versi Masyarakat Sembiran
Upacara Ngelumbah, Ngaben Versi Masyarakat Sembiran

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Sebagai Desa Bali Aga, Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, memiliki tradisi yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, mulai lahir hingga mati. Tradisi yang dijalani sebagai dresta di Sembiran sampai kini dilakoni masyarakat.


Kelian Desa Adat Sembiran I Nengah Arijaya menerangkan, tradisi dimulai dari upacara kelahiran. Dimana, setelah bayi kepus punsed, dilaksanakan upacara Masakapan dengan sarana babi guling satu ekor. 


“Mesakapan di Sembiran harus dilaksanakan. Tidak boleh tidak digelar,” tuturnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (16/5) lalu.


Kemudian, saat berusia tiga bulan atau 105 hari, sang bayi dibuatkan upacara layaknya tiga bulanan di Bali pada umumnya. Tradisi menyembelih babi guling dua ekor. Bahkan, terkadang masyarakat kerap mengambil sekalian antara upacara tiga bulanan dan otonan (enam bulan) si bayi.


Lantas bagaimana dengan upacara kematian? Dikatakan Arijaya, masyarakat Sembiran tidak mengenal Ngaben. Namun ada upacara Pengelumbah yang identik dengan Ngaben. Upacara ini rangkaian dari upacara kematian. Dimana, orang meninggal di Sembiran harus dikubur dan tidak boleh dikremasi (dibakar). 


Pada hari keempat setelah kematian, keluarga mengadakan upacara di Pura Mpu. Selanjutnya pada hari kesebelas, diadakan upacara Nyolasin atau Melas Atma berupa pamelas atma, dengan mengadakan sesaji di rumah atau pinggiran jalan. “Roh yang meninggal itu agar tidak terus mengikuti keluarganya,” paparnya.


Selanjutnya pada hari ke-42 setelah kematian, diadakan upacara Ngelumbah. Upacara Ngelumbah diartikan dengan ngumbah atau mabersih. Sarana yang digunakan adalah babi untuk sesaji yang diserahkan ke Pura Prajapati. Upacara inilah yang bagi masyarakat Sembiran identik dengan Ngaben. 


Dalam upacara Ngelumbah itu ada prosesi ngedetin, dan dilaksanakan di Pura Penglumbahan. “Yang meninggal itu sudah malinggih di Rong Telu. Karena sudah dianggap bersih. Ngelumbah inilah upacara Ngaben versi masyarakat Sembiran. Upacaranya semua dipuput catur kayhangan,” bebernya.


Setelah itu, pada hari ke-84 atau 42 hari lagi dari upacara Ngelumbah, maka dilaksanakan upacara Ngundang atau mabersih di rumah. “Dengan sesajian babi di kamar suci tempat pemujaan kepada dewa atau leluhur,” pungkasnya. 


Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #hindu #pura #tradisi #menikah #buleleng