TABANAN, BALI EXPRESS-Pohon atau tanaman tertentu erat kaitannya dengan umat Hindu maupun tradisi Nusantara. Pohon Cendana dan Gaharu misalnya, meeupakan kayu yang biasa digunakan sebagai sarana dalam pembuatan alat upacara. Juga untuk bangunan yang memiliki fungsi sakral.
Masyarakat Bali (Hindu) sangat akrab dengan kayu Cendana yang beraroma harum semerbak ini. Hampir di setiap keluarga memiliki potongan kayu Cendana.
Sewaktu-waktu digunakan sebagai sarana obat memar. Caranya, potongan kayunya digosok pada piring tanah, sehingga menghasilkan bubuk halus. Nah, bubuk halus yang ditetesi sedikit air ini kemudian dibalurkan ke bagian tubuh yang memar.
Irisan atau bubuk kayu Cendana juga biasanya ditaburkan dalam pasepan. Sehingga, ketika ikut terbakar, maka aromanya menyebar bersama asap. Ini mirip dengan dupa. Oleh karena itu, bahannya pun serupa. Hanya saja, dupa dibentuk sedemikian rupa.
Kayu Cendana atau yang di Bali biasa disebut Cenana, juga sebagai bahan dalam pembuatan palinggih. Kayu Cendana dalam Lontar Kosala-Kosali digolongkan sebagai kayu Prabhu atau kayu utama.
“Jadi, ada beberapa jenis kayu dalam pembuatan palinggih. Cendana atau Cenana ini digolongkan sebagai kayu Prabhu atau utama. Sedangkan Majagau atau Gaharu merupakan golongan madya,” ungkap Jro Mangku Made Artha, Selasa (18/5) kemarin.
Menurutnya, jika kayu tersebut sudah tua, maka kualitasnya sangat bagus. Sementara saat ini agak sulit mencari kayu Cendana yang sudah tua. Kebanyakan baru berusia beberapa tahun, namun karena kebutuhan akhirnya ditebang.
“Kalau dahulu kan usia pohon yang dijadikan sarana bangunan, khususnya tempat suci menjadi salah satu pertimbangan. Dari segi kualitas, semakin tua umur kayu, tentu semakin keras dan kualitasnya bagus,” terangnya.
Saat ini kayu Cendana semakin langka di Bali. Adapun yang diperjualbelikan dalam jumlah banyak biasanya berasal dari luar daerah. “Ya, memang agak sulit mencari cendana di Bali dengan kualitas yang betul-betul bagus. Karena itu, terkadang masih muda sudah ditebang karena banyaknya permintaan,” ujar pria asli Buleleng ini.
Dalam buku Mitos-mitos Tanaman Upakara yang ditulis I Nyoman Miarta Putra, secara teologis disebutkan, Cendana merupakan simbol Paramasiwa. Sedangkan Majagau sebagai simbol Sadasiwa. Konon aroma yang harum dari kayu-kayu ini sebagai salah satu media pengundang para dewata dan widyadara-widyadari untuk turun dari kahyangan guna menyaksikan upacara yadnya yang digelar.
Menurut Jro Mangku Artha, aroma dari kayu-kayu tersebut bisa mendatangkan ketenangan. Sehingga orang yang menciumnya bisa lebih khusuk dalam persembahyangan.
“Indra penciuman kan salah satunya penting diperlakukan dengan baik dalam sembahyang. Dengan mencium aroma yang wangi, maka timbul ketenangan. Ini seperti aromaterapi,” ujarnya.
Di samping sebagai sarana pembuatan palinggih, kayu Cendana juga dimanfaatkan untuk gagang maupun warangka keris. Ada juga yang menggunakannya sebagai bahan baku gelang maupun tasbih.
Khusus untuk Gaharu, bahkan daunnya kini telah dikembangkan sebagai salah satu bahan teh Gaharu. Layaknya teh pada umumnya, daun Gaharu diproses sedemikian rupa dan airnya bisa dinikmati. Manfaatnya pun cukup banyak bagi kesehatan. Namun, produksi masih terbatas dan belum terlalu dikenal masyarakat.
Jro Mangku Artha berharap, ke depan budidaya pohon Cendana maupun Gaharu bisa kian berkembang. Memang saat ini budidaya telah dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, namun belum terlalu banyak. “Kayu-kayu ini kan bernilai tinggi dan hampir semua bagian pohonnya bisa dimanfaatkan. Sehingga memiliki celah ekonomi tinggi bagi pembudidaya,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya