SINGARAJA, BALI EXPRESD-Pura Agung Menasa layak disebut Pura kuno yang ada di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng. Selain memiliki ukiran khas Bali Utara berbahan paras abasan, di pura ini terdapat Palinggih Arca Ganesha yang diyakini berusia ratusan tahun.
Pura Agung Menasa ini terletak di Dusun Menasa, Desa Sinabun. Pohon Kepuh setinggi 50 meter dengan batang berdiameter sekitar 1,5 meter, yang ditaksir sudah berusia ratusan tahun menjadi penanda pura ini.
Ukiran khas Bali Utara yang indah terlihat sejak memasuki areal nista mandala hingga utama mandala. Paduraksa atau gelung kori yang berbahan batu paras dan telah tertutupi lumut kian menegaskan jika pura ini sangat berumur.
Saat menginjakkan kaki di areal utama mandala, pandangan koran ini tertuju pada sebuah Palinggih Arca Ganesha yang berbahan batu di sisi selatan pura. Arca yang menjadi pusat pemujaan inilah yang diprediksi berusia ratusan tahun.
Kelian Desa Adat Sinabun Gusti Made Parta, 56, mengatakan, usia Arca Ganesha di Pura Agung Menasa diketahui berkat adanya penelitian dari Tim Balai Arkeologi Denpasar pada 2019 lalu.
Dari hasil penelitian terungkap, jika arca ini dari masa Bali Kuno yang berkembang di akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13.
Dikatakan Gusti Made Parta, dari penjelasan Balai Arkeologi, Arca Ganesha merupakan arca unik. Sebab, Balai Arkeologi baru meyakini jika temuan Acra Ganesha yang tampak menggendong lingga, duduk di Padma Ganda dengan mahkota gelungan rambut pusungan ke atas, merupakan satu-satunya di Bali.
“Versi Balai Arkeologi saat penelitian tahun 2019 lalu, katanya Arca Ganesha ini satu-satunya di Bali,” ucap Gusti Made Parta kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat nangkil ke Pura Agung Menasa, Kamis (13/5) lalu.
Selain Arca Ganesha, paduraksa atau gelung kori di Pura Agung Menasa yang ukirannya bermotif tumbuhan dengan gaya ukiran khas Buleleng tersebut, juga diduga dibangun pada tahun 1827 masehi. “Gambar Paksi, Gajah, Garuda itu dibaca oleh Balai Arkeologi sekitar tahun 1827 masehi. Jadi diprediksi sudah ada sejak tahun itu,” jelasnya.
Kendati demikian, ia tak menampik belum ada catatan tertulis terkait sejarah pasti Pura Agung Menasa. Sebab, para pendahulunya tidak meninggalkan catatan tertulis, sehingga pihaknya sedikit kesulitan dalam memaparkannya.
Selain memiliki keunikan Arca Ganesha yang berusia ratusan tahun, ada pula Kulkul di areal mandala pura yang diyakini kerap berbunyi sebagai pertanda adanya merana atau gering agung.
Suara Kulkul inipun sering didengar langsung masyarakat yang berada di areal Pura Agung Menasa.
Gusti Made Parta menyebut, Kulkul berbahan kayu ini kerap menjadi pertanda adanya merana atau gering agung. Setelah mendengar suara Kulkul itu, warga kerap melaksanakan persembahyangan untuk memohon perlindungannya agar dijauhi dari mara bahaya.
“Saya sendiri tidak pernah mendengar secara langsung. Tetapi dari warga kami yang bermukim di areal pura pernah mendengarnya. Memang itu penanda kalau ada bencana gering agung dan kami sangat meyakininya,” jelasnya.
Ia juga tak menampik, saat awal tahun 2020 lalu, Kulkul di areal ini diyakini warga mengeluarkan bunyi sebanyak tiga kali. Tak pelak, suara itu menimbulkan asumsi sebagai penanda adanya wabah Covid-19.
Lalu apakah ada pantangan sarana yang dihaturkan? Gusti Made Parta kembali menegaskan, masyarakat dilarang mengahturkan sarana berwarna merah saat pujawali. Baik itu bunga, kue, ataupu sarana lainnya yang berwarna merah.
“Jadi semua sudah tahu, kalau yang dihaturkan tidak boleh banten yang ada sarana warna merahnya. Yang boleh itu warna putih dan kuning. Risikonya seperti apa kalau melanggar, terus terang kami tidak tahu. Karena tidak pernah kami melanggarnya, tapi kami sangat meyakininya,” imbuhnya.
Warga Sinabun, sebut Gusti Made Parta, meyakini jika menggelar upacara yadnya mereka kerap nunas wangsuhpada (tirta) ke Arca Ganesha. Dengan harapan agar upacara berjalan lancar tanpa halangan. Para petani juga kerap nunas tirta saat upacara Ngusabha untuk memohon kesuburan dan kemakmuran sehingga panennya berlimpah.
Meski secara lokasi Pura Agung Menasa berada di wilayah Desa Sinabun, ternyata pura ini disungsung tiga desa yang ada di Buleleng. Ketiga desa tersebut adalah Desa Sinabun, Desa Suwug di Kecamatan Sawan, serta satu desa di Kecamatan Kubutambahan, yakni Desa Bengkala.
Ia merinci, khusus Desa Sinabun, mendapat tugas ngaturang pujawali saat Anggarkasih Julungwangi. Sedangkan Desa Suwug bertugas menghaturkan pujawali saat Purnama Sasih Kenem. Kemudian Desa Bengkala menghaturkan pujawali saat Anggarkasih Prangbakat
“Konon witnya dari Sinabun. Cuma karena ada merana gering, karena pernah diserang pasukan semut merah. Itu sebabnya, sebagian penduduk pilih pindah ke Desa Suwug dan Desa Bengkala,” beber Gusti Made Parta.
Sejauh ini, pamedek yang nangkil ke Pura Agung Menasa, lanjutnya, bukan hanya berasal dari tiga desa penyungsung tersebut. Ada pula pamedek yang berasal dari penjuru Bali, bahkan luar Bali seperti Jawa.
Konon mereka nangkil ke Pura Agung Menasa setelah menerima pawisik atau petunjuk gaib. “Ada yang nunas tamba, memohon kemakmuran, dan itu keyakinan saja,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya