Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sapta-ta, Tujuh Aspek Tatenger Tangani Penyakit dalam Usada Bali

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 4 Juni 2021 | 15:03 WIB
Sapta-ta, Tujuh Aspek Tatenger Tangani Penyakit dalam Usada Bali
Sapta-ta, Tujuh Aspek Tatenger Tangani Penyakit dalam Usada Bali

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Usadha Bali selalu menarik dikupas. Tidak hanya menyajikan ulasan tentang pengobatan beragam penyakit. Tapi juga mengulas tata-cara mendiagnosis berbagai penyakit yang dialami pasien secara tradisional.


Akademisi Usada Bali Gede Sutana, S.Kes, M.Si mengatakan, salah satu proses yang paling penting dilakukan seorang dokter dalam proses pengobatan penyakit adalah diagnosis. 


Diagnosis merupakan suatu proses yang dilakukan pemeriksa atau dokter dengan memeriksa gejala-gejala dan tanda penyakit pasien.


Lalu, bagaimana jika pasien berobat ke pengobat tradisional, termasuk balian usada? Sutana mengatakan, dalam ilmu usada Bali, proses diagnosis ini dikenal dengan istilah Tatenger. Tatenger merupakan salah satu bagian terpenting dalam pengobatan suatu penyakit.


“Secara leksikon, Tatenger berasal dari leksikon Tenger yang bermakna berciri, kedengaran, atau mengandung unsur yang khas,” jelasnya, kepada Bali Express (Jawa Pos Grpup) Selasa (1/6) siang.


Istilah Tatenger diartikan sebagai usaha yang dilakukan untuk mengenali penyakit yang diderita berdasarkan ciri atau tandanya. Tatenger dalam ilmu usada Bali sering disepadankan dengan diagnosis dalam kedokteran modern.


“Diagnosis itu penting dilakukan. Karena dokter bertugas memeriksa gejala-gejala dan tanda penyakit yang ditunjukkan pasien,” imbuhnya.


Sedangkan Tatenger juga memiliki definisi yang sama dengan diagnonis, yaitu proses memeriksa gejala-gejala dan tanda penyakit yang ditunjukkan oleh pasien. Akan tetapi yang memeriksanya adalah seorang balian usada dan metodenya menggunakan metode tradisional sesuai pengobatan usada Bali. 


Dalam proses Tatenger, ada tujuh aspek yang perlu diperhatikan. Ketujuh aspek ini dikenal dengan istilah Sapta-ta. Dikatakan Sutana, bagian-bagian dari Sapta-ta tersebut, diantaranya Tanya.


Tanya atau komunikasi merupakan hal yang penting untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien. Pada umumnya, seorang balian melakukan komunikasi dengan pasiennya, umumnya dengan cara bercakap-cakap dengan pasien beserta keluarganya maupun dengan sasuhunan yang diiringnya.


Selanjutnya Teleng atau Teleb. Dimana, seorang balian diyakini memiliki kekuatan penglihatan yang menyembuhkan. Seorang balian di Bali dipahami sebagai sang wikan yang tidak mendapatkan kemampuannya secara instan, namun melalui proses belajar yang panjang. Seorang penyembuh di Bali setara dengan yogin yang terbiasa berkonsentrasi total pada suatu objek, dalam hal ini si sakit secara utuh.


Jadi, tidak ada yang dilewatkan oleh balian yang telah mumpuni nengerin lara (mendiagnosis penyakit), keterpusatan pandangan pada suatu objek dengan bersungguh-sungguh inilah yang dinamakan dengan Teleng.


Tentu saja Teleng didasari oleh Teleb (pengetahuan yang matang), jika tidak didasari Teleb, tentu Teleng tidak akan ada gunanya. “Kalaupun mampu melakukan Teleng dengan sempurna, jika tidak tahu apa tujuan dan hal yang dicari dalam proses tersebut tentu tidaklah berguna,” imbuhnya.


Kemudian pada tahapan Tahen, merupakan proses pemeriksaan yang dilakukan dengan cara menyentuh bagian tubuh pasien yang sakit maupun bagian-bagian lain yang berkaitan dengan penyakit yang di derita pasien.


Setelah itu, dilanjutkan dengan Tanda. Tahapan ini merupakan kemampuan membaca tanda-tanda yang dikeluarkan oleh penyakit yang diderita pasien. Tanda menentukan hidup mati pasien, umur penyakit, dan sebagainya.


Selanjutnya Tangar, merupakan manifestasi dari kehati-hatian dan ketelitian yang harus dimiliki oleh seorang balian. Sekali lagi Tangar tidak mungkin bisa diperoleh secara instan tanpa proses penggemblengan yang panjang.


Cara selanjutnya adalah Tenung. Tenung berupa pembacaan aspek-aspek yang sekilas tidak ada hubungannya dengan penyakit, namun dalam banyak kasus dapat membantu proses penyembuhan. Aspek-aspek yang dicermati para balian ketika mendiagnosis suatu penyakit seperti hari kelahiran pasien, hari kambuhnya penyakit, keadaan pekarangan, gerak gerik, arah datangnya pasien, dan semacamnya.


Ilmu kedokteran modern memang belum mampu menjangkau pengetahuan semacam itu, bahkan dianggap tidak rasional. “Meskipun demikian, Tenung menggambarkan betapa luasnya cakupan usada Bali yang melihat keterhubungan antara satu akibat dengan sebab-sebab yang sangat rumit,” jelasnya.


Kemudian Tamba (obat). Obat merupakan puncak dari pemeriksaan sebelumnya yang dilihat sebagai sesuatu yang holistik. Kesalahan satu tahap saja dalam proses nengerin lara, maka akan berakibat pada kesalahan memberikan obat.


“Jadi, perlu dipahami, Sapta-ta ini telah digunakan balian usada dalam menyelamatkan banyak orang pada masa lampau, sebelum hadirnya pengobatan medis khususnya di Bali,” ungkapnya.


Dalam menerapkan metode diagnosis ini, banyak aspek lainnya yang menunjang Sapta-ta dalam proses Tatenger 'diagnosis' dalam ilmu pengobatan usada Bali. Sehingga dapat dijelaskan jenis penyakit yang diderita pasien, serta penanganan dan obat yang tepat melalui tanda dan gejala penyakitnya, sehingga proses nengerin ini mampu menyembuhkan penyakit yang diderita pasien. 




Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #upacara #hindu