SINGARAJA, BALI EXPRESS-Bagi umat non Hindu yang masuk menjadi pemeluk Hindu wajib menjalani ritual Sudhi Wadhani. Upacara ini bisa dimaknai sebagai pengukuhan atau pengesahan ucapan atau janji seseorang yang secara tulus ikhlas dan hati yang suci, menyatakan menganut ajaran Agama Hindu.
Anggota Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Buleleng, I Made Hartaka, M.Fil.H, mengungkapkan, pelaksanaan upacara Sudhi Wadhani dilaksanakan secara bertahap. Secara garis besar pelaksanaan diawali dengan meminta blangko permohonan Sudhi Wadhani kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia setempat, serta melengkapi persyaratan administrasi.
Selanjutnya pihak Parisada sebagai penanggung jawab pelaksanaan upacara Sudhi Wadhani menunjuk atau merekomendasikan salah seorang rohaniawan untuk memimpin upacara, mempersiapkan upakara, dan tempat pelaksanaan upacara.
Setelah ditentukan pemimpin upacara, upakara, tempat upacara, Parisada memanggil calon yang akan disuddhikan, biasanya tempat pelaksanaan upacaranya adalah di pura atau tempat suci yang dipandang cocok untuk melangsungkan acara.
Setelah semua persiapan dilakukan, pemimpin upacara terlebih dulu mengantarkan upakara itu dengan puja mantra ke hadapan Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya yang dipusatkan pada bangunan suci Padmasana.
Kepada calon yang akan mengikuti ritual Sudhi Wadani diharapkan sudah siap lahir batin, persiapan lahir dengan terlebih dulu mandi, keramas serta mengenakan pakaian yang bersih dan rapi.
“Sedangkan persiapan batin yang patut dilakukan adalah memantapkan bhakti dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Hyang Widhi sebagai saksi agung,” ujar pria yang juga dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.
Sebelum memasuki halaman tempat suci, terlebih dulu dilaksanakan upacara Byakala, agar yang disuddhikan dibersihkan dari pengaruh Bhutakala yang bercokol pada tubuh yang bersangkutan. Doanya : Om kaki bhuta penampik lara, kaki bhuta penampik klesa, nguaduraken bhaya kalaning manusaning hulun. Om ksama sampuma ya nama.
Setelah melaksanakan upacara Byakala, orang yang disuddhikan diantar masuk ke dalam tempat suci, kemudian dilakukan upacara Prayascita.
Upacara ini bertujuan agar yang bersangkutan dapat dibersihkan dan disucikan dari 'kotoran', sehingga Atma yang bersemayam dalam diri pribadinya dapat memancarkan sinarnya. Doanya : Om Sri Guru Saraswati, sarwa roga, sarwa papa, sarwa klesa, sarwa kali, kuluwasa ya namah swaha.
Upacara selanjutnya adalah persembahan upakara berupa Tataban atau Ayaban sebagai pernyataan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi. Doanya : Om Bhuktyantu sarwa dewa bhuktyantu triloka natham segenah sapariwarah, sarwagah, sadhasidasah.
Setelah selesai menghaturkan upakara, pemimpin upacara membacakan pernyataan yang sudah ditulis oleh yang melakukan Sudhi Wadhani, kemudian ditirukan dengan seksama.
Adapun bunyi surat pernyataan yang ditulis pada blangko surat pernyataan calon Sudhi Wadhani adalah sebagai berikut : Om Tat Sat ekam eva adityam Brahman (Sang Hyang Widhi Wasa hanya satu tidak ada duanya). Satyam eva jayate (Hanya kebenaran yang jaya/menang). Dengan melaksanakan ajaran Agama Hindu kebahagiaan pasti akan tercapai.
Kemudian selesai mengucapkan pernyataan tersebut, yang disudhikan disuruh menepati pernyataannya itu dengan mengucapkan janji sebagai berikut : bahwa saya akan tunduk serta taat pada hukum Hindu. Bahwa saya tetap akan berusaha dengan sekuat tenaga dan pikiran serta batin untuk dapat memenuhi kewajiban saya sebagai umat Hindu.
Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Surat Keterangan Sudhi Wadhani, baik oleh yang bersangkutan maupun oleh para saksi-saksi. Setelah penandatanganan selesai, dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dipimpin pemimpin upacara guna memohon persaksian dan restu dari Hyang Widhi.
Kegiatan ini dimulai dengan menyembah tanpa sarana (tangan kosong) yaitu tangan dicakupkan, diangkat setinggi dahi, sehingga ujung jari sejajar ubun-ubun.
Selanjutnya menyembah dengan bunga/kembang, menyembah dengan kwangen, menyembah tanpa sarana, memohon tirtha (air suci) yang dipercikkan, diminum dan diraup.
Sebagai rangkaian terakhir dari pelaksanaan upacara Sudhi Wadhani adalah dharma wacana yang diberikan Parisada Hindu Dharma Indonesia atau yang mewakili.
Hal ini bertujuan rnemberikan bekal dan tuntunan kepada umat yang baru mulai menganut agama Hindu, sehingga mereka mengetahui isi ajaran Agama Hindu. “Upacara ditutup dengan memberikan ucapan selamat oleh yang ikut menyaksikan berlangsungnya upacara Sudhi Wadhani dan diakhiri dengan Parama Santhi,” pungkasnya.
Lantas bagaimana menilai kualitas upacara Sudhi Wadhani yang dilaksanakan? I Made Hartaka, M.Fil.H, menerangkan, kualitas upacara Sudhi Wadhani tidak ditentukan berdasarkan jumlah atau kuantitas upakara yang digunakan.
Upacara seyogyanya dilaksanakan melihat kondisi dan situasi daerah masing-masing, namun tetap dalam koridor ajaran Agama Hindu. Ini menjadi salah satu poin pelaksanaan upacara, sehingga umat yang melaksanakannya tidak merasa terbebani.
“Namun yang paling utama dari pelaksanaan upacara Sudhi Wadhani adalah kesucian pikiran dan niat yang tulus dari pelaksana upacara itu sendiri,” ujar Hartaka kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Sesuai dengan hasil Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu tahun 1982, ditetapkan tiga tingkatan atau kategori sarana upacara Sudhi Wadhani.
Sarana yang digunakan Byakala, Prayascita, Tataban, sesuai dengan kemampuan. “Penggunaan sarana ini termasuk tingkatan paling besar (uttama),” jelasnya.
Menggunakan sarana berupa : bunga, bija dan bhasma. Penggunaan sarana ini sudah termasuk tingkatan sederhana (madyama). Selanjutnya menggunakan sarana berupa bunga, bija, air. Penggunaan sarana ini sudah termasuk tingkatan kecil (kanistha).
Dalam pelaksanaannya selalu disertai dengan penggunaan api dalam bentuk dupa dan dipa, serta air suci (tirtha) dan mengucapkan mantram penyucian diri: Om, Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Ws, Ya, Am, Um, Ma, Om. “Tetap dilaksanakan baik upacara tersebut dalam tingkatan besar, sederhana maupun kecil,” imbuhnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya