DENPASAR, BALI EXPRESS — Setiap pelaksanaan piodalan ataupun upacara lainnya, biasanya dibuat Sate Tungguh. Sarana ritual ini dibuat dari olahan daging babi yang dibentuk sedemikian rupa sesuai seni dari masing-masing daerah di Bali.
Sate Tungguh digunakan baik dalam dewa yadnya, manusa yadnya maupun bhuta yadnya. Seperti upacara manusa yadnya, yakni pernikahan di Bali, biasanya di depan bale dangin tempat prosesi upacara berlangsung, juga diisi Sate Tungguh.
Secara persembahan atau fungsi yadnya sebagai ayaban, namun ada juga Sate Tungguh yang dimodifikasi memiliki fungsi yang sama. Hanya saja mengarah ke seni, sebagai sebuah ayaban sekaligus dekorasi.
Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma (PHDI) Provinsi Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika, Minggu (13/6) menjelaskan, Sate Tungguh tersebut memiliki fungsi sesuai bentuk yadnya. Bahkan, dalam bentuknya memiliki makna di dalam tattwa, susila, dan upacara yang ada di Bali.
“Kalau di Bali Barat itu disebut dengan Sate Bunga, sementara di Bali Timur Sate Tungguh, ada juga yang bilang Pajegan,” paparnya.
Secara penampilan memang mirip di daerah satu dengan yang lainnya. Hanya saja penyebutannya berbeda-beda, termasuk dalam bentuknya berdasarkan seni di masing-masing daerah.
“Seni dalam bentuknya sesuai daerah masing-masing, beda penyebutan, tapi bentuknya hampir mirip semua,” tandas Pinandita Pasek Swastika.
Ditambahkannya, secara simbolis Sate Tungguh merupakan pangider bhuwana yang menggambarkan dunia ini beserta isinya dari segala arah. Sementara bentuk dan ukurannya sesuai besar kecilnya suatu yadnya itu sendiri, ada yang nista, madya dan utama dalam pelaksanaan yadnya.
“Dalam pernikahan ini mengikuti tingkatan upakara, ada alit, madya, dan utama. Selain di manusa yadnya dan dewa yadnya, pada bhuta yadnya juga ada Sate Tungguh. Tentunya menggunakan bahan olahan dari daging babi. Ada yang berupa sate lilit, hingga bentuk lainnya dalam seni pembuatan hiasannya,” tandas pria asal Jembrana ini.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya