DENPASAR, BALI EXPRESS-Bali senantiasa memiliki keunikan. Seni dan budaya yang khas menjadi ikon yang tak bisa dilepaskan. Saat berbicara Bali, maka orang akan terbayang akan pulau yang indah dengan pemandangan alam yang eksotis, pertunjukan seni, pakaian, tarian, dan sebagainya.
Selain itu, ada beberapa mitologi unik yang dahulu kerap disampaikan orang tua. Namun kini banyak mitologi unik ini mulai terlupakan di tengah kemajuan zaman.
Padahal, mitologi ini menyimpan berbagai makna, terutama terkait etika. Bahkan menurut Jro Mangku Wayan Pada, ada mitos-mitos lain yang juga hidup di masyarakat tradisional Bali. Hal itu tentu memiliki makna tertentu yang bisa dilestarikan sesuai manfaatnya, meski zaman sudah berubah.
“Jadi tak melulu mitos itu hal yang usang. Kita di zaman modern ini justru hendaknya menggali makna-makna mitos itu, bukan lalu meninggalkannya begitu saja,” tegasnya.
Ia berharap mitos-mitos tersebut dilestarikan sebagai pembelajaran etika bagi generasi saat ini dan seterusnya. Sebab, orang Bali dikenal di mata dunia karena etika, yakni sopan dan santun. Baik dalam pikiran, perkataan, maupun tingkah laku.
“Memang kadang kalau diartikan begitu saja akan konyol, tapi kalau kita cerdas, maka menggali makna mitos-mitos tersebut dan melestarikannya. Jadi, mitos-mitos itu bukan untuk dilupakan, tapi perlu digali makna dan manfaatnya,” tutupnya.
Deretan mitos-mitos yang ada di masyarakat Bali sejak dahulu, seperti dilarang makan sambil berbicara. Makan sambil membicarakan sesuatu pada saat sekarang bukan hal yang tabu. Bahkan, terkadang orang yang membicarakan sesuatu yang penting, mencari tempat khusus, kemudian sambil membicarakan hal tersebut. Namun dahulu, kebiasaan ini dianggap tidak sopan. Kegiatan makan adalah kegiatan yang cukup disakralkan.
“Secara logika, tentunya berbicara saat makan mengundang risiko tersedak. Sehingga orang tua kita menyuruh diam dan fokus pada makanan. Jika ingin berbicara, maka setelah selesai makan saja,” ungkapnya.
Mitos berikutnya, yakni meludahi orang, bisa mengakibatkan si peludah tumbuh tahi lalat. Mitos ini juga cukup ampuh bagi anak-anak zaman dahulu. Biasanya anak-anak saat bermain meludahi teman sepermainan atau orang lain. Baik karena maksud bercanda atau kesal.
“Meludahi orang tentu tindakan yang tak patut dilakukan, walaupun dengan maksud bercanda. Tapi untuk meyakinkan anak-anak, maka dibuat mitos bahwa yang meludahi orang lain akan tumbuh tahi lalat,” ujarnya.
Mitos lainnya yang menarik, yakni tak boleh duduk di atas bantal. Konon bisa menyebabkan pantat bisulan. “Nah, ini juga terkait dengan etika. Bantal kan alas kepala saat tidur, jadi tak etis jika diduduki. Orang tua pada zaman dahulu sangat menyakralkan kepala. Bahkan, dalam hal tertentu tak dibolehkan berjalan di bawah tempat jemuran, karena ada mitos juga akan membuat bodoh,” terang Jro Mangku Pada.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya