DENPASAR, BALI EXPRESA-Di Bali (Hindu) ada beberapa mitologi yang dahulu kerap disampaikan orang tua, agar orang patuh akan aturan. Namun kini banyak mitologi unik ini mulai terlupakan di tengah kemajuan zaman. Salah satunya adalah larangan menyapu pada malam hari. Ada apa dengan aktivitas ringan malam hari ini?
Meski kebanyakan orang tua tak menjelaskan alasannya. Namun, menurut Jro Mangku Pada asal Tabanan ini, menyapu malam hari berisiko menghilangkan benda berharga yang tak sengaja jatuh di lantai.
“Zaman dahulu kan penerangan terbatas, jadi bisa saja benda-benda penting tak sengaja jatuh. Sehingga dikhawatirkan bisa ikut tersapu. Selain itu, menyapu pada malam hari juga hasilnya tak maksimal, karena kotoran, seperti debu atau sampah bisa tertinggal karena tak terlihat,” jelasnya, pekan kemarin.
Tak hanya menyapu, memotong kuku malam hari juga dilarang. Hal ini dianggap mengundang pamali atau sial. “Ya, seperti itu tadi, kan penerangan terbatas. Nah, memotong kuku malam hari bisa berisiko menyebabkan jari terluka. Sehingga ini mungkin yang disebut mengundang sial,” kata Jro Mangku 47 tahun ini.
Makan sambil berdiri, nasi turun ke kaki juga mitos yang akrab bagi anak-anak zaman dahulu. Sehingga saat makan diwajibkan duduk. Tak heran orang tua akan memarahi anaknya yang makan sambil berdiri, apalagi berjalan. “Secara logika, makan saat posisi berdiri kurang baik bagi kesehatan. Jadi disarankan agar duduk dengan posisi yang nyaman,” ujarnya.
Dilarang menyentuh kepala orang lebih tua tanpa izin, bisa tulah. Demikian biasanya anak-anak diingatkan. Jika ditanya lebih lanjut tulah itu bagaimana, maka orang tua pun mengatakan kita nantinya berjalan dengan tangan dan kaki di atas. Hal ini cukup efektif membuat anak-anak zaman dahulu merasa ngeri.
“Seperti soal bantal itu. Kepala adalah bagian tubuh yang cukup sakral. Sehingga diperlakukan istimewa. Jangankan menyentuh kepala orang yang lebih tua, menyentuh kepala teman saja tak sebaiknya dilakukan, walau untuk bercanda. Jadi berkaitan dengan etika,” terangnya.
Selain larangan menyentuh kepala, orang yang lebih muda juga dibiasakan untuk mengucap permisi dengan kata tabik atau sugra jika lewat di depan orang yang lebih tua. Apalagi saat terpaksa melangkahi badan orang tua dalam situasi tertentu. Hal ini menurut Jro Mangku Pada juga bagian dari etika.
Kemudian ada pula larangan memberikan carikan atau sisa makanan kepada orang tua. Hal ini juga menurutnya berkaitan dengan etika. Layaknya, anak-anak menyuguhkan makanan yang masih sukla kepada orang tua.
“Carikan atau paridan memang tak seyogyanya disuguhkan kepada orang yang lebih tua. Walaupun kenyataannya, kadang dengan kasih sayangnya orang tua memberikan dahulu makanan untuk dinikmati oleh anak-anaknya. Jadi, mitos ini membentuk rasa hormat anak kepada orang tua, terutama saat ia nantinya dewasa, agar senantiasa memperlakukan orang tua dengan baik,” katanya.
Orang tua zaman dahulu juga melarang anak-anak bersiul di malam hari. Konon bisa memanggil makhluk halus atau orang-orang yang menjalankan ilmu gaib, seperti leak. “Kalau soal ini memang sulit untuk dibuktikan. Namun kemungkinannya adalah bersiul di malam hari bisa mengganggu. Selain itu, suara siulan bisa jadi berupa isyarat tertentu pada zaman dahulu. Sehingga tak disarankan bersiul pada malam hari,” katanya.
Mitos unik lainnya, yakni menempatkan sapu lidi anyar atau belum pernah digunakan untuk menyapu di sebelah bayi sebagai penangkal gaib. Konon sapu lidi memiliki kekuatan yang membuat takut makhluk gaib. Sehingga sapu lidi secara tak langsung dijadikan penjaga bayi agar tenang dan tidurnya nyenyak.
“Diletakkan di samping bayi, agar mudah digapai si ibu. Sapu lidi kan banyak gunanya. Misalnya sebagai penghalau serangga atau binatang. Jadi sapu lidi diletakkan dekat bayi,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya