Orang Bali umumnya sudah lupa, bahkan tidak tahu, sebelum dikenal dupa dengan lidi karena pengaruh Tionghoa. Rupanya, leluhur kita telah menggunakan kukus harum atau padipan dengan bahan utama kayu Majegau atau dikenal dengan nama Cempaga.
Kata majegau masih terselip dalam tembang orang Bali setiap kali bersembahyang, yang menembangkan syair tembang ini: "Asep menyan majegau". Asep menyan majegau, cendana nuhur dewane, mangda Ida gelis rawuh, mijil sakeng luring langit, sampun madabdaban sami, maring giri meru reko.
Filolog Sugi Lanus mengatakan Pohon Majegau dahulunya menjadi kebanggaan karena kekayaan hayati yang sangat khas dari pulau Bali. Pohon Majegau adalah flora identitas Provinsi Bali yang terlupakan. Bahkan nama lainnya, yaitu Cempaga, tidak lagi dikenal sebagai nama pohon di Bali orang sudah lupa kalau desa Cempaga (baik yang ada di Bangli dan Buleleng) adalah kawasan yang dulu hutan Majegau atau Cempaga.
Nama ilmiah dari Pohon Majegau atau Cempaga adalah dysoxylum densiflorum. Masuk dalam keluarga Meliaceae yang berkerabat dengan tanaman mahoni. Pohon ini bertumbuh mencapai ketinggian hingga 45 meter, dengan diameter batang rata-rata 65 cm. Kulit pohon ini berwarna kelabu-hijau. Buah berwarna kelabu-hijau yang berbentuk buah pir, memiliki panjang hingga 4 cm.
Majegau atau Cempaga dikenal dengan berbagai nama daerah yang berbeda-beda. Di Sunda Majegau dikenal dengan Pohon Pingku. Di Jawa dikenal dengan istilah cempaga. Lain lagi di Madura, akrab disebut kheuruh dan Tumbawa Rendai di Minahasa.
Di Bali tanaman majegau memiliki kualitas kayu yang baik sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan tterutama bangunan-bangunan suci. Sebagai bahan kerajinan ukiran dan juga digunakan sebagai kayu bakar upacara (pasepan) karena memiliki bau yang harum.
“Dalam khazanah pohon-pohon sakral di Bali, Majegau dipercaya sebagai simbol Bhatara Sadasiwa. Lontar Usana Bali menyebutkan harum asep majegau adalah sarana nedungang Hyang Sada Siwa,” ujar Sugi Lanus.
Cempaga atau Majegau pun dipakai secara khusus dalam upacara manusa yadnya. Kayu majegau dibakar dalam pelaksanaan upakara sebagai padupan-padipan. Harum asap Majegau ini yang dikenal sebagai kukus-harum. Daun dan bunga untuk canang. Parutan kulit kayunya dapat dipakai sebagai pengganti kapur untuk membuat porosan.
Kolektor ratusan cakep lontar Usada Bali ini menyebutkan pada masa lalu, ketika para pandita penasihat raja membuat agni-horta (homa-traya) sebagaimana disebut dalam Lontar Tatwa Witt ketika Bhagawan Purbbhasomi dan Bhagawan Romacana meruwat bumi, Majegau dipakai sebagai kukus-harum.
“Maka papanganan agni, samiddha utama, candhana, majegau, kelapa, menyan, titibakaken tengah kundha,”
Fungsi Pohon Majegau juga tersirat dalam Lontar Gegelaran Pemangku Sangkulputih. Dalam lontar itu menyebutkan pohon Majegau sebagai sarana menurunkan para leluhur dan dewata. Ini terlihat dalam mantram” Om Pukulun paduka Bhatara, manusanira aminta nugraha, ring para Bhatara malejeg maring menyan majegau..”
Sementara itu, dalam dunia usada, dalam lontar Taru Pramana, disebutkan bahwa Majegau dipakai sebagai obat nelunelu (mual- mual). Bagian yang dipakai: Getah, akar dan daun majegau diisi dengan air cuka, garam ireng (uyah ireng) lalu diulek (cakcak), airnya disaring kemudian diminum. Disamping itu secara tradisional juga digunakan untuk mengobati iritasi kulit, mencegah hipertensi, mengobati infeksi saluran kencing, dan menurun demam
“Titiang taru majegau. Daging dumalada, don titiang dumalada, babakan dunatada, akah tis. Titiang dados anggen tamba yanhana wong sakit delu-delu, tan kuasa ngutah. Rereh getah titiang,akah rauh rong don campuhin cuka,uviltareng, anggen loloh”.
Jika diartikan “Saya pohon gaharu. Kandungan zat saya sedang,daun saya sedang, kulit batang sedang, akar dingin. Saya dapat digunakan obat mual-mual yang tidak bisa muntah. Ambil getah saya akar sampai dengan daun dicampur cuka, garam arang untuk jamu”
Dikatakan Sugi Lanus, saat dirinya mengobrol dengan seorang tukang kayu yang tinggal tidak jauh dari desa Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng, disebutkan dulu memang banyak ada Majegau di sana. Demikian juga di hutan Selat.
“Si tukang kayu itu mengaku tidak menyangka ketika membeli kayu bekas, mendapat beberapa batang kayu bekas itu adalah majegau. Kabarnya memang dulu majegau banyak dibalak di hutan dan dijadikan bahan bangunan,” imbuhnya.
Demikian juga, di jaman patung bust (patung setengah badan) dari Bali banyak dibuat, dari semenjak tahun 1930-an sampai 1970-an. Hampir 50 tahun, pembuatan bust banyak berbahan kayu majegau.
“Tanpa sengaja ketika saya menggosok salah satu koleksi bust saya, tercium aroma harum majegau. Ternyata, kabar tersebut tidak isapan jempol, ada banyak bust dibuat dengan bahan majegau,” paparnya.
Masyarakat Bali, sebut Sugi Lanus sepertinya harus membayar kembali kelangkaan majegau yang habis oleh berbagai konsumsi tidak bijak di masa lalu. Salah satunya dengan cara kembali menanam Majegau.
“Terkhusus, masyarakat Cempaga, baik yang ada di Bangli dan Buleleng, ada baiknya kembali menanam Majegau karena nama lain dari Cempaga adalah Majegau. Agar generasi mudanya paham kalau nama desanya adalah berasal dari nama pohon,” ungkapnya.
Para ahli kehutanan menilai Bali perlu kembali menanam pohon ini untuk penghutanan kembali Bali karena pohon ini pohon penting dalam khazanah upakara dan pohon asli pulau ini. Bali memerlukan banyak majegau, sekarang dan di masa depan, untuk renovasi pura.
“Kayu Majegau adalah kayu yang sangat tinggi kedudukannya sebagai pelinggih dan bahan utama perbaikan pura-pura di Bali di masa lalu,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna