Etika berkomunikasi ternyata sudah diatur dalam sejumlah kitab-Kitab Hindu. Seperti Nisastra, Rg Weda, Atharwa Weda, Brhadnyaka, Mundaka hingga Slokantara. Komunikasi yang baik mencerminkan dari pribadi orang tersebut.
Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S mengatakan, kemampuan berkomunikasi menjadi hal utama sebagai cerminan seseorang selain integritas, kemampuan bekerjasama, kemampuan interpersonal, beretika dan memiliki inisiatif.
Dalam sejumlah pustaka Hindu, etika berkomunikasi menjadi penegasan agar senantiasa berbicara yang baik dan berpahala. Prof. Yudha Triguna menyebutkan di dalam slokasi Nitisastra, Adyaya 4. sloka III dengan jelas dinyatakan:
Wasita Nimittanta manemu laksmi, Wasita nimittanta pati kepangguh, Wasita nimittanta manemu dukha, wasita nimittanta manemu mitra.
Jika diartikan adalah “karena kata-kata engkau mendapa kebahagiaan Hidup, karena kata-kata kita menemui ajal, karena kata-kata kita bisa menerima nestapa dank arena kata-kiata kita dapat memperoleh banyak teman”
“Berbicara yang baik dan setiap pembicaraan dengan salam, Om Swastyastu. Dengan salam itu sesungguhnya kita membangun rasa kedekatan, rasa persahabatan dan rasa semakin berusaha untuk menyampaikan dan memahami maksd masing-masing,” jelasnya.
Kemampuan berkomunikasi tidak hanya sebatas skil semata. Tetapi harus mampu menunjukkan kepada lawan bicara bahwa kita amat senang berbicara dengan mereka. “Untuk menunjukkan rasa senang itu, ekspresi wajah, bibir ditarik sedikit untuk menunjukkan betapa berbahagianya kita. Tidak harus dengan yang orang tertentu saja. Tetapi dengan siapapun,” imbuhnya.
Di dalam Atharwa Weda, Adyaya VIII sukta 4, slokas 12 disebutkan: “Orang bijak, jana (bijak) mudah sekali memahami bahwa ada perbedaan antara kata-kata yang benar dan tidak benar. Kata-kata yang benar itu hendaknya selalu diucapkan, disukai oleh soma, ia menghancurkan yang tidak benar,”
Lanjut Prof. Yudha Triguna, di dalam Rg Weda, Mandala 1, Sukta 41, sloka 9, disebutkan “Semoga kita tak mengucapkan kata-kata kasar dan tidak sopan dan semoga kami dapat menahan diri dari orang yang menentang mereka yang didukung oleh empat hal yakni kebijaksanaan, kekuatan, kekayaan dan kesehatan,”
“Ucapan kata-kata atau pilihan diksi yang baik saat berkomunikasi. Karena hal ini dapat mencerminkan kualitas diri kita,” paparnya.
Kemampuan mengontrol diri dalam situasi apapun dibutuhkan agar kita mampu menjaga-kata-kata yang keluar dari bibir. Di dalam sloka Swetaswatara Upanisad. 2. 13 disebutkan,
“Ketika kita mampu berbicara, berkata-kata tentang hal benar, dengan cara benar dan sopan perkataan yang menyenangkan dinyatakan sama dengan hasil yoga. Perasaan ringan, perasaan sehat, ketegaran, kemantapan, perkataan, yang menyenangkan. Bau badan yang enak, buang kotoran sedikit inilah mereka katakan sebagai hasil pertama dari yoga,”
Dalam Kitab Mundaka Upanisad, Sloka I.2.6 menyebutkan “Persembahan yang gemerlapan itu mengundangnya dengan kata-kata datanglalah, datanglah dan menuntun pelaku yadnya dengan melalui sinar matahari, menghormatinya dan memberinya salam dengan kata-kata yang menyenangkan. Inilah dunia Brahma milik anda, yang anda peroleh dengan perbuatan-perbuatan baik,”
Untuk memiliki kualitas ucapan atau kata-kata yang menaik, benar juga perlu berlatih disiapkan sebaik mungkin. Termasuk melalui kualitas gisi makanan. Artinya orang yang mampu berbicara baik, mampu berbicara seara sopan, perlu dilatih disiapkan, juga makanan sangat berpengaruh terhadap semua itu.
Dalam Brhadyanaka, Mandala 4. Sukta 4, Sloka 18 dinyatakan “Sekarang bila seseorang menginginkan seorang puta yang terpelajar termashur menjadi pemimpin, pembiacara dengan kata-kata menarik, menginginkan agar kelak dia belajar Weda, mencapai umur panjang, mereka harus memasak nasi dengan daging dan memakaianya dengan ghee (susu) kemudian barulah mereka sanggup memperolehnya,”
Prof Yudha Triguna pun mengajak agar belajar terus menerus untuk berbicara. Karena bicara adalah ekpresi hati. Menurutnya, hati baik, tetapi jika tidak diungkapkan, maka tidak ada yang tahu bahwa hati kita baik.
“Kalau orang lain menolong kita segera ucapkan terima kasih, jangan tersenyum saja. Ternyata menyatakan terima kasih, memohn maaf perlu dilatih sebagaimana diatur dalam pustaaka Hindu,” katanya.
Dalam kita Slokantara, kitab 60 menegaskan untuk melatih diri agar tidak terbiasa mencaci maki, berkata bualan kosong, membuat janji palsu, dan nafsu yang tanpa batas. “Ajaran weda telah menysarakatkan menuntun untuk mampu berkomunikasi dan berbicara dengan baik,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna