Menjaga bumi agar senantiasa layak ditempati adalah tanggung jawab bersama. Bumi senantiasa menyediakan segala kebutuhan manusia yang seolah tidak ada habisnya. Dalamsejumlah pusataka Hindu, mitologi Bumi begitu gamblang diuraikan.
Dikatakan Prof Yudha Triguna, dalam Lontar Purwa Bumi Kemulan disebutkan, saat dunia resah, karena tanahnya tidak lagi menumbuhkan tanaman, air kotor, dan udara penuh polusi. Menyebabkan banyak orang sakit dan meninggal karena kondisi bumi yang memburuk akibat ulah manusia.
Mengetahui itu Bhagawan Manu menghadap Sang Hyang Tunggal, agar beliau menyelamatkan manusia dari kehancuran, karena rusaknya alam. Atas permohonan Bhagawan Manu, sang Hyang Tunggal mengutus Sang Hyang Tri Murti turun ke dunia untuk menyelamatkan alam dan manuisa beserta isinya dari kehancuran.
Sang Hyang Tunggal mengutus Sang Hyang Brahma turun menjelma menjadi Naga Anantaboga. Naga tersebut masuk ke dalam perut Bumi untuk memarisudha atau membersihkan segala kekotoran di dalam tanah.
Begitu juga Sang Hyang Wisnu ditugaskan untuk turun dan menjelma menjadi Seekor Naga Basuki. Kepalanya kemudian masuk ke laut. Sedangkan tubuhnya berada di bumi dan ekornya menjadi gunung.
Selanjutnya Dewa Iswara mendapat tugas untuk membersihkan polusi udara agar menjadi bersih kembali. Beliau menjelma menjadi Naga Taksaka, yaitu naga bersayap dan dapat terbang, untuk memarisuda atau menyucikan udara yang tercemar.
Mitologi inipun membuat Umat Hindu meyakini jika Bumi dijaga oleh tiga naga. Naga Ananta Boga yang berasal dari kata “An” berarti tidak. “Anta” artinya berakhir dan boga adalah makanan. Jadi bumi adalah tempat dimana makanan tidak pernah habis atau berakhir. Makanan tidak pernah habisnya.
Bumi juga dijaga oleh Naga Basuki yang diartikan sebagai sejahtera dan rahayu. Bumi dijaga oleh Naga Taksaka, sehingga udara dihaga agar bersih.“Ini sebuah mitologi, mengapa kita wajib hormat kepada Bumi,” imbuhnya.
Dalam Kitab Slokantara dinyatakan, Bumi dianalogikan sebagai Ibu. Jika tidak hormat kepada ibu, maka akan terekan Maha Pataka atau dosa terbesar yang tidak terampuni. Bagaimana tidak, Bumi telah melayani manusia selayaknya seorang ibu yang tidak pernah marah dan mengeluh melayani anak-anaknya.
Bumi merelakan badannya, tubuhnya, jadi tempat buang kotoran, ia tetap melayani dengan penuh kasih sayang. Bumi adalah pemberi anugerah, ibarat Sapi Kamadhuk, yang berasal dari Kama yang berarti keinginan dan dhuk yang berarti pemberi. “Bumi memenuhi seluruh keinginan manusia. Itu seperti kisah susunya, selalu diambil, diperah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya,” ungkapnya.
Lalu bagaimana cara menghormati Bumi? Prof Yudha Triguna mengatakan, caranya adalah dengan Niwerti Marga atau jalan kerohanian. Melalui pemujaan dan persembahan. Terutama melalui upacara Bhuta Yadnya dan Sad Kerti, yaitu Wana Keti, Danau Kerti, Samudra Kerti, Atma Kerti, Jana Kerti dan Jagat Kerti.
Selain jalan Niwerti Marga, hormat kepada bumi juga dapat dilakukan dengan Prawerti Marga. Yaitu tindakan atau aksi nyata, perilaku peduli terhadap lingkungan dan secara sistematik dengan tidak merusak alam.
Menurutnya, inspirasi menjaga bumi datang dari ajaran universal dai tokoh bernama Mahatma Gandhi. Beliau pernah menyatakan, “Bumi sanggup memenuhi kebutuhan semua orang. Tetapi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu orang pun yang rakus dan serakah,”
“Untuk itu marilah kita hidup dengan senantiasa menjaga bumi dan tidak serakah. Semoga sesuluh ini mampu memberikan wawasan dan mengingatkan kita semua agar menjaga, mencintai dan aktif merawat bumi,” pungkasnya. (habis)
Editor : Nyoman Suarna