Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ala Ayuning Dewasa, Terungkap dalam Lontar Taru Pramana

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 4 November 2021 | 19:49 WIB
Ala Ayuning Dewasa, Terungkap dalam Lontar Taru Pramana
Ala Ayuning Dewasa, Terungkap dalam Lontar Taru Pramana

Ala ayuning dewasa rupanya bertalian erat dengan usada Bali. Sebab, banyak balian yang menjalankan pengusadaan menerapkan ala ayuning dewasa untuk mengobati pasien. Keyakinan inipun telah dijalankan secara turun-temurun.


Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, Nyoman Suka Ardhiyasa, M.Pd mengatakan, ada tiga jenis penyakit menurut lontar Usada Bali. yakni penyakit panes (panas), nyem (dingin), dan sebaa (panas-dingin).


Begitu halnya dengan obat dalam usada ada tiga macanı yaitu obat yang berkhasiat anget (hangat), tis (sejuk) dan dumelada (sedang). Untuk melaksanakan semua aktivitas ini Batara Siwa memberikan wewenang kepada Batara Brahma, Wısnu, dan Iswara.


“Penyakit panes dan obat yang berkhasiat anget menjadi tugas dan kewenangan Batara Brahma. Batara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkhasiat tis. Batara Iswara mengadakan penyakit sebaa dan bahan obat yang berkhasiat duınelada,” jelasnya.


Dalam Ayurweda yang banyak dikutip oleh para Balian di Bali, disebutkan bahwa penyakit atau wyadhi menutut kausa atau pcnyebabnya dibagi atas Adhyatmika yaitu penyakit berkausa adhyatmika adalah penyakit yang penyebabnya berasal dari dalam dirinya sendiri.


Misalnya adibala prawrta merupakan penyakit keturunan. Penyakitnya diturunkan oleh orang tuanya, merupakan kelainan genetika, seperti penyakit kencing manis, buta warna. janmabalaprawrta penyakit yang diperoleh ketika berada di dalam kandungan (kongenital).


Akibat pengaruh sewaktu sedang berada di dalam kandungan, timbul penyakit tersebut, misalnya karena ibunya kurang gizi, sehingga bentuk tubuh anak menjadi tidak normal, ibunya meminum obat tertentu sehingga anaknya lahir cacad.


Kemudian doshabala prawrta yaitu penyakit akibat gangguan ketidakseimbangan pada unsur tri dosha (vatta, pitta, kapha atau angin, api, air) di dalam tubuh. Penyakit ini yang paling banyak terjadi pada manusia.


Sewaktu janin dalam proses pertumbuhan terjadi berbagai gangguan, sehingga sel dan organ tubuhnya mengalami kelainan, sehingga fungsinya menjadi tidak optimal. “Misalnya mudah terserang penyakit pilek, batuk, alergi, demam,” imbuhnya.


Adhidaiwika adalah penyakit akibat pengaruh lingkungan di luar tubuhnya seperti kalabala prawrta penyakit muncul akibat pengaruh musim. Misalnya pada musim hujan timbul penyakit pilek, demam. Pada musim panas mudah terserang penyakit batuk. daiwabala prawrta yaitu gangguan niskala, supranatural, tidak tampak.


Di Bali dipercayai bahwa bila seseorang tiba-tiba jatuh sakit tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya, sering disebut penyakit yang berkausa niskala. Misalnya penyakit bebai, gering agung. swabhawa bala prawrta akibat gangguan sekala, natural, tampak, misalnya demam karena kehujanan, benjol terkena lemparan batu, luka bakar akibat tersulut api.


Adhibautika yaitu penyakit yang diakibatkan oleh benda tajam, sehingga menimbulkan luka yang dalam akibat irisan benda tajam, goresan benda, atau karena gigitan binatang. sastrakrta yaitu luka terkena benda tajam, seperti teriris pisau, tertusuk tusuk sate. waylakrta luka akibat gigitan binatang, seperti luka karena digigit anjing, kucing, monyet, ular.


Dalam beberapa lontar di Bali, obat dibagi menurut khasiatnya ada tiga macam, yakni obat berkhasiat anget (hangat), tis (dingin) dan dumalada (sedang, netral). Bagaimana cara menentukan khasiat obat ini belum diketemukan jawabannya di dalam lontar usada.


Lontar Taru Pramana hanya menyebutkan berbagai jenis tanaman yang berkahsiat anget, tis, dan dumalada, tanpa mengulas bagaimana cara mengetahui khasiat yang dikandung tanaman tersebut. Misalnya daun paya, babakan atau kulit pohon belimbing, babakan pohon tanjung, dan sebagainya, memiliki khasiat anget.


“Tanaman yang berkhasiat tis adalah getah awar-awar, akar dan buah belego, akar dan daun kayu manis, dan sebagainya. Tanaman yang mempunyai khasiat dumelada antara lain akar delima, akar kenanga, getah kenari, daun sembung,” paparnya.(bersambung)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#balinese #dewasa ayu #hindu