Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Komunitas Sunda Wiwitan Aktif Tangkil ke Pura Dalem Solo

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 16 November 2021 | 14:20 WIB
Komunitas Sunda Wiwitan Aktif Tangkil ke Pura Dalem Solo
Komunitas Sunda Wiwitan Aktif Tangkil ke Pura Dalem Solo

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Pura Dalem Solo yang terletak di Desa Sedang, Abiansemal ini merupakan salah satu pura yang unik. Selain umat hindu yang merupakan pengempon pura, masyarakat yang tergabung dalam Padepokan Gagak Karancang Indonesia khususnya Komunitas Sunda Wawitan di Bali juga aktif tangkil ke Pura yang termasuk salah satu cagar budaya tersebut. Persembahyangan tersebut dilakukan bertepatan dengan pementasan Tari Sang Hyang Jaran Kecak, beberapa waktu lalu.


 


Guru Besar Padepokan Gagak Karancang Ki Raga Sukma mengatakan, jika dilihat dari sejarahnya Pura Dalem Solo merupakan warisan dari leluhur di Nusantara. Dapat dikatakan merupakan warisan pada masa kerajaan Majapahit. Ki Raga Sukma juga menuturkan persembahyangan yang dilakukan lantaran  Sunda Wiwitan masih satu garis keturunan dengan  orang Bali. "Sebenarnya kami masih satu pucuk. Kalau ditarik garis tengahnya kami masih satu garis keturunan juga," ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (14/11).


 


Menurutnya, persembahyangan yang dilakukan di Pura Dalem Solo selain didasari secara niskala, ternyata juga berdasarkan panggilan hati. Persembahyangan pun sudah dilakukan rutin sejak tahun 2020, tepatnya sebelum Covid-19. "Kami sering sembahyang diPura Dalem Solo saat rahinan-rahinan. Bahkan, kami juga sering sharing tentang budaya, tentang sejarah. Kalau bukan kami siapa lagi yang menjaga dan melestarikan sejarah dan budaya warisan leluhur," ungkapnya.


 


Ki Raga Sukma juga membeberkan, persembahyangan di Pura Dalem Solo juga dilakukan oleh komunitas-komunitas dari Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan NU juga sempat tangkil. "Kami disini menjalin silaturahmi, menjalin kekeluargaan. Astungkara, alhamdulillah semakin banyak saudara," bebernya.


 


Proses persembahyangan, ujar Ki Raga Sukma, sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh umat Hindu. Komunitas Sunda Wiwitan menggunakan waditra atau alat musik tradisional Sunda Wiwitan seperti karinding, celempung dan alat lainnya. Ki Raga Sukma juga menyebutkan, lantunan alat musik yang mengiringi proses persembahyangan hampir sama fungsinya seperti Genta yang digunakan para pendeta umat Hindu di Bali. "Kalau sunda wiwitan tidak hanya mantra yang diucapkan, namun doa itu dari hati. Dengan membunyikan karinding itu, juga ibarat sebuah mantra yang mengkoneksi dengan leluhur atau tuhan Sanghyang Karsa,” terangnya.


 


Lebih lanjut mwnambahkan, ada kesamaan konsep antara Hindu Bali dengan Sunda Wiwitan. Lantaran pihaknya juga mengenal konsep Betara dan Betari. “Astungkara metaksu, semoga sembahyang kami diterima oleh Hyang Widhi Wasa, betara betari yang ada di Pura Dalem Solo," pungkasnya. 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#balinese #badung