Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simbol Pemuliaan Air, Dilakukan sejak Jaman Ugrasena

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 18 November 2021 | 14:23 WIB
Simbol Pemuliaan Air, Dilakukan sejak Jaman Ugrasena
Simbol Pemuliaan Air, Dilakukan sejak Jaman Ugrasena

Umat Hindu di Bali sangat memuliakan air dan segala sumbernya. Air dianggap menjadi sumber kesuburan dan kesejahteraan. Tidak mengherankan, pemujaan air melalui Pura Ulun Danu sudah diwariskan para pendahulu sejak dulu di Bali, yang diyakini memberikan kesuburan kepada jagat Bali.


 


Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ayu Veronika Somawati, M.Fil.H mengatakan Pulau Bali memiliki empat Danau. Seperti Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Tamblingan. Seluruh danau tersebut memiliki Pura Ulun Danu.


 


Veronika menjelaskan, secara etimologi kata, Ulun artinya hulu dan danu artinya Danau. Jadi Pura Ulun Danu dapat diartikan sebagai Pura yang letaknya di hulu sebuah danau. Pura ini juga digunakan untuk tempat pemujaan Tuhan dengan manifestasinya sebagai Shang Hyang Dewi Danu atau Dewi Kesuburan.


 


“Ulun Danu ini adalah pusat dari sistem irigasi dan sumber air masyarakat di Bali. Keberadaan pura ini sangat penting peranannya bagi mereka yang hidup dari bercocok tanam,” jelasnya Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (17/11) siang.


 


Umumnya, sebelum panen atau memulai bercocok tanam, biasanya masyarakat Bali dari seluruh penjuru nangkil ke Pura Ulun Danu. Mereka berdoa dan meminta tirta (air suci) yang telah diberkati.


 


“Termasuk saat acara pujawali di pura Subak, ada Ngusabha, pasti selalu ada yang nunas tirta ke Pura Ulun Danu. Sehingga sangat tepat jika Pura ini juga digunakan untuk tempat pemujaan Tuhan dengan manifestasinya sebagai Shang Hyang Dewi Danu atau Dewi Kesuburan,” imbuhnya.


 


Dalam Lontar Usana Bali disebutkan yang berstana di Pura Luhur Ulun Danu Beratan adalah Bhatara Jayaningrat. Hal itu terungkap dalam kutipan: kawuwusan rahina, mijil Ida Bhatara Pasupati, mwang Bhatara Indra, lan Bhatara Mahadewa, tinangkil de ning dewata kabeh, makadi watek bhujangga resi sewa sogata. Angling Bhatara pasupati, “Uduh sira watek dewata, nghulun anibani wacana paratentu maring sira watek dewa kang umungguh maring pura-pura parwatta, sira Bhatara Gnijaya, umungguh sira ring gunung Lempuyang, Bhatara Jayaningrat, umungguh sira maring Beratan. Bhatara Putrajaya, manggeh sira sinembah ring gunung Jruk. Hana Mungguh ring Pejeng, Bhatara Manik Galba, nga. Bhatara Manik Gumawang umungguh sira maring watumadheg, Sira sadaya aja langgana mari nghulun”


 


Jika dimaknai secara bebas, bahwa Dewa Jayaningrat merupakan nama Dewa Lokal di Bali khususnya masyarakat yang memuja di Pura Ulun Danu Beratan. Kata Janingrat dapat diartikan yang selalu menang di dunia. Kata Jayaningrat juga memiliki makna sama dengan Dewi Laksmi yang berarti kemakmuran dan kesejahteraan.


 


Sebagai bentuk penghormatan terhadap kesejahtraan dan kemakmuran yang didapatkan oleh masyarakat, maka di Pura Ulun Danu dibuatkan pelinggih padmasana, meru tumpang sebelas, tumpang sembilan, tumpang tujuh, meru tumpang lima dan tumpang tiga sebagai tempat berstanya Dewi Danu. “Di Pura Ulun Danu Tamblingan, Dewi Danu distanakan di Meru Tumpang Tiga yang terletak di dalam Pura,” paparnya. (bersambung

Editor : I Dewa Gede Rastana
#balinese