Setiap upacara yadnya, secara umum tidak lepas dari suara tetabuhan, termasuk dalam upacara Pitra Yadnya, yaitu Ngaben. Dalam Lontar Prakempa terungkap makna kosmologis tetabuhan dalam mengiringi perjalanan roh.
Seniman tabuh Putu Ardiyasa mengatakan, upacara Ngaben senantiasa melibatkan tetabuhan. Seperti gamelan baleganjur, gender wayang, angklung, gambang, selonding, gong kebyar, dan gong gede. Bunyi-bunyian tetabuhan terdengar menghiasi, menyemarakkan, dan ikut berperan menyukseskan prosesi upacara yang sedang berlangsung.
Dalam Lontar Prakempa, bunyi (suara) mempunyai kaitan yang erat dengan konsepsi lima dimensi yang dinamakan Panca Mahabhuta (pertiwi, bayu, apah, teja, dan akasa). Ada delapan macam suara, yaitu: Byomantara, suara yang besar keluar dari angkasa. Kemudian Arnawa Sruti, adalah suara yang keluar dari air, Bhuhloka Sruti adalah suara yang keluar dari tanah, dan suara Agosa, Andugosa, Udantia, Andudantia, serta Andunasika adalah suara yang berasal dari bumi
Letak suara-suara tersebut pada manusia (mikrokosmos) dan instrumen gamelan adalah suara Byomantara Gora bertempat di leher, masuk pada instrumen kendang. Suara Bhuhloka Sruti, tempatnya ada di atas leher, masuk pada instrumen gong.
Suara Arnawa Sruti tempatnya ada di atas lidah, masuk pada instrumen cengceng. Kemudian suara Agosa tempatnya di pangkal lidah, masuk pada instrumen jegogan, suara Anugosa tempatnya di ujung lidah, masuk pada instrumen trompong.
Suara Anudantya tempatnya di rongga mulut, dalam barungan gamelan ada pada instrumen jublag dan giying, serta suara Anusika tempatnya pada rahang atas, dalam barungan gamelan ada pada instrumen riyong. “Secara tidak langsung bunyi gamelan dari bunyi alam (makrokosmos) menempati organ-organ tertentu dalam tubuh manusia (mikrokosmos),” jelas Ardiyasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (18/11).
Dari delapan suara yang masuk dalam instrumen gamelan, instrumen kendang, cengceng, dan gong diyakini berhubungan dengan Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Siwa). Cengceng dalam gamelan adalah lambang Dewa Brahma, kendang lambang Wisnu, dan gong lambang Siwa. “Oleh karena itu, sangatlah wajar apabila dalam tetabuhan baleganjur misalnya, ketiga instrumen tersebut memegang peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan upacara yadnya,” ungkap dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini
Suara-suara itu dibentuk menjadi sepuluh nada, yaitu lima nada disebut laras pelog dan lima nada disebut laras slendro. Nada-nada tersebut mempunyai kaitan dengan panca tirta dan panca geni, dua sumber keseimbangan hidup manusia. “Laras pelog mempunyai hubungan dengan panca tirta yang merupakan manifestasi dari Bhatara Semara dan laras slendro berkaitan dengan panca geni merupakan manifestasi dari Bhatari Ratih,” papar pria 28 tahun itu.
Tetabuhan dalam upacara Ngaben, menurut Ardiyasa, dapat dipandang sebagai pengiring perjalanan roh. Hal ini sangat terlihat pada penggunaan tetabuhan saat prosesi memargi ke setra yaitu pemberangkatan jenazah dari rumah duka menuju kuburan tempat kremasi berlangsung. (bersambung)
Editor : I Dewa Gede Rastana