Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simbol Syukur, Penyucian Bhuana Agung dan Penyambutan Leluhur

I Made Mertawan • Senin, 22 November 2021 | 05:16 WIB
Simbol Syukur, Penyucian Bhuana Agung dan Penyambutan Leluhur
Simbol Syukur, Penyucian Bhuana Agung dan Penyambutan Leluhur


KARANGASEM, BALI EXPRESS- Keharmonisan antarwarga sangat terasa saat perayaan Kuningan di Desa Adat Gumung,  Kecamatan Manggis, Karangasem, Sabtu (20/11) lalu. Sejumlah krama adat berkumpul di Pura Puseh desa setempat untuk magibung (makan bersama khas Karangasem).


BERITA TERKAIT: Pantang Gunakan Daging sebagai Pelengkap Blayag



Magibung dilaksanakan serangkaian upacara Maprani Blayag, sebuah tradisi menghaturkan sesaji olahan sayur dan ketupat lonjong dari bungkus janur kuning (busung) atau disebut blayag di Pura Puseh Desa Adat Gumung. Tradisi ini digelar bertepatan dengan Kuningan. Namun hanya setiap setahun sekali. Warga setempat menyebut waktu pelaksanaannya “Ngepoan”.



Bendesa Adat Gumung I Nengah Darya menjelaskan, tradisi itu memang tidak tercatat dalam lontar apapun, namun sudah diwarisi secara turun-temurun. Tradisi ini sebagai manifestasi penyambutan leluhur dari Majapahit secara niskala. Konon, para leluhur datang untuk memancarkan aura positif atau memberikan kemakmuran bagi warga desa. Meprani Blayag, sebut Darya juga simbol pembersihan atau penyucian Bhuana Agung atau alam jagat raya, sekaligus momen ucap syukur atas hal-hal baik yang diperoleh warga setempat.



Rangkaian Maprani Blayag dimulai pada tilem kelima (bulan mati ke lima) atau rahina Sugihan Jawa. Sehingga dalam kurun waktu dua pekan lebih, adalah momen bagi seluruh warga adat melaksanakan penyucian. “Kemudian puncaknya pada Hari Kuningan itu. Digambarkan sebagai perjamuan. Para leluhur secara niskala berbaur karena lama tidak bertemu saudara di Gumung. Ini yang disimbolkan berupa magibung setelah sesaji dihaturkan terlebih dulu di Pura Puseh,” terang Darya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Sabtu (20/11).



Prosesi Meprani Blayag dimulai sejak pagi, sekitar pukul 7 pagi. Tokoh adat dan para pamangku mulai menyiapkan sarana upacara persembahan Hari Kuningan sekaligus prosesi meprani. Warga mulai datang membawa persembahan blayag ke Pura Puseh sekira pukul 9 pagi, disusul warga lainnya.



Para pengayah bertugas mengumpulkan persembahan warga dengan timbangan tradisional di bale gede. Masing-masing seberat 1 kg beras yang sudah diolah menjadi ketupat lonjong. Begitu pula aneka sayur yang telah diolah menjadi lawar, plecing, dijadikan kuah santan, dan sebagainya, dikumpulkan untuk dihaturkan. 



Usai persembahan, blayag dibagi secara merata ke semua warga. Rata-rata berjumlah 5-15 blayag dengan alas daun pisang. Krama adat akan duduk berderet dengan jumlah tak terbatas, sepanjang tempat memadai. Berbeda dengan tradisi megibung ala Karangasem pada umumnya yang duduk melingkar dengan jumlah yang sudah ditentukan. “Filosofi magibung, kita berbaur sebagai cihna (ciri), pertanda bahwa tak ada warga yang puik atau bermusuhan. Tidak saling membedakan. Mulai anak-anak, ibu-ibu krama lanang (laki-laki), pemangku, tukang banten dan bendesa. Blayag boleh dibawa pulang kalau belum habis,” ungkap bendesa.



Darya menuturkan, tradisi ini baru dibangkitkan setelah puluhan tahun mati suri. Sebelumnya sempat ditunda sekitar 30 tahun akibat paceklik dan kejadian erupsi Gunung Agung. Selama ditiadakan, beberapa fenomena di luar nalar pernah terjadi menimpa beberapa warga bahkan para bendesa adat yang pernah menjabat.


Menurut Darya, saat beberapa kali dilaksanakan upacara, muncul petunjuk, para leluhur tidak berkenan atas ditiadakannya meprani. Meski tak disebutkan gamblang hal apa yang pernah dialami warga. “Beberapa di antaranya masalah ekonomi, kesehatan, hubungan antarmasyarakat. Meski sulit dibuktikan apakah fenomena itu penyebabnya karena tidak menggelar meprani atau bukan. Ini bicara kepercayaan,” pungkasnya.


Editor : I Made Mertawan
#karangasem #tradisi