Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ayu Veronika Somawati menjelaskan banten sesayut berasal dari kata “sayut” atau “nyayut”. Secara harfiah dapat diartikan mensthanakan, karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dalam Naskah Dharma Kahuripan, ritual manusa yadnya banyak dikupas yang menggunakan bantyen sesayut. Seperti saat upacara bayi dalam kandungan atau pagedong-gedongan, ritual saat bayi lahir, ritual pada saat lepas tali puser, ritual hari ke 12, ritual bayi berumur 42 hari, ritual bayi pada bulan ke tiga, ritual tumbuh gigi, ritual bayi satu weton, ritual pesakapan atau patawuran, pangerubayan atau pengguntingan Rambut, ritual penegeman pelubangan telinga, ritual haid pertama.
Termasuk ritual potong gigi, tata cara perkawinan, seperti mencari hari baik perkawinan, babuncingan pertemuan sebelum terjadi perkawinan pada tempat tertentu, Suryagraha aturan mempelai menjelang perkawinan, majawuman atau kunjungan mempelai pria bersama keluarganya ke rumah mempelai wanita.
Tentu saja, upacara manusa yadnya dari bayi dalam kandungan hingga ritual menikah tidak lepas dari penggunaan sesayut. Seperti Sesayut Tulus Dadi, Sesayut Tulus Ayu, Sesayut Pemahayu, Sesayut Mala Prayascita, Sesayut Amreta Sanjiwani.
Sebut saja Sesayut Tulus Dadi. Sesayut ini berarti agar benar-benar lah bayi itu tumbuh dengan lancar sampai menjadi bayi yang siap lahir ke dunia ini untuk memperbaiki mutu hidupnya Agar bayi yang tumbuh dan benar-benar jadi (Tulus Dadi) disimbolkan dalam Banten Carunya.
“Yang menjadi sesajennya adalah yaitu nasi merah, nasi hitam, tumpeng penek, lauknya ayam merah dipanggang, raka buah-buahan secukupnya, tatebus merah hitam, sirih sesuai dengan urip dari hari, paguten japi tunggal,” ujar Vero.
Sasayut Tulus Ayu Menurut merupakan sesajen yang digunakan untuk upacara magedong-gedongan, saat usia kandungan menginjak 7 bulan. Sesayut ini terdiri atas alas kulit sesayut, isi nasi putih, nasi kuning, daging ayam putih (dipanggang), raka-raka, tatebusan, pelengkap canag sari, penyeneg dan sampyan nagasari.
Yang menjadi sesajen dari sasayut Tulus Ayu menurut Naskah Dharma Kahuripan berupa nasi putih kuning, dijadikan satu, lauknya ayam putih siyungan, rakanya woh-wohan berisi tatebus putih kuning. “Melalui sesajen itu maka ibu dari jabang bayi itu dengan penuh keyakinan bayinya lahir dengan selamat,” ungkapnya.
Kemudian Banten Sasayut Pamahayu Tuwuh dijadikan sebagai sarana permohonan kepada Tuhan agar si bayi mendapatkan kekuatan untuk mencapai keselamatan dengan umur panjang. Pamahayu artinya mendapatkan keselamatan. Sedangkan tuwuh artinya umur. Sasayut ini bermakna penyucian akan kelahiran.
Selanjutnya, Sasayut Mala Prayascita merupakan sesayut yang digunakan pada upacara manusa yadnya dan dewa yadnya. Isinya berupa alas kulit sesayut, isi nasi, lauk pauk tumpeng, bunga teratai, kelungah, penek, ketipat kukur, kwangen, pelengkap peras alit, penyeneng pesucian, sampyan nagasari, dan canang burat wangi.
Seperti namanya sesayut mala prayascita disebut juga prayascita luih, merupakan suatu sesaji yang terkait dan berisikan kelengkapan yang ada di dalamnya. “Sesayut ini mempunyai makna untuk menyucikan mala atau kekotoran atau leteh yang melekat melalui sesaji prayascita disucikan sehingga menimbulkan kebaikan atau kebahagiaan,” ungkapnya. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana