Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawijaya mengatakan bade adalah salah satu sarana dalam upacara pengabenan sebagai tempat menaruh jenazah. Bentuk dan ukuran bade pun bermacam-macam.
Dalam Lontar Siwa Purana Tattwa disebutkan sarana upacara untuk mencapai kelepasan adalah ritual. Melaksanakan ritual saat kematian atau pengabenan juga sebagai wujud untuk mendoakan agar Sang Pitara mencapai kelepasan. Seperti yang dijelaskan dalam petikan lontar Siwa Purana Tattwa (4b) berikut:
“Singgih yan mangkana kinaryya hulun badhe kang nista. Madhyottama. Kang uttama atumpang-tumpang, hana tumpang sawelas miwah tumpang sangha, sapta, tumpang panca, lawan catur. Irika genahang sawa uttama. Anagha bandha ta haranya. Badhe winilet api ndha Taksaka. Ginawe bhusana nira amanca warnna. Dinulur lembu, bandhusa, abale ulung salunglung haranya genahing petualangan…..”
Terjemahan: “Ya jungjungan hamba. Jika demikian halnya, kami akan membuat Bade yang berukuran kecil, menengah dan besar. Bade yang utama adalah Bade yang atapnya bertumpang: ada yang bertumpang sebelas, bertumpang Sembilan, bertumpang tujuh, bertumpang lima dan bertumpang empat. Disanalah stana jenasahmu yang utama.(Bade) yang memakai Nagabhanda itu namanya yaitu bade yang dibelit oleh naga Taksaka. Dihias dengan busana lima warna. Diikuti oleh lembu, bandusa. Memakai balai-balai yang disebut bale Alungsanglung sebagai tempat patulangan. Hamba yang akan menaiki bade itu, dengan membawa pecut yang berhias bulu ekor burung merak. Bade itu kemudian diusung menuju setra tempat membakar jenasah….”
Titra mengatakan, arsitektur bade memang berbeda-beda. Semisal, bagi warga brahmana berbentuk padmasana atau padmasari yang menyerupai palinggih atau bangunan suci (pura dan pemerajan). Bagi warga ksatria dibagi menjadi dua, yaitu untuk raja penguasa tunggal dan raja di bawah penguasa tunggal.
Untuk warga wesia atau warga yang leluhurnya pernah menjadi punggawa atau pejabat sederajat, mengambil wadah dengan dasar bade, yaitu wadah yang dasarnya menggunakan bedawangnala (kura-kura raksasa yang memiliki moncong hidung panjang) atau ornamen saja. Sedangkan untuk warga sudra atau jaba (masyarakat kebanyakan) pada umumnya mengambil wujud wadah dengan dasar babogeman yang sering disebut bale-balean.
Arsitektur bade juga didasarkan atas tingkatan upacaranya. Masing-masing tingkatan upacara, mulai dari tingkat nistaning nista, nistaning madya dan nistaning utama bentuk badenya juga berbeda-beda. Arsitektur bade juga memiliki paling tidak enam konsep, yaitu konsep gunung, tri loka, dewa raja, siwa-buddha, pengider-ider, dan kanda pat.
Ia menyebut, upacara pengabenan merupakan salah satu ritual untuk mencapai kelepasan bagi sang roh. Hal ini dikarenakan saat pelaksanaan upacara pengabenan dilaksanakan berbagai ritual baik pemegat hubungan antara kehidupan duniawi dengan alam niskala.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan sarana Tirta Panglepasan juga bertujuan untuk menghilangkan ikatan-ikatan dalam kehidupan sehingga tidak lagi terbelenggu oleh keinginan lapisan badan. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana