Dikatakan Jro Nyoman Sutrisna, Segehan ini dihaturkan dengan nasi berwarna putih berada disebelah kanan kita sebagai simbol Dewa Iswara dan nasi berwarna kuning berada di sebelah kiri sebagai simbol Dewa Mahadewa.
Sedangkan, untuk Segehan Putih Selem biasanya dipersembahkan saat hari raya seperti hari raya Tilem. Segehan ini dibuat dengan menggunakan nasi berwarna putih dan hitam (selem). Nasi berwarna putih merupakan simbol Dewa Iswara sedangkan nasi berwarna hitam merupakan simbol dari Dewa Wisnu.
“Segehan ini dihaturkan dengan nasi berwarna putih berada disebelah kanan kita dan nasi berwarna hitam berada di sebelah kiri,” jelasnya.
Kemudian, Segehan Wong-Wongan menggunakan nasi berwarna putih dan hitam yang dibentuk menyerupai manusia. Nasi berwujud manusia hitam merupakan simbol hal-hal negatif seperti penyakit, kesialan, kesedihan, kedukaan. Nasi berwujud manusia putih merupakan simbol dari hal-hal yang baik seperti kesehatan, rejeki, kebahagiaan.
Kedua nasi berwujud manusia yang berbeda warna ini diletakkan berjejer namun dengan arah tubuh yang berlawanan. Sebagai pelengkap, segehan wongwongan berisi jeroan yang dicincang yang merupakan simbol Dewata Nawa Sanga.
Segehan wong-wongan biasanya dihaturkan saat terdapat anggota keluarga tertimpa musibah misalnya sakit. Segehan ini dihaturkan di depan gerbang rumah di mana kepala manusia berwarna putih menghadap kedalam rumah sedangkan yang hitam menghadap keluar rumah.
Selanjutnya Segehan Manca Warna berarti segehan dengan lima jenis warna. Yaitu nasi berwarna hitam sebagai simbol Dewa Wisnu, nasi warna putih sebagai simbol Dewa Iswara, nasi warna merah sebagai simbol Dewa Brahma, nasi berwarna kuning sebagai simbol Dewa Mahadewa dan nasi brumbun sebagai simbol Dewa Siwa.
Segehan Catur Warna bermakna segehan dengan empat warna yaitu nasi berwarna hitam, putih, merah dan kuning. Pada saat seorang bayi lahir, umat Hindu memiliki tradisi untuk menanam ari-ari anak tersebut di pekarangan rumah tempat tinggal anak tersebut.
Selama bayi tersebut belum mengalami gigi tanggal untuk pertama kalinya, di atas tempat menanam ari-ari bayi tersebut disuguhkan Segehan Catur Warna yang dipersembahkan kepada catur sanak/kanda pat yang berarti empat saudara.
“Ari-ari disebut Anggapati, darah disebut Bhanaspati, lemak disebut Prajapati, dan air ketuban disebut Bhanaspati Raja. Untuk itu, peletakan warna nasi disesuaikan dengan posisi keempat saudara tersebut yaitu nasi putih di timur untuk Anggapati, nasi merah di selatan untuk Prajapati, nasi kuning di barat untk Bhanaspati dan nasi hitam di utara untuk Bhanaspati Raja,” pungkasnya. (habis) Editor : I Dewa Gede Rastana