Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Ngotonin Dianggap Dina Pingit, Simbol Penyucian

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 11 Januari 2022 | 14:35 WIB
Pelaksanaan Upacara Ngotonin. (Dewa Rastana/Bali Express)
Pelaksanaan Upacara Ngotonin. (Dewa Rastana/Bali Express)
Upacara ngotonin menjadi salah satu ritual manusa yadnya yang penting dilakukan, setelah bayi berusia 210 hari atau enam bulan kalender Bali. Dalam Lontar Semarareka, didsebutkan upacara ngotonin dianggap sebagai hari yang pingit dan tidak boleh dilewatkan.

 

Dosen Teologi Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Wayan Titra Gunawan pada Senin (10/1) mengatakan hari lahir disamping membawa pengaruh yang positif, juga membawa pengaruh yang negatif dan dapat mengotori atau mengganggu kehidupan manusia. hal ini dapat disucikan dengan upacara penebusan oton.

Upacara ngotonin ini diselenggarakan setiap 210 hari atau enam bulan sekali tepat pada waktu hari kelahiran si bayi dengan perhitungan wuku bertemu dengan saptawara dan pancawara. Upacara ngotonin yang pertama berbeda dengan upacara ngotonin yang dilaksanakan rutin setiap enam bulan. Upacara ngotonin pertama dilakukan pada waktu si bayi sudah berumur enam bulan kalender Bali.

Dalam smarareka upacara ngotonin dapat dilihat dari kutipan berikut: Dina wetune dadi uger-uger, ngaran pingit. Pinget ngaran oton, ayua lali weton, apan sami-sami wenang wetonin, sarwa umetik mwang wawangunan, apan dina wetune wiwitaning dina wetune, yan lali ring weton, dudu manusa, apan manusa wiwiting dina wawaran. Wawaran sami ngajak urip, saluiring wetu urip.

Terjemahan: Hari kelahiran menjadi patokan yang berarti pingit, Pinget berarti oton, tidak boleh lupa akan weton, karena semua wajib untuk wetonin, sagala jenis tumbuhan dan bangunan, karena hari lahir merupakan asal dari kelahiran, apabila lupa terhadap weton, bukan manusia, karena manusia berasal dari wawaran. Semua wewaran membawa urip, setiap kelahiran merupakan suatu kehidupan.

Titra menyebut, jika merujuk dalam Lontar Smarareka maka upacara otonan sangatlah penting. “Jika tidak melaksanakan otonan bukan manusia namanya. Tidak hanya manusia saja yang harus melaksanakan otonan, malainkan alam seperti tumbuhan dan lainnya juga melaksanakan upacara ini,” ujarnya.

Hal ini mengacu dengan perayaan hari tumpek. Dimana sebagai simbolisasi hari kelahiran dari alam semesta dengan isinya, Tumpek merupakan salah satu hari suci umat Hindu yang dilaksanakan sebanyak enam kali dalam enam bulan. Tumpek berasal dari kata ‘tu’ (metu) yang berarti lahir dan ‘pek’ yang berarti putus atau berakhir.

Pengertian ini diambil dari pelaksanaan hari raya tumpek yang merupakan gabungan dari berakhirnya duah buah wewaran yaitu saptawara dengan hari sabtu atau saniscara dan pancawara dengan hari kliwon.

“Hari-hari tumpek tersebut antara lain tumpek landep untuk otonan senjata, tumpek wariga untuk otonan tumbuhan, tumpek kuningan sebagai wujud syukur kehadapan leluhur, tumpek krulut

sebagai ungkapan sujud syukur atas anugrah rasa senang dan bahagia, tumpek uye untuk otonan binatang dan tumpek wayang sebagai hari untuk otonan segala jenis karya seni yang digunakan manusia dalam malaksanakan swadharma hidupnya, seperti tetabuhan, wayang dan sebagainya,” paparnya. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana
#upacara ngotonin #dina pingit #manusa yadnya #lontar semarareka