Ketua PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan, pekarangan yang tidak baik biasanya disebut karang panes. Ciri-cirinya yang diterima oleh si penghuni tanah tersebut yaitu sering jatuh sakit, marah-marah tidak karuan, mengalami kebingungan, mudah bertengkar, dan sejenisnya.
Dalam Lontar Bhama Kretih, disebutkan ada pun jenis-jenis tanah yang tergolong Karang panes ini di antaranya: yan hana karang tunggal pemesuan mangaleking, ala nyakitin karubuhan jalan ngaran. Artinya jika ada bebrapa pekarangan namun memiliki satu pintu keluar itu sangatlah tidak baik yang disebut mangaleking ini berbahaya bagi yang menhuni pakarangan tersebut.
Kemudian jika ada pekarang seperti pekarangan tusuk sate itu disebut dengan sandang lawe yang menyebabkan sakit tiada hentinya bagi penghuni rumah tersebut. “Lalu jika ada rumah yang diitari oleh jalan maka itu disebut dengan kuta kubanda sangat berbahaya bagi penghuninya. Itu juga masuk karang panes,” ujarnya.
Dalam Bhama Kretih juga disebutkan Yan hana wang metunggalan sanak mengapit jalan umahniya, sang tunggal naga purus sandang lawe ngaran ala dahat sang maumah, iriya amadha-madha bhatara ngaran.
Artinya, jika ada seseorang yang masih bersaudara kandung yang tinggalnya berseberangan jalan yang masih satu garis keturunan itu yang disebut dengan sandang lawe berbahaya bagi yang menempati rumah tersebut dan itu disebut juga melawan dewa.
Kriteria karang panes lainnya jika ada satu pekarangan yang memiliki dua pintu keluar yang sama itu disebut dengan boros wong atau orangnya selalu akan boros.
Muah ne tan wenang genahin umah lwirnya: karang wit pura, wit ibu, sema pebajangan, wit penyadnyan sang brahmana, karang lebon amuk karang genah wong mati megantung, yang sampun ping tiga kalebon amuk tan wenang genahin umah ala dahat.
Artinya lagi-lagi yang tidak patut dibuat bangunan rumah adalah tanah bekas Pura, tanah bekas pemujaan leluhur, tanah bekas kuburan, bekas pertapaan/pemujaan orang suci, tanah bekas orang saling bunuh, tempat orang yang mati gantung diri, bila sampai tiga kali tertimpa pembunuhan maka sama sekali tidak boleh dibangun perumahan, sangat berbahaya.
Begitu juga kalau ada cendawan yang tumbuh di bawah kolong tempat tidur itu dinamakan wwong bhaya artinya juga panas. Bahkan, jika ada lulut emas (sejenis binatang seperti cacing kecil-kecil) muncul dipekarangan, itu namanya kelulut bhaya yang menyebabkan panas pekarangan.
“Apabila ada darah kental dipekarangan yang tercecer disekitar rumah yang tidak ada sebabnya itu dinamakan keraja bhaya,” paparnya.
Lanjutnya, Pekarangan yang baik menurut lontar Bhama Kretih yaitu Manemu Labha dimana areal Lebih tinggi di Barat atau miring ke timur (dari arah pusat kota atau dari arah jalan raya). Disebut manemu labha di mana sinar matahari tidak terhalang sejak pagi sampai sore, membawa keberuntungan dan umur panjang.
Kemudian Paribhoga Wredhi yaitu tanah yang miring ke Utara, membawa kemakmuran yang melimpah bagi penghuninya. (bersambung) Editor : I Dewa Gede Rastana