PENGGUNAAN bungkak nyuh gading (kelapa gading) dalam upacara Hindu khususnya di Bali sering kita temukan. Rupanya, bungkak ini memiliki fungsi secara filosofis dalam sistem ritual di Bali, baik sebagai simbol nyasa, praline, serta penyucian
Penekun sastra dari Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring Ida Bagus Made Baskara mengatakan, ada tiga teks yang bisa dijadikan rujukan untuk memahami fungsi kelapa dan bungkak nyuh gading. Dalam Lontar Rajah Pangereka Bungkak, dijelaskan secara detail bahwa bungkak nyuh gading dijadikan media untuk mengguratkan aksara suci yang digunakan di dalam berbagai ritus keagamaan, dan tentunya pada ritus-ritus magis.
Di sana juga diulas tentang bagaimana etikanya ngerajah di bungkak nyuh gading, sarana yang dibutuhkan, termasuk sarana tambahan dengan media bungkak.
“Di teks itu juga ditulis secara rinci bagaimana sejarah pohon kelapa itu,” ujarnya.
Dalam Lontar Kelapa Tattwa dijelaskan bahwa pohon kelapa tumbuh dari wara nugraha Bhagawan Wraspati.
Ada sebuah mitologi yang diulas dalam lontar tersebut tentang bagaimana terciptanya pohon kelapa. Dimana, suatu ketika bumi ini mengalami kehancuran, karena berbagai tumbuhan yang dirasuki kekuatan kala dan menghasilkan racun. Racun itu dapat menimbulkan penyakit atau wabah, sehingga banyak makhluk yang menderita.
Maka dari itu, Dewa Siwa kemudian mengutus Bhagawan Wraspati untuk turun ke bumi, mencari tahu apa penyebabnya, sehingga seluruh makhluk mengalami bencana yang maha dahsyat di bumi. Akhirnya turunlah Bhagawan Wraspati dan melakukan yoga. Akhirnya diketahui, penyebab wabah merajalela adalah kekuatan kala yang berubah menjadi Bhuta Dasa Angkara Bumi.
“Inilah yang merasuk ke dalam tumbuhan, sehingga ketika tumbuhan dimakan oleh binatang, maka binatang itu mati. Begitu manusia yang memakan tumbuhan, daging ikut berdampak atas racun tersebut,” ujarnya.
Bhagawan Wraspati kemudian menemukan cara untuk mengembalikan keseimbangan alam, yaitu menurunkan energi kehidupan berwujud amerta dari kesembilan Dewata Nawa Sanga yang diturunkan ke dalam bentuk tirta amerta. Singkat cerita kemudian tirta ini diteteskan ke seluruh bentuk kehidupan.
Sebagian tirta amerta ini menetes ke tanah, lalu tumbuh pohon kelapa. Misalnya, tirta Ida Bhatara Iswara menetes sisanya ke tanah dan tumbuh menjadi kelapa bulan, karena warnanya putih. Tirta dari Dewa Mahadewa yang berada di arah barat kemudian menjelma menjadi pohon kelapa berwarna kuning yang disebut nyuh gading.
“Begitu juga dalam Lontar Raja Bungkak menjelaskan bahwa tumbuhnya pohon kelapa dengan berbagai warna adalah tirta amerta dari Dewata Nawa Sanga,” paparnya.