Trisna saat dikonfirmasi pada Senin (17/1), tidak berani memberikan keterangan apapun, namun pihak kelurga membenarkan kejadian tersebut dan menyebut tidak ada yang menyangka akan terjadi hal tersebut.
“Kami melakukan persembahyangan disana tapi dari luar, karena pintu di gembok,” ujar Putu Eka Jayadi Putra yang merupakan Kakak sepupu dari Trisna.
Tampaknya sebelum melaksanakan upacara dirumah masing-masing, matur piuning di Desa Selumbung merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat disana. Trisna yang saat itu akan melakukan upacara pecaruan dirumahnya pun ikut dalam matur piuning, namun pihak kelurganya mempunyai inisiatif mencari Jero Mangku desa, yang bisa muput dimana saja.
Setelah persembahyangan selesai, Trisna yang saat itu akan menerima tirta langsung mengalami kerauhan. Bahkan kakak sepupunya tidak percaya akan adiknya bisa membuka pintu yang saat itu masih dalam posisi digembok, sebenarnya ia pun tidak mengharapkan hal itu terjadi.
“Logika saja, adik saya itu kurus dan kecil, dia bisa membuka pintu yang sedang digembok menggunakan tangan, bahkan dengan dua kali hentakan,” lanjutnya.
Namun Eka Jayadi tampak tidak merespons viralnya video adik sepupunya, karena menurutnya, kerauhan sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat Bali.
Dipertegas kembali oleh Jayadi, adiknya tidak melakukan pengerusakan terhadap pintu tersebut, itu terjadi murni karena Trisna sedang berada dibawah alam sadar (kerauhan). “Kami tidak ada menggunakan alat apapun, itu diluar logika. Itupun disaksikan oleh keluarga saya dan jero mangku,” tutupnya. (dir) Editor : I Putu Suyatra