Tidak seperti lazimnya yang terpisah. Pura Desa terletak di tengah-tengah desa dan berada di kawasan perempatan agung atau catus pata. Pura Puseh di selatan desa. Sementara Pura Dalem dekat dengan kuburan.
Di Desa Adat Penarukan, ketiga pura tersebut berada pada satu natar atau tempat. Dan keunikan ini tidak lepas dari sejarah berdirinya desa adat setempat. Tatkala para leluhur di Desa Penarukan hendak mencari lokasi untuk keberadaan Pura Kahyangan Tiga.
Seperti dijelaskan Sabha Desa Penarukan, Ida Bagus Nyoman Sunantara, Rabu (19/1). Secara singkat dia menuturkan, lokasi pura yang ada sekarang awalnya hanya berupa gumuk. Dan baru dibangun secara permanen sekitar 1930-an.
“Ada beberapa keunikan. Tiga yang paling menonjol. Pura Dalem, Puseh, dan Desa menjadi satu. Kedua letaknya di teben. Bukan di ulun desa. Ketiga setra di ulun desa. Sedangkan kahyangannya ada di teben,” jelas Sunantara.
Semuanya, sambung dia, erat kaitannya dengan awal mula berdirinya desa adat setempat yang diperkirakan mulai ada sejak abad ke-17.
Dan itupun ditandai dengan keinginan para leluhur desa adat setempat untuk membangun kahyangan tiga.
“Leluhur kami menanyakan lokasi yang tepat kepada pendeta (Brahmana). Apakah bisa atau tidak,” imbuh Sunantara yang juga mantan Bendesa Adat Penarukan ini.
Semula, sabda pendeta mengharuskan lokasi Kahyangan Tiga mesti dibangun secara terpisah. Namun petunjuk tersebut belum bisa dipenuhi krama setempat.
Sebabnya, pada masa itu krama Desa Adat Penarukan masih berjumlah sedikit.
Sebagai solusi untuk kesulitan yang dihadapi krama setempat untuk bisa memenuhi niatnya berbakti, pendeta itu menyampaikan syarat lain agar Kahyangan Tiga bisa dibangun ke dalam satu tempat. Namun itupun bukan syarat yang mudah.
Tiga syarat itu antara lain Jala Dwara atau dekat dengan sumber air yang tidak putus airnya. Kemudian Tanah Mekecap Manis atau tanah dari lokasi tersebut memiliki rasa yang manis. Dan Tanah Ganda yang berarti tanah itu harus berbau harum.
Singkat cerita, ditemukanlah sebuah gumukan tanah yang memenuhi syarat tersebut. Dekat dengan sumber air yang tidak pernah putus. Kini sumber air itu dikenal dengan nama Beji Perenenan.
Selain dekat dengan sumber air yang tidak pernah putus, lahan itu juga memiliki rasa yang manis dan berbau harum.
“Waktu itu masih dalam bentuk gumukan. Baru pada 1930-an mulai dibangun permanen,” jelasnya.
“Pada saat Raja Kerambitan dikepung pasukan Belanda, Beliau menyingkir dan bersembunyi di Kahyangan Tiga Penarukan. Dan pasukan Belanda tidak menemukannya. Sehingga keturunan Beliau kini juga maturan sampai sekarang,” pungkasnya.
Selain lokasinya yang menjadi satu, keberadaan Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Penarukan juga terletak dari bentuk bangunannya. Keunikan itu terlihat dari bangunan yang tidak menggunakan meru.
“Tidak pakai meru. Duur kangin itu Gedong Dalem. Duur Kaler itu Gedong Puseh. Kemudian ada beberapa pelinggih kecil. Mundak Sari, Taksu, Pelinggih subak. Dan Prajapati ada di Kahyangan, di setra justru tidak ada,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra