Bendesa Adat Mengwi Anak Agung Gelgel mengatakan, upacara ini dipuput oleh tiga sulinggih. Pihaknya menyebutkan dengan Tri Sadaka, yakni dari Pedanda Siwa, Bhuda, dan Bhujangga. “Upacaranya dilaksanakan di Jaba Pura Taman Ayun,” ujar Gelgel.
Menurutnya, upacara ini tidak sembarangan dilakukan. Hanya pada pekibeh jagat atau maraknya gering agung yang dikenal dengan pandemi. Kebetulan saat melaksanakan Caru Tulak Tunggul sedang tingginya penyebaran Covid-19.
“Pelaksanaan upacara ini dengan harapan pandemi Covid-19 cepat hilang. Dan mudah-mudahan Desa Adat Mengwi tidak ada Covid-19,” ungkapnya.
Jika dilihat upacara tersebut seperti memagari suatu wilayah. Lantaran, Gegel menjelaskan, setelah pelaksanaan upacara di Jaba Pura Taman Ayun akan diadakan mendem caru di penjuru arah. Tepat pada ujung batas Desa Adat Mengwi.
“Upacara ini menggunakan Panca Sata jadi di seluruh penjuru mata angin ada pecaruan. Setelah upacara di Pura Taman Ayun, caru ini dibawa ke perbatasan, mulai dari utara, timur, selatan, dan barat. Kemudian akan dilakukan mencem caru, dan setelah dipendem akan berisikan kober sesuai warnanya,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menerangkan, secara rinci upacara Caru Tulak Tunggul tercantum dalam Lontar Ita Itu. Lontar tersebut juga berisi tentang penyelesaian masalah yang tidak tercantum dalam lontar lainnya. “Sebenarnya upacara ini mirip dengan Nangluk Merana yang dilaksanakan desa lain. Tapi upacara ini lebih besar dan rumit,” terangnya.
Uniknya Upacara ini baru pertama kali digelar oleh Desa Adat Mengwi. Setelah itu, di daerah lainnya dalam lingkup Kecamatan Mengwi juga melaksanakan upacara yang sama.
“Sebenarnya siap saja dapat melaksanakan upacara ini, karena tujuannya untuk memohon keselamatan. Seperti seluruh Bendesa di Kecamatan Mengwi telah melaksanakan upacara ini. Karena kebetulan masih dalam lingkup Kerajaan Mengwi,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra