Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna dan Posisi Lima Jenis Buah atau Panca Pala dalam Ritual Hindu

I Putu Suyatra • Sabtu, 12 Februari 2022 | 00:09 WIB
BUAH PINANG: Buah pinang menjadi salah satu Panca Pala yang memiliki makna tersendiri dalam ritual umat Hindu di Bali. (ISTIMEWA)
BUAH PINANG: Buah pinang menjadi salah satu Panca Pala yang memiliki makna tersendiri dalam ritual umat Hindu di Bali. (ISTIMEWA)
Sarana upakara di Bali tidak terlepas dalam penggunaan buah, bunga dan dedaunan. Hasil bumi tersebut dijadikan sarana persembahan lantaran memiliki sejumlah makna sebagai simbol pengider-ider yang terungkap dalam pelutuk bebantenan maupun pustaka suci Hindu.

KETUA PHDI Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan dalam sejumlah pustaka Hindu disebutkan tentang istilah panca phala yang berarti 5 jenis buah, panca dhala 5 jenis daun, dan bija ratus. Buah, daun dan bija ratus menjadi sarana ritual yang sangat erat kaitannya dalam panca yadnya.

Mengenai panca phala dimaknai sebagai lima jenis buah-buahan, yang disesuaikan dengan lima arah mata angin, yaitu timur, barat, utara, selatan dan tengah. Arah tersebut dinyatakan dalam warna sesuai dengan pangider-ideran yang tertuang dalam Lontar Dasaaksara.

Suardika merinci, buah yang dimaksud diantaranya Buah cereme menurut arah mata angin posisinya di timur. Hal itu dilakukan atas warna buah cereme adalah putih (petak) simbul Dewa Iswara.

Jika buah cereme tidak diperoleh, maka bisa digantikan dengan buah tingkih atau kemiri yang sama-sama memiliki daging buah berwarna putih.

Arah Barat disimbulkan warna kuning untuk Dewa Maha Dewa. Buah yang dipakai untuk itu adalah pisang, karena semua warna pisang yang ranum dagingnya berwana kuning termasuk warna kulitnya.

“Kalau pisang terkendala, dapat dipakai buah ceroring karena warna kulit buah yang matang kuning,” jelas Suardika.

Kemudian untuk arah Utara disimbulkan dengan warna hitam untuk Dewa Wisnu dipakai warna gelap seperti hijau atau ungu tua. Buah yang dipakai adalah pangi. Karena warna daging buah matangnya berwarna hitam.

Untuk arah selatan warna merah simbul Dewa Brahma. Buah yang dipakai adalah buah pinang karena warna buah pinang yang ranum kulitnya merah. Jika sulit mendapatkan buah pinang maka bisa dipakai manggis, karena kulit buah manggis ranum berwarna merah sampai merah tua.

Sedangkan untuk lokasi di tengah-tengah simbulnya manca warna (lima warna) yakni dipakai buah nenas. Alasannya sejak buah muda sampai ranum memang ke lima warna ada pada buah nenas. Sehingga disimbolkan dengan manca warna.

Selain kelima jenis buah tersebut, ada pula penggunaan Buah kelapa yang senantiasa menjadi pilihan utama dalam membuat sesajen. Ada beberapa jenis kelapa yang wajib digunakan sebagai sarana upakara.

Seperti nyuh bulan dalam pangider-ideran lokasinya di timur, nyuh udang lokasinya di selatan; nyuh gading lokasinya di barat, nyuh mulung lokasinya di utara, nyuh suda-mala lokasinya di tengah-tengah. Sedangkan yang arah menyilang adalah nyuh bojog lokasinya di timur laut, nyuh be julit lokasinya di barat laut, nyuh rangda lokasinya di tenggara dan nyuh surya lokasinya di barat daya.

“Semua jenis kelapa tersebut digunakan sebagai sarana dalam membuat banten seperti banten panyegjeg, pulakerti, tetukon, dan yang lainnya. posisi buah kelapa disusun sesuai dengan arah mata angin,” ungkapnya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #BUAH PINANG #PANCA PALA #ritual hindu