KETUA PHDI Buleleng Nyoman Suardika mengatakan untuk timur warna putih, dipakai daun duren. Karena warna daun durian di bagian bawah daunnya berwarna putih mengkilap. Di Barat, warna kuning dipakai busung atau daun muda kelapa karena memang warnanya kuning.
Sedangkan yang di utara dipakai daun buah atau pinang karena simbul warna hitam atau gelap. Di selatan dipakai daun buluwan. Di tengah-tengah dipakai daun salak. “Karena kelima warna itu ada dalam setangkai daun salak, putih dari daunnya, merahnya warna duri-durinya, hitamnya warna dasar daun, kuningnya warna lapisan pelepah daunnya. Susunan tersebut dipakai sarana upacara (upakara) banten tetukon dalam pitra yadnya, atau sarad untuk manusa dan dewa yadnya,” imbuhnya.
Dalam Pelutuk Bebantenan juga dikenal dengan istilah Sapta laywan yang berarti sebagai tujuh daun. Ketujuh daun ini digunakan untuk manusa yadnya dan dewa yadnya dipakai 7 daun sehingga disebut sapta laywan.
Tujuh daun ini terdiri dari daun: pelasa, ancak, sokasti, beringin, nagasari, cemara dan bunga pinang . Semua daun tersebut digulung, paling luar don pelasa, ancak, sokasti, cemara, dan bunga pinang paling dalam dan diikat dengan benang.
“Daun ini biasanya dipergunakan menyusun banten catur. Banten catur dipersiapkan kalau tingkatan upacara tersebut tergolong upacara madya dan utama saja,” imbuhnya.
Dari ketujuh dedaunan tersebut, salah satu daun yang paling popular adalah Beringin. Di samping sebagai tanaman magis, beringin juga sebagai tanaman upacara. Misalnya sewaktu pitra yadnya nyekah atau ngeroras atau atma wedana, ada acara ngangget don bingin.
Dalam upacara tersebut ada upacara khusus dipimpin oleh pendeta nunas daun beringin untuk dipakai dalam menyusun sekah sebagai perwujudan dari fisik yang diupacarai. Di samping itu dalam menyusun banten sarad dan sate wayang, dipakai pula makna pohon beringin sebagai salah satu tanaman suci dan magis.
Disinggung terkait bija ratus Suardika, menyebut berasal dari campuran buah rumput-rumputan yang warnanya sesuai dengan simbul warna arah mata angin. Biji yang berwarna putih dipakai beras atau jagung nasi putih. Untuk biji berwarna kuning dipakai jagung kuning atau beras ketan. Warna hitam simbul utara dipakai godem atau beras injin.
Sedangkan untuk arah selatan atau warna merah dipakai jawa atau beras merah. Untuk di tengah-tengah dipakai isi buah jail-jali.
Menurut kebiasaan atau dresta dari pemakaian buah-buahan tersebut sebagai sesajen disusun sedemikian rupa ada dalam bentuk banten tumpuk atau tegen-tegenan.” Kalau khusus hanya disusun dari buah-buahan saja disebut banten pala gantung. Atau kalau khusus bahannya hanya jenis umbi-umbian seperti ketela rambat,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra