Pohon Dapdap menjadi salah satu tanaman yang selalu digunakan dalam ritual di Bali.
Secara filosofis, daun Dadap digunakan sebagai sarana Prayascita (penyucian), Pratista (menstanakan) Ista Dewata dan untuk usadha (pengobatan).
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Penekun Sastra dari Geriya Gunung Kawi Manuaba, Tampak Siring, Ida Bagus Made Baskara mengatakan penggunaan daun Dapdap dalam berbagai yadnya di Bali tidak bisa dipungkiri. Baik digunakan sebagai sarana turus lumbung, nuntun maideran, termasuk saat pertunjukan wayang, di bagian kanan dan kiri juga menggunakan daun Dapdap.
Ini mencerminkan jika daun dapdap dianggap sangat penting.
Dikatakan Ida Bagus Baskara, penggunaan daun Dapdap tidak hanya oleh umat Hindu di Bali maupun Nusantara. Bahkan, di India juga memiliki peranan yang sangat vital. Hal ini terlihat dalam sebuah mitologi.
Ia menyebut, daun Dapdap yang dalam Bahasa Sansekertanya disebut Mandara erat kaitannya dengan kisah Ksirarnawa. Dimana, pohon Dapdap itu tumbuh saat pengadukan lautan susu. Dimana, saat para dewa berkehendak untuk mengambil air amerta (tirta keabadian) diperlukan dua kekuatan besar, yakni kekuatan raksasa dan kekuatan para dewa untuk memutar Gunung Mandara Giri.
“Nah sebelum amerta ditemukan, ada beberapa tumbuhan suci yang muncul dari pemutaran Gunung Mandara Giri yang dilakukan oleh Raksasa dan para Dewa. Salah satunya adalah daun Dapdap. Sehingga namanya disebut daun Mandara,” ungkapnya.
Karena muncul di saat pemutaran Mandara Giri tersebut, daun ini kemudian diambil oleh Dewa Indra. Ia membawanya untuk ditanam di Sorga. Sehingga tanaman ini dianggap sebagai Panca Wrska atau salah satu dari lima tumbuhan Surga.
Ia menambahkan, ketika agama Hindu menyebar ke Bali, daun Dapdap juga dilibatkan dalam berbagai ritus keagamaan sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan. Terutama sarana untuk pembersihan atau Prayascita.
Hal itu tidak terlepas dari mitologi, dimana ketika Dewi Durga dikutuk oleh Dewa Siwa, maka yang berhak dan mampu meruwat Ida Bhatari Durga adalah Sahadewa yang notabene saudara terkecil dari Pandawa, putra Pandu dengan Dewi Madrim.
Saat Sahadewa hendak meruwat Bhatari Durga, tetapi karena Ida Bhatari Durga memiliki kesaktian yang luar biasa, tentu tidak semudah itu meruwatnya. Singkat cerita, Bhatari Durga kemudian memberikan anugerah kepada Sahadewa berupa tanaman Dapdap Sangkur.
“Ini adalah Dapdap khusus yang digunaan untuk meruwat atau Mrayascita Bhatari Durga. Nah dari sanalah Daun Dapdap digunakan untuk meruwat atau Prayascita,” paparnya.
Tak hanya berungsi sebagai Prayascita, daun Dapdap juga digunakan sebagai turus lumbung atau membangun palinggih tempat suci yang sementara. Disanalah, dibutuhkan pohon Dapdap yang berfungsi sebagai Pratista yakni menstanakan Ista Dewata.
“Makanya, dalam upacara atau bangunan baru, maka ada prosesi nuntun dengan menggunakan daun Dapdap sebagai penuntun. Karena kekuatan dari Ista Dewata, tidak akan bisa dituntun kalau tidak menggnakan pohon Dapdap. Inilah yang menyebabkan daun Dapdap disebut sebagai taru sakti,” katanya.
Secara morfologi bentuk dari daun Dapdap selalu bercabang tiga. Hal inilah diyakini sebagai simbol kekuatan tiga sakti. Sehingga daun Dapdap diyakini sebagai pohon yang mempunyai kekuatan taru sakti.
Di sisi lain, karena kayu dapdap ini dikaitkan dengan ruwatan Bhatari Durga, maka kerap digunakan untuk meruwat orang yang kena ilmu hitam. Caranya, ujung daun Dapdap digunakan untuk nyiratang tirta yang sudah dicampurkan dengan air bungkak dan telah dimantrai. Kemudian ujung daun itulah itulah yang digunakan untuk memercikkan tirta kepada orang yang terkena pengaruh ilmu hitam.
Karena identik dengan taru sakti, maka pohon Dapdap sering dijadikan sebagai tanaman untuk menetralisasi rumah yang dianggap angker. Biasanya, ditanam di samping pintu rumah.
Bhaskara menyebut, walapun tanpa melibatkan banten dan mantra, maka diyakini saat daun Dapdap tumbuh, dianggap dapat berfungsi sebagai penolak bala.
“Bahkan, beberapa penelitian ilmiah menunjukkan, akar pohon dapdap dapat menyuburkan tanaman disampingnya. Sehingga di zaman dahulu, tanaman Dapdap bisa dijadikan pagar, karena dianggap menyuburkan,” jelasnya.
Pada teks Taru Pramana, daun Dapdap sangat penting digunakan dalam proses usadha. Dalam Usadha Sari disebutkan, dasar sakit itu ada tiga, yakni panes (panas), tis (dingin), dan dumelada (antara panas dan dingin).
Ida Bagus Made Baskara menyebutkan, pengobatan tradisional untuk ketiga jenis penyakit inipun menggantungkan jenis tumbuh-tumbuhan. Ada tumbuhan yang mempunyai karakter panes, tis dan dumelada.
Nah, taru Dapdap ini dianggap memiliki efek tis. Untuk itu, sering digunakan untuk sakit panes. Seperti panas dalam. Makanya bisa digunakan sebagai loloh (jamu) karena dianggap menurunkan panas dalam
Selain daunnya, kulit dari batang seirng digunakan sebagai boreh (parem), ini fungsinya juga untuk menurunkan panas. Secara ilmiah, khasiat dari pohon Dadap ini sudah diteliti, salah satunya kandungan pada kulit batang (bakbakan) Dadap.
“Kandungan kulit batang (bakbakan) Dadap ini memiliki kandungan senyawa Metabolit sekunder meliputi alkaloid, flavonoid, pterocarpans, stilbenes, dan arylbenzofurans, yang mampu mengatasi permasalahan pada saluran pencernaan dan juga sebagai antioksidan dan antikanker,” tutupnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya