Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Matebus Belingan di Empat Tempat, Simbol Penyucian di Sembiran

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 16 Maret 2022 | 16:15 WIB
HENING : Suasana hening di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Kelian Adat Sembiran Nengah Arijaya. I Putu Mardika/Bali Express.
HENING : Suasana hening di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Kelian Adat Sembiran Nengah Arijaya. I Putu Mardika/Bali Express.
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Matebus Belingan menjadi salah satu ritual di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng untuk mengawali siklus hidup bayi yang masih dalam kandungan. Upacara ini dilaksanakan saat kehamilan memasuki usia bulan kelima dan ketujuh.

Kelian  Adat Sembiran I Nengah Arijaya mengatakan, memang tidak ada catatan pasti tentang upacara Matebus Belingan (ritual untuk orang hamil). Namun, seingatnya, tradisi ini menjadi ritual yang harus dilaksanakan secara turun-temurun. Bahkan, sering dianalogikan seperti ritual Magedong-gedongan di Bali pada umumnya.

Dikatakan Arijaya, diyakini si anak yang belum lahir telah memiliki jiwa, karena kurang lebih pada bulan ketiga kehamilan, jiwa dari seorang leluhur dadya orang tua telah menemukan tempat tinggal di dalam tubuh sang anak.

“Meskipun si anak  yang masih berada dalam kandungan sang ibu dan ibunya lewat upacara ini bisa berperan positif bagi perkembangan sang anak,” paparnya saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group) Selasa (15/3).

Ia menambahkan, lewat ritual Matebus Belingan dapat dimaknai sebagai prosesi menyucikan kehamilan. Ritual ini ditandai dengan melilitkan benang kapas putih pada pergelangan-pergelangan tangan si Ibu. Sehingga diharapkan sang ibu akan dibersihkan dari ketidaksucian supaya sang anak dilahirkan dalam keadaan selamat.

“Upacara ini diharapkan dapat memberikan perkembangan secara normal tanpa cacat, sehingga bayi yang lahir memiliki perawakan yang gagah, sempurna secara fisik dan menyenangkan tanpa kekurangan apapun,” sebutnya.

Arijaya menyebut, salah satu keunikan dari ritual ini adalah yang memimpin upacara ini adalah salah seorang wanita yang sudah dituakan. Baik yang sudah menikah, maupun dalam kondisi janda. Meskipun, si wanita tersebut tidak berasal dari lingkaran keluarga yang hamil.

Matebus Belingan dilangsungkan di empat tempat berbeda. Seperti di Pura Peken, Pura Janggotan, Pura Puseh Duur dan di Padang.

Tahapan pertama upacara ini dilakukan di Pura Peken, yang terletak di area desa, yang secara geografisnya lebih tinggi.
Saat ritual ini dilaksanakan, sang tukang banten umumnya memohon kepada para dewa yaitu I Ratu Gede di Bukit Gunung Agung yang berstana di Rejeng Anyar dan I Ratu Mas Agung Susunan agar sang bayi diberikan umur panjang.

Selanjutnya, upacara berlanjut di Pura Janggotan. Di pura ini memang didominasi oleh susunan batu megalitik. Persembahan ini ditujukan kepada I Ratu Bagus Janggotan, dengan harapan agar si bayi yang dikandung tetap diberikan kesehatan.

Ritual selanjutnya di Pura Puseh Duur.  Yang berstana di Pura ini adalah I Ratu Gede di Duur dan di Padang yang lokasinya di sebelah barat desa.

Di sisi lain, ada pula pemujaan terhadap Dewa Ida Bhatara Sangareka Sangagae selalu rutin dilakukan jika berkaitan dengan ritual manusa yadnya, khususnya bagi anak-anak dan remaja.

Menurut keyakinan masyarakat setempat, juga dikaitkan dengan Tri Murti, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa. Dewa-dewa ini juga diyakini sebagai pelindung dari anak-anak. “Jadi intinya upacara ini secara keseluruhan sebagai bentuk penyucian sang ibu dan anak. Sehingga terlahir anak yang sehat dan suputra,” paparnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#balinese #Simbol Penyucian #Desa Sembiran-Tejakula #hindu #budaya #Matebus Belingan #tradisi #Orang Hamil