di tahun 1980-an Made Sarini saat pentas.
Peran gila adalah peran terberat yang harus dilakoni. Ketika itu ia pentas dengan cerita Narapati. Dikisahkan terdapat dua kerajaan. Salah satu kerajaan dipimpin oleh seorang raja dan ratu. Lantas memiliki seorang putra mahkota. Raja dan ratu itu dikenal santun, arif dan bijaksana.
Kepemimpinannya membuat rakyat sejahtera. Maka raja dan ratu menuai pujian dari rakyat dan petinggi kerajaan lainnya. Tersohornya kebaikan raja dan ratu itu terdengar hingga ke kerajaan lainnya di negeri itu.
Kerajaan itu juga dipimpin oleh seorang raja. Namun sifatnya tidak sama. Raja tersebut diselimuti rasa iri dengki karena pujian. Maka mulailah ia membuat fitnah untuk raja dan ratu yang baik hati.
Suatu malam, patih yang jahat dari kerajaan seberang, memasuki kamar raja. Raja yang saat itu tertidur lelap tidak menyadari jebakan yang dibuat patih. Begitu taktiknya berjalan mulus, dalam tidurnya raja diguna-guna. Sedangkan sang ratu difitnah berselingkuh. Sang patih berpura-pura berteriak di tengah malam, seolah mendapati ratu tengah bercumbu dengan pria lain.
Mengetahui hal itu, raja yang dalam pengaruh guna-guna mengusir ratu. Raja berpaling dan mulai tergila-gila dengan sosok perempuan lain. Ratu yang merasa sakit hati dan tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya menjadi gila.
Kerajaan itu pun hancur. Putra mahkota gagal naik tahta akibat berkurangnya kepercayaan dari petinggi kerajaan melihat fenomena itu. “Paling berat itu perannya jadi gila. Harus betul-betul seperti orang gila. Sambil ketawa, sambil menangis, sambil marah terus makan. Kan susah itu, terus saya coba eh bisa. Itu saat cerita Wanarapati. Itu perannya susah sekali. Harus benar-benar menghayati. Tapi di balik itu semua, senang sekali saya dapat bergabung dengan Drama Gong Puspa Anom. Semua orang segan dengan kelompok drama gong itu pada masanya,” kenangnya.
Percakapan dalam naskah drama hingga kini masih melekat di ingatan Sarini. Ia seakan tak pernah lupa lakon-lakon yang ia perankan. Sesekali saat berbincang dengan Bali Express (Jawa Pos Group) ia melontarkan kalimat percakapan yang ada dalam dialog drama.
Uniknya lagi, semua itu berbahasa Cina. Lidahnya yang lentur tanpa hambatan mengeluarkan kalimat asing tersebut. Sembari tertawa mengenang masa lalunya, Sarini tampak bersemangat. “Tapi kami tetap belajar. Apalagi saat pentas Sampek Intai, kan ada bahasa Cina itu. Tidak boleh salah pengucapannya. Harus benar, karena yang nonton bukan orang Bali saja. Banyak orang pasti. Kalau salah kan malu ya. Masih ingat saya. Wo baba ni cung nai lae artinya bapak mau kemana? Ada itu catatan percakapannya dengan bahasa Cina,” imbuhnya.
Dialog berbahasa Cina yang harus diucapkan atau dipelajarinya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Lupa naskah saat bermain peran sambil menghafal teks juga tak jarang ia alami. Namun Sarini harus tetap tampil maksimal. Improvisasi merupakan keahlian yang harus dikuasai bagi seorang aktor agar pementasan tidak kacau.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya