Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sanggah Kemulan Nganten di Pedawa; Terbuat dari Bambu, Wajib setelah Menikah

I Putu Suyatra • Sabtu, 26 Maret 2022 | 23:33 WIB
SANGGAH: Sanggah Kemulan Nganten di Desa Pedawa. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)
SANGGAH: Sanggah Kemulan Nganten di Desa Pedawa. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)
Setiap laki-laki di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng yang sudah menikah wajib membuat sanggah kemulan baru. Namanya Sanggah Kemulan Nganten, yang diwujudkan dalam rangkaian upacara perkawinan.

BAGI masyarakat Pedawa, Sanggah Kemulan Nganten juga sering disebut dengan sanggah tiing yang berarti tempat pemujaan. Sanggah Kemulan Nganten terbuat dari bambu. Tempat pemujaan ini sebagai simbol dari pembentukan rumah tangga baru dari individu tersebut.

Tokoh adat Pedawa Wayan Sukrata mengatakan, Sanggah Kemulan Nganten di desanya wajib bagi laki-laki yang sudah menikah, baik dengan wanita desa setempat maupun mengambil dari luar desa. Menurut kepercayaan masyarakat di desanya  sebagai simbol purusa dan predana yang tidak dapat dipisahkan.

“Setiap laki-laki yang menikah dengan perempuan dari dalam maupun luar Desa Pedawa harus mendirikan Sanggah Kemulan Nganten dan juga harus ikut ngelinggihang (menempatkan, Red) sungsungan bhatara dari pihak istri dalam Sanggah Kemulan Ngantennya tersebut,” jelasnya.

Dari pihak laki-laki akan nunas atau meminta yos sebagai kawitan lokal yang sesuai dengan sungsungan bhatara dari mempelai perempuan ke anak lingsir atau orang tertua dalam yos pihak laki-laki tersebut maupun nunas ke balian (orang pintar) desa untuk kemudian bisa ngelinggihang (menempatkan) bersama di Sanggah Kemulan Nganten tersebut. “Secara simbolis sungsungan bhatara dari pihak laki-laki dan sungsungan bhatara dari pihak istri menikah di Sanggah Kemulan Nganten tersebut dan kemudian bisa memujanya bersama-sama,” sebutnya.

Sanggah Kemulan Nganten ini sangat sederhana. Semua bahan  terbuat dari bambu. Walaupun zaman sudah berkembang begitu pesat. Namun keberadaan Sanggah Kemulan Nganten ini masih tetap eksis. Sampai saat ini belum ditemukan adanya prasasti atau lontar-lontar mengenai sejarah ataupun mula-mula Sanggah Kemulan Nganten. Masyarakat Desa Pedawa tidak memiliki catatan mengenai sejarah keberadaan Sanggah Kemulan Nganten di desa setempat.

Namun ada cerita mengenai cikal-bakal sampai adanya Sanggah Kemulan Nganten di Desa Pedawa. Dikatakan  Sukrata  berawal dari seseorang mengalami kesakitan. Pada saat merasa kesakitan seseorang tersebut nunas (meminta) petunjuk ke balian.

“Setelah dilihat bahwa seseorang tersebut belum membangun Sanggah Kemulan Nganten, makanya oleh karena itu secara terus-menerus mengalami kesakitan. Setelah membangun Sanggah Kemulan Nganten kesakitan itupun hilang dan hidup keluarga tersebut menjadi harmonis,” ungkap tokoh adat berusia 67 tahun ini.

Masyarakat Desa Pedawa mempercayai konsep ulu-teben. Ulu berarti lebih tinggi, biasanya tempat dibangun tempat suci atau sakral. Teben berarti lebih rendah, biasanya tempat  membuat kandang, jineng, tempat kayu api dan kamar mandi. Pada saat akan mendirikan Sanggah Kemulan Nganten biasanya tempat yang digunakan yaitu bagian ulu karena dianggap lebih suci. Biasanya letak sanggah ini berada di bagian belakang rumah karena posisinya lebih tinggi dari bagian rumah lainnya.

Sanggah Kemulan Nganten dibuat dengan beberapa rangkaian kegiatan. Pertama menyampaikan pemberitahuan kepada balian desa, sekaligus untuk meminta pertimbangan mengenai rong (ruang) apa saja yang akan dilinggihkan (ditempatkan) pada Sanggah Kemulan Nganten. Selanjutnya akan dilakukan penentuan hari baik atau dewasa untuk melaksanakan upacara dalam pembuatannya. Biasanya dipilih saat purnama. “Biasanya hari purnama yang dipilih dan dianggap baik adalah pada saat purnama kapat (keempat) dan punama kedasa (kesepuluh),” sebutnya.

Keluarga kemudian akan mulai mengumpulkan bahan-bahannya. Ketika dewasa ayu itu telah tiba dan siap membangun,  maka akan dilaksanakan upacara ngamputang lis. Pada saat upacara itu ada proses nunas pengrapuhan atau nunsas tirta. Semua tirta ini akan digunakan untuk kelengakapan upacara ngamputang lis. Ketika semua tirta sudah terkumpul maka selanjutnya dilakukan proses pemanyuawang terlebih dahulu.

Pemanyuawang adalah proses awal pada saat baru pertama kali mendirikan Sanggah Kemulan Nganten. Tujuannya membersihkan Sanggah Kemulan Nganten terlebih dahulu,  selanjutnya baru diperbolehkan ngunggahang banten pada setiap rong. Jika proses pemanyuawang sudah selesai baru selanjutnya mulai melaksanakan upacara ngamputang lis. Upacara ini dilaksanakan dengan mantra sesuai dengan banten ngamputang lis yang muput adalah balian desa.

Ketika upacara ngamputang lis sudah selesai, rangkaian selanjutnya adalah ngerapuh, yaitu tirta yang sudah dikumpulkan tersebut dipercikkan ke Sanggah Kemulan Nganten. Kemudian keluarga yang mendirikan Sanggah Kemulan Nganten  sembahyang untuk meminta keharmonisan pada keluarga dan dijauhkan dari kesakitan.

Usai sembahyang, maka rangkaian upacara ngamputang lis sudah selesai. Namun, semua banten-banten yang digunakan akan didiamkan terlebih dahulu atau istilah lokal dalam masyarakat Pedawa yang disebut ngayengan. “Proses ngayengan ini berlangsung selama dupa yang diisikan di Sanggah Kemulan Nganten tersebut habis atau padam, Ketika semua rangkaian sudah dilaksanakan maka Sanggah Kemulan Nganten tersebut sudah dianggap sakral,” katanya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #PEDAWA #hindu #SANGGAH KEMULAN NGANTEN #tradisi unik #buleleng