Berdasarkan penuturan salah seorang pengayah di Pura Campuhan Windhu Segara, Jero Mangku Ketut Kerta Mahardika, untuk melakukan prosesi melukat di pura ini pamedek membawa pejati minimal satu buah, dan juga bungkak nyuh gading. Untuk proses melukat dimulai dari palinggih Brahma, Wisnu, Siwa dengan menggunakan bungkak nyuh gading. Di sana juga wajib menggunakan sarana pejati. “Setelah itu dilanjutkan dengan malukat ke segara atau campuhan yang merupakan pertemuan antara sungai dengan lautan,” ujar Jero Mangku Mahardika.
Lanjutnya, pemedek kemudian melanjutkan pelukatan di beji, dimana di beji ini terdapat tujuh tempat untuk malukat. Di tempat ini, malukat dilakukan dengan arah murwa daksina atau searah jarum jam, dan terakhir di tengah. “Setelah proses tersebut selesai dilanjutkan dengan persembahyangan yang dipimpin oleh pamangku,” paparnya.
Persembahyangan ini dilaksanakan di beji, palinggih Pura Campuhan, dan ke pelinggih Tri Purusa. “Jika pamedek mau melanjutkan persembahyangan bisa juga melakukan di barat pura ini namanya Pura Ratu Niang. Sarananya bisa pejati, atau bisa juga canang,” katanya. Editor : I Putu Suyatra