Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Melihat Tradisi Ngambeng, Tanda Dimulainya Karya Agung di Pura Samuantiga

I Dewa Gede Rastana • Sabtu, 2 April 2022 | 01:43 WIB
NGAMBENG : Anak-anak ngayah ngambeng menerima persembahan sarana upakara dari Krama untuk Pura Samuantiga, rahina Tilem Kedasa, Jumat (1/4). (ISTIMEWA)
NGAMBENG : Anak-anak ngayah ngambeng menerima persembahan sarana upakara dari Krama untuk Pura Samuantiga, rahina Tilem Kedasa, Jumat (1/4). (ISTIMEWA)
GIANYAR, BALI EXPRESS – Karya Padudusan Agung Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, akan berlangsung pada Minggu (17/4), Redite Pon Kulantir. Namun sebelum karya berlangsung, terlebih dahulu dilakukan tradisi Ngambeng sebagai tanda dimulainya karya agung tersebut.

 

Tradisi Ngambeng dilakukan anak-anak Desa Bedulu, pada rahina Tilem Kedasa, Sukra Paing Sinta, Jumat (1/4). Dimana tradisi ini berlangsung selama 9 hari hingga Sabtu (9/4).

 

Bendesa Pura Samuantiga I Gusti Ngurah Made Serana menjelaskan bahwa tradisi Ngambeng digelar sebagai tanda dimulainya rangkaian Karya Padudusan Agung Pura Kahyangan Jagat Samuantiga. Ngambeng menjadi cara yang diwariskan secara turun temurun untuk memberitahu krama pengempon Pura, bahwa segera akan dilaksanakan piodalan ataupun karya agung. “Dalam tradisi ini biasanya lebih banyak melibatkan anak-anak usia sekolah dasar,” ungkapnya.

 

Ditambahkannya jika dalam tradisi ini, anak-anak yang sudah berkumpul akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 2 hingga 12 orang anak.

 

Setelah terbentuk kelompok mereka akan masuk ke rumah-rumah krama yang ada di 5 Desa Pekraman pengempon Pura Samuantiga, kemudian diawali dengan mengucapkan salam Om Swastyastu, maka anak-anak akan mengucapkan ‘Tyang Ngambeng’. “Kedatangan anak-anak pengayah kita ini kemudian direspon krama dengan memberikan persembahan berupa sarana prasarana upakara seikhlasnya. Bisa berupa beras, buah kelapa, janur, buah-buahan dan sarana upakara lain,” paparnya.

 

Persembahan tersebut tentunya diberikan secara tulus ikhlas untuk selanjutnya dihaturkan ke pura melalui pengayah Ngambeng. Namun ada pantangan dalam Ngambeng tersebut, yakni tidak boleh masuk ke rumah krama yang sebelan atau cuntaka, seperti halnya karena ada kematian.

 

Dan krama yang kedatangan anak-anak pengayah ini pantang untuk mengelak atau mengusir anak-anak ini. Terlebih diyakini jika mereka yang memberikan persembahan secara ikhlas akan mendapatkan rezeki.

 

Disamping itu, tradisi Ngambeng juga dilakukan kelompok Yowana dari anggota sekaa teruna pengempon Pura Samuantiga. Ngambeng juga dilakukan oleh pengayah khusus Pura Samuan Tiga yang disebut Parekan bagi kaum laki lakinya dan pengayah Permas sebutan bagi pengayah wanita.

 

Namun bedanya, Ngambeng oleh Parekan maupun Permas ini, lebih mengkhusus untuk mencari bahan upacara tertentu. Misalkan bunga merak untuk menghias dan bungkak atau kelapa muda. Tradisi tersebut tentunya digelar dengan harapan agar karya agung berjalan lancar dan labda karya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#persiapan karya #karya agung #gianyar #tulus ikhlas #tradisi ngambeng #persembahan #pura samuantiga