Keberadaan Pura Agung Manik Batu tak sengaja ditemukan oleh seorang petani yang kini menjadi pamangku di pura setempat, Jro Mangku I Nyoman Dauh. Sebelum beralih menjadi petani, Jro Mangku Dauh saat ditemui didampingi istrinya, Jro Mangku Ni Nyoman Rapen, mengungkapkan bahwa mereka bekerja di bidang perjalanan wisata (travel). Sakit, menjadi alasan banting stir menggarap sawah.
Singkat cerita, pada siang hari, tepatnya Umanis Galungan tahun 2006, Jro Mangku Dauh memanen kacang yang sudah berumur sebulan. Saat hendak dicangkul, pisau cangkulnya membentur batu yang cukup besar. Ia pun menggali batu tersebut. Ternyata ditemukan sebuah pondasi bebaturan padmasana dengan batu bata kuno.
Sontak saja, temuan itu membuatnya kaget, dan memberitahukan hal ini kepada orang yang lewat serta saudaranya. “Saat itu tidak ada yang merespon atas apa yang saya temukan,” tutur Jro Mangku Dauh.
Sore harinya, saat ia hendak sembahyang, terjadi sesuatu hal dinilai di luar nalar. Tiga ekor sapi peliharaannya tiba-tiba mengamuk, bahkan sampai menyerang rumahnya. “Ini aneh, kenapa menyerang rumah, kemudian ada kerabat yang mengatakan jika duwen ida matangi,” sambungnya. Maksudnya, penjaga gaib disebut sudah bangun untuk mengingatkan.
Jro Mangku Dauh mulai menghubungkan kejadian itu dengan temuan pondasi padmasana. Muncul perdebatan dalam dirinya antara mempertahankan rumah karena sapi mengamuk atau pergi ke sawah untuk memohon maaf lantaran penemuan pondasi padmasana. “Akhirnya saya memilih pergi ke sawah bersama saudara yang lain ke tempat penemuan bebaturan itu dan saya langsung memohon ampun,” imbuhnya.
Setelah meminta maaf itu, tiba-tiba ada yang karauhan. Dari sana mendapatkan petunjuk bahwa lokasi tersebut merupakan puri (rumah) Beliau dan Ida ngemit Bethara Sri. “Karena saya pendatang di sini, besoknya saya lapor kejadian yang saya alami ke klian banjar, kepala lingkungan dan pekaseh. Tapi tidak ada respon,” tegasnya.
Seperti berjodoh, beberapa harinya Pekaseh Subak Kerdung datang menemui Jro Mangku Dauh, mengatakan bahwa mimpi didatangi oleh sosok perempuan cantik. Dalam mimpi itu pekaseh mendapat petunjuk agar parahyangan Ida diperbaiki.
“Parahyangan Ida akhirnya diperbaiki sehingga bisa sampai sekarang dan di Umanis Galungan merupakan pujawali di pura ini,” bebernya.
Jro Mangku Dauh menambahkan sesuhunan yang malinggih di Pura Agung Manik Batu adalah Ida Bhatari Sri, Ida Bhatari Uma, Ida Bhatari Ulun Danu, beserta rencang Ida seperti Sang Hyang Gana Pati, palawatan Ida Telek Sakti, Ida Dalem Sidakarya, Ida Dukuh Sakti, Ida Ratu Gede Dalem Nusa, dan Ida Dewi Kwan Im.
Sementara soal nama Pura Agung Manik Batu ini juga diberikan atas dasar pawisik (petunjuk gaib) lewat mimpi. “ Namanyan berisi agung karena memang dari niskala itu nama parahyangan Ida. Di sekala, parahyangan Ida memang alit (kecil), tapi namanya besar sekali (agung),” jelasnya.
Kini, banyak orang malukat (ritual membersihkan diri) di Pura Agung Manik Batu. Bukan hanya yang beragama Hindu saja, agama lain juga ada. Untuk prosesi malukat, pamedek bisa membawa dua banten pajati, bungkak nyuh gadang dan bungkak nyuh gading.
Pertama proses malukat dilakukan di tiga pancoran yang berada di bawah pohon ketapang (di beji sebelah timur pura). Setelah itu malukat geni dengan makna untuk pengeleburan bhuana alit. Kemudian setelah itu di Lembu Putih. “Tapi karena Lembu Putih itu sudah lebar, Ida memberi pawisik untuk dibuatkan Lingga Yoni dan Lembu Putih kapendem di bawah Lingga Yoni tersebut,” tandas Jro Mangku Dauh.
Pria berusia 66 tahun ini menyebutkan, banyak yang sudah merasakan dampaknya usai malukat di pura itu. Sempat ada orang lumpuh bisa berjalan lagi setelah malukat di sana. “Dari penjuru Bali ada yang datang ke sini. Selain dari mulut ke mulut, ada juga datang karena pawisik dan petunjuk lainnya. Selain itu, warga di luar Hindu juga banyak yang datang kesini tanpa paksaan dan murni keinginan mereka sendiri,” terangnya.
Sejauh ini banyak terjadi sesuatu hal di luar nalar dan cerita mistis di pura itu. Jro Mangku Nyoman Rapen menceritakan pernah melihat dengan jelas dan kasat mata rencang Ida malancaran.
“Saat sandikala, saya melihat dengan jelas di depan mata ada hewan persis seperti naga, berwarna hitam, terdapat kaki dan di bagian ekornya ada lonceng. Ukurannya memang kecil, tapi tidak mungkin ada hewan seperti itu pada umumnya. Ini saya lihat dengan jelas di depan mata,” tutur Jro Mangku Rapen.
Kemudian dirinya juga kerap melihat sinar muncul dari pohon Ketapang dan pernah melihat sosok orang tua dengan jenggot putih serta pakaian serba putih. “Sosok tersebut saya lihat bersama anak kandung saya di jeroan (utama mandala), bahkan anak saya sampai pingsan melihat Beliau,” paparnya.
Kadang juga, Jro Mangku Rapen bersemedi di bawah pohon Ketapang saat hari-hari tertentu. Dengan posisi tertidur, seperti melayang di awang-awang, terasa diterbangkan. “Sering sekali, bahkan yang memiliki ilmu spiritual melihat pura ini seperti kolam besar dengan banyak ditumbuhi bunga tunjung,” tandasnya.
Pura Agung Manik Batu termasuk pura umum. Sampai sekarang tidak ada pangempon khusus di pura yang berada di areal Subak Kerdung, Banjar Pitik, Desa Pedungan, Denpasar Selatan ini.
Jro Mangku Dauh yang menemukan pondasi bebaturan awal kawasan suci ini mengatakan, upakara dan kegiatan lain di pura semua atas dasar tulus ikhlas dari pamedek (umat yang datang sembahyang). Semua dilakukan atas dasar rasa, tidak ada yang memaksa.
“Jadi, tidak ada pangempon secara khusus. Siapa yang datang, mereka ngayah disini. Punia dan apapun itu, semuanya dari pamedek yang datang dan saya selaku pangayah disini sama sekali tidak ada istilah iuran wajib atau sebagainya,” bebernya.
Meskipun tanpa pangempon (bertanggung jawab khusus), namun sering ada masolah (pentas) Tari Rejang Dewa. Biasanya pada Purnama, Tilem maupun Kajeng Kliwon. Penarinya adalah pamedek. Tanpa diminta, ada saja pamedek yang tangkil di hari itu dan masolah, berapapun jumlah yang tangkil.
“Di pura ini terdapat puluhan gelungan Rejang Dewa yang gelungannya saya ngulat (menganyam) sendiri. Berbahan dasar janur dan ditambahkan ornamen hiasan dan bunga-bunga,” tuturnya. (dip)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya