Letak Pura Ulun Danu Batur memang sangat strategis. Posisinya berada di pinggir jalan raya Kintamani-Singaraja. Pamedek yang nangkil tentu berasal dari berbagai pelosok Bali, bahkan nusantara.
Pura ini dikelilingi oleh tiga dinding yang kokoh dan terbagi menjadi tri mandala, yakni nista mandala (jabaan) harus melalui gerbang utama yang terbelah dua (Candi Bentar). Memasuki halaman kedua atau madya mandala (tengah) harus melewati gerbang yang lebih kecil (Paduraksa) yang ramping dan indah.
Memasuki halaman ketiga, utama mandala yang merupakan pelataran yang paling suci, harus melewati gerbang utama berupa Gelung Kori Agung yang besar, lancip, dan tinggi.
Kemegahan Pura Ulun Danu Batur begitu terlihat di utama mandala. Mitos-mitos tentang Gunung Batur dan Danau Batur yang berkaitan erat dengan Pura Ulun Danu Batur sejalan dengan teologi Siwaistis.
Dalam kaitannya dengan Gunung Agung, maka Gunung Agung diyakini sebagai purusa, sedangkan Gunung Batur adalah pradana-nya. Dalam kaitannya dengan Danau Batur, maka Gunung Batur adalah purusa, sedangkan Danau Batur adalah pradana-nya.
Jro Panyarikan Duuran Batur kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan, Pura Batur pada mulanya bernama Pura Tampurhyang yang terletak di lembah kaldera Gunung Batur sebelah barat daya.
Pura Tampurhyang atau Pura Batur yang dimaksud sesungguhnya merupakan sebuah kompleks pura yang terdiri atas sebelas buah pura (11 palebahan) sebagai satu kesatuan. Diantaranya Pura Jati, Pura Tirtha Bungkah, Pura Thirta Mas Mempeh, Pura Taman Sari, Pura Sampian Wangi, Pura Gunarali, Pura Padangsila, Pura Jaba Kuta, Pura Batu Sepit atau Pura Batu Rupit, Pura Pelisan, dan Pura Pasar Agung.
Namun, dengan terjadinya letusan besar pada tahun 1926, maka terjadi pengungsian besar-besaran dari Desa Sinarata menuju Desa Bayung Gede untuk sementara waktu. Setelah itu, warga desa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi oleh pemerintah Hindia-Belanda dan mereka membangun kembali pura itu di tempat baru yang disebut Kalangan Anyar atau Kalanganyar yang sekarang disebut dengan nama Desa Batur.
“Pura Batur yang kita kenal sekarang itu akhirnya dibangun kembali pada tahun 1928 pasca erupsi. Masih ada dokumentasinya,” katanya.
Ia mengatakan, ada sejumlah lontar yang menceritakan asal mula Pura Batur. Diantaranya Widhi Sastra, Kusuma Dewa, Usana Bali, Candi Supralingga Bhuwana, Raja Purana Pura Ulun Danu Batur, Utara Kanda Purana Bangsul, Babad Patisora, dan Babad Pasek Kayu Selem.
Lontar-lontar tersebut pada umumnya menceritakan keterkaitan antara Gunung Batur, Danau Batur, Pura Ulun Danu Batur, dan Desa Pakraman Batur.
Bersamaan dengan pindahnya penduduk Desa Sinarata ke Kalanganyar (Desa Batur sekarang), penduduk membangun kembali Pura Batur yang disebut dengan nama Pura Ulun Danu Batur sekarang.
Secara struktur, Pura Penataran Agung Batur merupakan pura induk karena di sini terdapat beberapa palinggih utama. Yaitu Meru tumpang solas (sebelas), tempat memuja Ida Bhatari Dewi Danu yang sering disebut Ida Bhatari Ulun Danu.
Meru tumpang sia (sembilan) ada 3 buah, sebagai tempat memuja Ida Bhatara Sesuhunan Sakti Ngambel Jagat, Ida Bhatara Gede Agung, dan Ida Bhatara Dalem Waturenggong.
Menurut Raja Purana Ulun Danu Pura Batur, bahwa semestinya ada 6 buah Meru tumpeng sia, tetapi tiga di antaranya belum dibangun, yaitu tempat memuja Ida Bhatara Gede Bedauh, Ida Ratu Ngurah Balingkang, dan Ida Ratu Gede Gurun.
Meru tumpang pitu ada dua, yaitu tempat memuja Ida Ratu Ayu Manik Astagina, merupakan amongan (beban tanggungan) Puri Mengwi dan sebuah lagi merupakan amongan Puri Nyalian.
Meru tumpeng lima ada satu buah, merupakan amongan dari Puri Blahbatuh. Meru tumpang tiga ada tiga buah semuanya menjadi amongan Desa Pakraman Tejakula, Kabupaten Buleleng. Satu buah Gedong tempat memuja Ida Ratu Ayu Subandar.
Pasamuhan Agung yang berupa gedong tinggi, merupakan tempat pratima (perwujudan) Ida Bhatara-bhatari disthanakan pada waktu diselenggarakan upacara besar, seperti Ngusaba Kedasa, Panca Wali Krama, dan sebagainya. Sebuah Meru Tumpang Telu tempat memuja Ida Ratu Ayu Kentel Gumi.
Dikatakan Jro Panyarikan Duuran Batur, pangempon utama Pura Ulun Danu Batur adalah masyarakat Desa Adat Batur yang terdiri atas Desa Dinas Batur Utara, Batur Tengah, dan Batur Selatan.
Akan tetapi, mengingat Pura Ulun Danu Batur memiliki keterkaitan sejarah dengan berbagai kelompok masyarakat, seperti puri, subak, dan desa adat, maka setiap kelompok tersebut juga memiliki kewajiban untuk ngamong bagian tertentu dari Pura Ulun Danu Batur, baik pura palebahan maupun palinggih.
“Sistem amongan ini terutama muncul dalam pelaksanaan upacara keagamaan, seperti pujawali atau aci-aci lainnya yang dilaksanakan di Pura Ulun Danu Batur,” sebutnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya