Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Motif Tertentu Kain Gringsing Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 12 Mei 2022 | 13:29 WIB
WARNA : Kelian Ada Tenganan Pegringsingan Putu Yudiana (kiri) menunjukkan pewarna alami dari bakbakan kepundung untuk kain Gringsing. I Putu Mardika/Bali Express
WARNA : Kelian Ada Tenganan Pegringsingan Putu Yudiana (kiri) menunjukkan pewarna alami dari bakbakan kepundung untuk kain Gringsing. I Putu Mardika/Bali Express
AMLAPURA, BALI EXPRESS - Ada yang unik dalam karakter kain Gringsing Tenganan, Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem ini. Semakin lama usianya maka kualitas warna yang muncul dari kain ini semakin hidup dan metaksu. Namun, tata cara penyimpanan dan penggunaan juga sangat menentukan keawetan dari kain sakral ini.

Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Yudiana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, kain yang masih dianggap baru itu adalah usia antara 0-30 tahun. Sedangkan yang menengah mencapai 35-80 tahun. Nah, yang dianggap sudah tua usianya di kisaran 90 sampai ratusan tahun.

“Sudah pasti harga juga mengikuti. Semakin baru harganya makin murah, makin tua usianya semakin mahal,” paparnya.

Sebut saja kain yang usianya masih baru. Harganya cukup bervariasi. Untuk ukuran kecil kisaranya di harga Rp 800.000 hingga Rp 1 juta. Ukuran petang likur mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 4,5 juta. Sedangkan yang petang dasa selembar kain ini bisa tembus di kisaran Rp 8 juta hingga Rp 9 juta. Kalau wayang bahkan harganya Rp 15-20 juta.

“Kita berbicara grade yang masih baru. Kalau usianya tua, biasanya harganya tembus ratusan juta,” sebutnya. Kenapa semakin lama semakin mahal? Dikatakan Yudiana karena kain Gringsing pakai pewarna alami. Semakin lama, itu semakin bagus warnanya. Kualitas benangnya tergantung penyimpanan. Maka dari itu harus disimpan dengan baik.

“Yang penting menyimpannya bagus, karena Gringsing paling takut dengan jamur. Kalau dicuci, bisa, tapi jangan pakai detergen. Yang bagus cuci pakai air hujan,” pesannya.

Disinggung terkait prosesi ritual saat pembuatan kain Gringsing, Yudiana tak menampik hal itu dilakukan. Tujuannya untuk menjaga taksu dan kesakralan kain tersebut, mengingat menjadi sarana ritual.

Misalnya mulai persembahyangan, minimal mencari hari baik saat proses pembuatan. Ada persembahan khusus. Bahkan, kalau perajin sedang datang bulan (menstruasi) maka pantang bagi mereka melakukan aktivitas membuat kain ini maupun mengambil benang.

Jika ada kematian di lingkungan desa adat, pekerjaan menenun juga kerap dihentikan. Karena ada cemer secara spiritual (keletehan).

Pekerjaan menenun dimulai lagi jika sudah lewat 12 hari diselenggarakan upacara pembersihan spiritual (mekelud biji).

Begitu juga dalam motif-motif tenun dengan konsep mitos dari Dewa Indra yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, seperti motif awan, bintang, bulan, binatang malam dan sejenisnya.

Di Tenganan, ada beberapa upacara yang wajib menggunakan Gringsing. Seperti digunakan Nyangjangan, Rejang Nyandang Kebo, wajib menggunakan Gringsing. Ada pula upacara Metruna nyoman, medeha yang menggunakan kain sakral ini. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #Sembuhkan penyakit #Tenganan Pegringsingan #adat #Simbol Keseimbangan #Cenderamata #hindu #Kain Gringsing