Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Yudiana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengaku saat ini justru jumlah perajin semakin banyak.
Wanita Tenganan, sebut Yudiana, sebagian besar terlibat dalam proses produksi kain ini. “Memang di Tenganan tidak semua rumah membuat. Tetapi mereka pecah sesuai dengan keahliannya. Misal ada yang sebagai penenun, sebagai pewarna, pembuat motif. Saat ini ada sekitar 20-25 perajin. Produksi mereka bertahap,” ungkapnya.
Karena dianggap sangat ikonik, kain inipun dijadikan sebagai cendera mata (souvenir) untuk peserta Presidensi G-20 yang akan datang. Hal ini bermula saat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Menparekraf RI), Sandiaga Uno bertandang ke Desa Tenganan Pegringsingan. Ia selanjutnya memesan 120 lembar kain untuk souvenir G-20. Jenisnya yang paling kecil, rata-rata lebar 22 dan panjang 120 cm.
“Kami sedang proses menyiapkan kain ini untuk souvenir. Semua warga diminta satu-satu menyumbangkan karyanya. Jadi tidak ditangani secara global, melainkan kolektif. Tetapi ada kurasi atau mengecek kualitasnya. Kami sudah membentuk tim yang akan mengecek. Gringsing dilihat dari warna dan kerapian tenun. Apalagi dijadikan souvenir di seluruh dunia,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya