Pekaseh Subak Dalem Uma, I Ketut Suarsa menjelaskan bahwa ritual Ngemping dilakukan sebelum para petani mulai menggarap lahan untuk memasuki musim tanam padi. “Jadi sebelum petani mulai numbeg, mulai membajak sawahnya, itu akan digelar ritual Ngemping. Sebelum itu tidak boleh melakukan apa-apa dulu di sawah,” ungkapnya.
Ritual Ngemping sendiri merupakan ritual Mapag Toya yang dilakukan di sejumlah subak di Desa Tegallalang. Dan ritual tersebut sudah menjadi tradisi para leluhurnya sejak dahulu kala sehingga kini pihaknya hanya meneruskan sebagaimana yang sudah berjalan sebelumnya.
Sejatinya tradisi ini tidak hanya dilakukan di Subak Dalem Uma saja, namun juga di Subak Langkih, Subak Sukabayu, Subak Teluh Ayah dan Subak Keraman. “Di desa kami ada lima subak, jadi kelima subak ini bergilir setiap tahun menghaturkan piodalan di pura-pura yang ada di wewidangan subak ada Pura Masceti, Pura Dugul Empelan, Pura Dugul Ulun Suwi dan Pura Bukit Sari,” paparnya.
Biasanya ritual Ngemping dilakukan saat Kajeng Umanis usai Purnama Kedasa. Adapun rentetan ritual Ngemping tersebut diawali dengan melakukan ritual di bendungan Dauh Pujung dengan menghaturkan banten dan pencaruan serta di Pura Dugul dengan banten bebangkit. Setelah mendapatkan tirta maka tirta tersebut dipercikkan di sawah para petani dan para petani menghaturkan banten berisi emping di sawah masing-masing.
“Setelah upacara itu selesai, maka petani bisa mulai bekerja di sawahnya. Membajak sawah, kemudian mempersiapkan menanam padi. Dan kurang lebih 42 hari setelah Ngemping ada lagu ritual namanya Mewiwit yaitu para petani nunas pekuluh atau tirta ke Pura Duur Bingin. Dulu disana pernah tumbuh beras injin yang kemudian diberikan kepada para petani untuk ditabur di sawahnya agar sawah subur. Setelah itu selesai baru petani mulai nandur,” beber Suarsa.
Dengan ritual tersebut pihaknya berharap tanaman padi yang ditanam petani dapat tumbuh dengan subur sehingga memberikan hasil panen yang maksimal. “Astungkara sampai hari ini tetap je hasilnya 7,5 ton sampai 8 ton per hektar, tapi memang pernah diserang hama tikus tapi tidak pernah ada gangguan yang serius,” tuturnya.
Nantinya setelah padi yang tanam berumur 42 hari, pihaknya pun akan kembali menggelar ritual di Pura Masceti kemudian di Pura Dugul dengan bebantenan bangkit, bebek blang kalung dan anjing blang bungkem.
Setelah itu, Purnama Kedasa tiba maka akan berlangsung piodalan ageng di Pura Masceti. Dimana piodalan yang berlangsung selama 3 hari tersebut akan diisi dengan nunas tirta ke Apuh, Batur, Besakih dan Sakenan. “Sehingga saat Nyineb tirta itu dibagikan kepada petani untuk dipercikan ke sawah masing-masing diisi beras kuning agar hasil panen maksimal. Dan nanti mendekati panen itu ada Ngusaba mendak ke Pura Bukit Sari,”tandasnya.
Salah seorang petani, I Ketut Sulata alamat Banjar Tegak, Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar menuturkan jika ritual Ngemping tersebut ia mulai sekitar pukul 13.00 WITA dan diawali dengan nunas tirta ke Pura. Tirta itu lah yang selanjutnya digunakan untuk menghaturkan banten di sawahnya. “Setelah itu baru kita menghaturkan banten di carik (sawah), bantennya berupa tulung, nasi cacah, ada kuangen dengan bunga pucuk putih sesuai pengider-ider. Nah di banten itu diisi emping (terbuat dari padi yang di sangrai seperti popcorn) sehingga ritual ini disebut Ngemping,” paparnya. Editor : I Dewa Gede Rastana